[OPINI] MENYOROTI SISI GELAP RANTAI NILAI GLOBAL INDUSTRI SANDANG

Oleh: Angga Dwiartama


Sandang, Pangan, dan Peradaban

Di awal tulisan ini saya ingin menegaskan bahwa saya bukan pakar di bidang fashion dan industri pertekstilan. Tulisan-tulisan saya, termasuk di Pro:Aktif Online, banyak berkutat di bidang pertanian dan pangan. Satu hal yang awalnya saya pikir sama antara pangan dan sandang adalah bahwa keduanya berangkat dari hasil bumi, sehingga saya bisa sedikit banyak bercerita tentang sejauh mana peradaban manusia telah mendorong pertanian dunia untuk menghasilkan kedua hal ini. Meskipun demikian, saat saya mencoba menelusuri lebih dalam tentang bagaimana dunia saat ini menghasilkan pakaian, perbedaan antara pangan global dan sandang global makin lama makin saru. Bahwa di tengah keglamoran dunia fashion ataupun industri makanan, tersembunyi sisi gelap yang melibatkan berbagai bentuk pengerukan, perusakan dan pencerabutan lingkungan hidup dan masyarakat dari akarnya. Kalau para pemerhati masalah pangan melihat film dokumenter Food, Inc.(2008) sebagai ikon kritik terhadap industri pangan modern, saya menyarankan teman-teman menonton The True Cost (2015) yang menjadi ikon kritik terhadap industri sandang modern.

Poster The True Cost

Di dalam beberapa paragraf ke depan, saya akan mencoba merefleksikan hasil bacaan saya tentang industri sandang global, sambil sesekali mengunjungi beberapa temuan saya di industri pangan global. Seperti di tulisan saya yang lain tentang pangan (misal: link ke Pangan dalam Cengkeraman Kapitalisme dan Pangan sebagai Politik yang Menubuh), semoga akhir tulisan ini bisa sedikit mencerahkan.

Saya mulai cerita ini dari zaman dahulu kala. Sandang maupun pangan berperan besar di dalam pembangunan peradaban masyarakat. Di saat manusia prasejarah berburu dan meramu untuk memperoleh pangan, mereka juga mengembangkan pakaian untuk menghangatkan badan mereka. Kulit hewan dan serat tumbuhan dipintal secara sederhana menjadi kain pelindung tubuh. Saat produksi pangan ditopang oleh pertanian fase awal, demikian halnya dengan sandang. Serat dari tanaman-tanaman seperti kapas, kapuk, rami, dan linen mulai diolah menjadi lembar-lembar pakaian sederhana. Pakaian juga dihasilkan dari bahan baku yang berasal dari hewan seperti wol dan sutera[1].

Di sisi lain, pertanian yang lebih kompleks dan rumit menghasilkan pakaian yang lebih mahal dan berkelas. Pakaian para dewa dan raja-raja, sebagai contoh, dipintal dari sutera alam yang halus, yang proses produksinya membutuhkan keahlian dan ketekunan tingkat tinggi. Tidak banyak pengrajin yang bisa menghasilkan kain sekelas sutera. Di titik ini, produksi yang terkonsentrasi di wilayah yang peradabannya maju seperti China (sutera), India (katun) dan Eropa (linen)serta permintaan yang kian tinggi dari penjuru dunia menjadi pondasi dibangunnya industri sandang dalam skala global. Jalur sutera, orang-orang bilang, adalah jejak nyata sandang di dalam peradaban manusia. Hal ini sejalan dengan perdagangan komoditas pangan mewah seperti rempah-rempah, kopi, teh, kakao dan gula dari pengrajin di Asia, Afrika dan Amerika Latin untuk raja-raja di Eropa dan Timur Tengah. Sandang, seperti pangan, memiliki fungsi pelengkap, tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar manusia, tetapi juga menjadi simbol identitas kelas.

Fase ini di dalam cerita peradaban manusia tentunya belum seberapa gelap ketimbang saat revolusi industri mulai menggeliat di abad ke-18. Kolonialisme yang dibangun di atas pengerukan sumberdaya pertanian diperparah dengan upaya untuk mentransformasi sumberdaya ini secara massal dan cepat. Apabila pemintal benang dan perajut kain dulu dikenal sebagai artisan berketerampilan tinggi, mesin-mesin industri saat itu mampu menggantikan produksi kain secara lebih cepat, lebih seragam dan lebih efisien. Peran manusia direduksi menjadi sekedar tenaga kerja. Hal ini berlaku baik untuk pangan maupun sandang. Kolonialisme dan revolusi industri (yang nantinya juga diikuti dengan revolusi hijau) meninggalkan petani dan pekerja tercerabut dari identitas unik mereka. Petani gurem, buruh murah, mereka adalah kolateral dari efisiensi produksi. Mereka menjadi tergantikan, dispensable.

Industri Sandang Global dan Fast-Fashion
Maka sampailah kita ke wajah industri sandang di dunia modern ini. Di depan mata, nama-nama seperti GAP, CJ Penney, Marks & Spencer jamak dilihat sebagai brand-brand besar yang menjual pakaian dengan harga premium. Apa yang menyebabkan mereka bisa menguasai industri fashion global? Apakah teknologi yang mumpuni? Ataukah asset produksi yang besar dengan mesin-mesin yang efisien? Sebelum menjawab ini, kita perlu melihat dua bentuk rantai nilai global di dalam industri modern kita. Gary Gereffi[i], seorang sosiolog dari Amerika Serikat, menjelaskan bahwa ada industri yang didorong oleh produsen, dan industri yang didorong oleh pembeli. Industri yang didorong oleh produsen mengandalkan kehandalan teknologi dan asset produksi yang pada akhirnya membangun pasar. Di sisi lain, industri seperti pakaian tidak membutuhkan inovasi teknologi yang tinggi. Perusahaan-perusahaan ternama yang saya sebutkan di atas bahkan tidak memiliki asset produksi. Mereka mengedepankan aspek marketing, jalur ritel, ide desain fashion dan nilai jual brand untuk menjamin penangkapan rantai nilai sebesar mungkin di rantai industri globalnya. Laiknya industri pangan global yang dicirikan oleh makanan siap saji (fast food), industri sandang global dicirikan oleh pakaian siap saji (fast fashion) -- industri yang mengedepankan pergantian mode yang cepat dan, konsekuensinya, alur produksi yang cepat pula.

Wajar kiranya apabila dibalik hingar bingar industri pakaian siap saji ini, di saat dunia fashion dan retailer mengambil porsi nilai terbesar, para petani, buruh pabrik dan pengusaha tekstil berebut nilai tambah dari sisa-sisa yang ada -- aktivitas yang tidak jarang mengorbankan lingkungan hidup dan masyarakat lokal. Dalam banyak tulisan[ii], industri tekstil digadang sebagai penyumbang pencemaran lingkungan kedua terbesar di dunia setelah industri minyak bumi. Ini yang disebut dengan perlombaan menuju dasar (race to the bottom) di dunia bisnis. Hal ini mengawali bagaimana kita membongkar sisi gelap dari industri apparel (pakaian) dunia[iii], sambil kita coba runut mata rantai demi mata rantai.

Rantai nilai industry apparel

Jeratan Hutang di Sektor Pertanian Kapas
Cerita gelap industri sandang dimulai dari hulu, di bentangan lahan pertanian di pusat-pusat produksi bahan baku tekstil dunia. Saya ingin mengangkat satu komoditas pertanian yang menjadi bahan baku utama kain dunia: katun, yang terbuat dari tumbuhan bernama kapas (Gossypium spp.). China adalah penghasil kapas terbesar, disusul oleh India dan Amerika serikat. Ketika China diuntungkan oleh pertumbuhan ekonomi yang pesat dan produksi pertanian massal, India memiliki cerita yang berbeda. Pertanian kapas di India memiliki sejarah  panjang dari 5000 tahun yang lalu di lembah sungai Indus, dan dari sana industri katun berkembang di dunia. Semua berjalan baik hingga masa kolonialisme di mana kerajaan Inggris menerapkan politik dagang yang ketat terhadap katun di India. Sejak saat itu, sekalipun industri katun di India berkembang baik, kesejahteraan petani semakin menurun. Buku A Frayed History: The Journey of Cotton in India tulisan Meena Menon dan Uzramma menceritakan secara gamblang tentang perjalanan getir ini.

Untuk mengilustrasikan ini lebih jauh, coba teman-teman cari di Google menggunakan kata kunci ‘farmer’s suicide’, dan berita pertama yang keluar adalah kisah tentang para petani kapas di India. Sejak tahun 1995, telah ada lebih dari 200.000 kasus bunuh diri petani. Menurut artikel yang ditulis di kantor berita CNN[iv], ada 2-3 orang petani di India yang bunuh diri setiap harinya! Keterjeratan para petani dengan hutang adalah penyebab utamanya. Iklim muson sangat berpengaruh terhadap produksi kapas, disertai rentannya kapas akan hama yang menuntut penggunaan pestisida besar-besaran. Saat cuaca tidak bersahabat, produksi kapas bisa hancur seketika. Di sisi lain, saat produksi membaik, harga kapas seringkali anjlok di bawah harga dasar bagi petani. Pengenalan kapas transgenik, yang semula diharapkan memberi solusi, justru memperburuk keadaan karena petani semakin terikat oleh harga bibit kapas transgenik dan hama ulat buah yang mulai menunjukkan resistensi, sebagaimana dilansir kantor berita The Guardian[v].

Merefleksikan fenomena ini pada produksi pangan dunia, cerita petani India dan kapas adalah kisah klasik petani yang bergantung pada komoditas global. Di Indonesia, cerita ini jamak didengar untuk komoditas seperti kopi, kakao, karet, pala atau cengkeh, yang harganya mengikuti harga internasional, sehingga para petani bergantung pada pasar yang berada di luar jangkauan mereka, dan  mereka tidak bisa mengkonsumsi produk itu sendiri. Hasil akhirnya adalah keadaan di mana para petani menjadi price-taker dan sangat rentan terhadap berbagai faktor di luar kuasa mereka. Hal yang sama juga bisa kita lihat pada para buruh di pabrik-pabrik tekstil.

Perlombaan ke Dasar di Industri Tekstil dan Konveksi
Kini kita bergeser ke bagian tengah dari rantai industri sandang. Industri tekstil menerima kapas, wol, linen atau kepompong sutera dari para petani, memintalnya menjadi benang, menenun dan mewarnainya menjadi kain siap olah. Industri konveksi kemudian memola, memotong, menjahit dan menyablon kain ini menjadi pakaian siap pakai. Di sepanjang proses ini, industri menekan biaya produksi hingga serendah-rendahnya atas dasar efisiensi. Bahan baku ditarik dari pusat-pusat produksi yang paling efisien (atau yang mau menawarkan harga paling murah), dan oleh karena itu menyebabkan banyak petani menjadi korban. Semi-mekanisasi produksi membutuhkan tenaga kerja tanpa keterampilan khusus (buruh pabrik) yang dapat dibayar semurah mungkin. Studi Gereffi tentang industri sandang global menunjukkan bahwa manufaktur tekstil dan konveksi akan cenderung mengarah pada negara-negara yang dapat menawarkan harga tenaga kerja termurah. Alhasil, industri pakaian di Jepang, China dan Korea meng-outsource-kan produksinya ke India, Bangladesh, dan negara-negara Asia tenggara (termasuk Indonesia), industri Eropa ke Afrika, dan  Amerika Serikat dan Kanada ke Amerika Latin. Saat undang-undang ketenagakerjaan di negara-negara tersebut diperketat, perusahaan akan bereaksi dengan memindahkan pabriknya ke negara lain.

Banyak tulisan telah menunjukkan bahwa race to the bottom untuk tenaga kerja di industri tekstil dan konveksi telah banyak memakan korban. Kebakaran besar di pabrik garmen di Amerika Serikat sekira satu abad yang lalu yang menewaskan lebih dari 100 pekerja menjadi catatan sejarah kelam. Satu abad kemudian, kejadian serupa terjadi di Rana Plaza di Bangladesh di mana runtuhnya bangunan pabrik menewaskan lebih dari 1000 pekerja (10 kali lipat dari kejadian di AS). Polanya serupa. Pengusaha tidak memerhatikan kondisi bangunan dan keselamatan pekerja demi mengejar keuntungan. Kejadian di Rana Plaza tahun 2013 lampau membukakan mata banyak orang tentang kondisi kerja dan kesejahteraan para buruh pabrik di banyak negara-negara berkembang di mana industri tekstil dan konveksi bertahan. Belum lagi apabila kita hitung segala dampak dari limbah bahan-bahan kimia yang digunakan sebagai pemutih, pewarna, dan enzim untuk tekstil atau pewarna sablon yang dibuang ke badan sungai di banyak tempat, termasuk di sekitar Bandung.

Tanggung Jawab Konsumen di Ujung Rantai
Baik pertanian serat maupun industri garmen mungkin bisa disalahkan di balik segala kerusakan lingkungan dan eksploitasi buruh di negara-negara berkembang di dunia. Akan tetapi, kita sebagai konsumen memiliki andil yang sama besarnya. Perlombaan menuju dasar di dalam industri sandang bersumber dari pola hidup masyarakat yang serba cepat dan murah. Ada harga yang mahal di balik pakaian murah yang kita beli di pasar. Meskipun demikian, pakaian mahal juga tidak menjamin bahwa produk yang kita beli lebih berkelanjutan. Retailer dan industri fashion mengambil nilai sangat banyak dari tren dan mode tanpa mengindahkan para pelaku usaha di bagian hulu mereka. Jadi, harga mahal yang kita bayarkan mungkin tidak pernah kembali kepada para petani dan buruh pabrik. Lebih parah lagi, fashion yang cepat berganti berimplikasi pada perputaran barang yang semakin cepat pula. Ujung dari rantai industri ini adalah tempat pembuangan sampah akhir yang dipenuhi oleh bergulung-gulung pakaian-pakaian bekas yang bisa jadi masih layak pakai. Semua mungkin hanya karena tren mode tahun ini sudah berbeda dengan apa yang in tahun lalu.

Menjadi konsumen pakaian yang bertanggung jawab di Indonesia, di masa sekarang, memang lebih sulit ketimbang menjadi konsumen pangan yang bertanggung jawab. Dalam hal pangan, kita selalu bisa mulai dari tanaman di pekarangan kita sendiri, atau membeli produk-produk dari petani lokal. Tapi bagaimana dengan pakaian? Apakah membeli baju dari toko di sebelah rumah berarti bahwa kita telah membantu memutus mata rantai industri sandang global? Atau apakah kita perlu memintal benang dan menenun kain sendiri agar bisa lebih berkelanjutan? Tentunya tidak semudah itu pula.

Menjadi konsumen pakaian yang bertanggung jawab membutuhkan beberapa pengorbanan kecil. Hal ini dimulai dengan menyadari bahwa kita tidak membutuhkan pakaian sebanyak itu. Selain itu, berbeda dengan pangan yang bersifat perishable, kita bisa memilih pakaian yang lebih tahan lama bagi kita. Memilih pakaian yang sedikit lebih mahal karena daya tahannya jelas lebih baik daripada memilih pakaian yang murah tetapi cepat sekali rusak -- tidak hanya karena kita menghasilkan lebih sedikit limbah, tetapi juga karena kita mungkin membayar lebih besar bagi para pelaku di tingkat hulu. Ini juga jelas lebih baik ketimbang memilih pakaian mahal karena mode, penjahit atau brand-nya.  Apabila kita mau dan mampu, mulai banyak pakaian-pakaian berlabel hijau (eco-fashion) yang dijual di pasaran. Tetapi seandainya pun harganya tidak terjangkau, kita bisa lebih bertanggung jawab dengan apa yang kita punya -- kurangi konsumsi kita, dan perlama pemakaian pakaian kita.


[1]Minyak bumi datang belakangan, menghasilkan produk serat sintetik seperti polyester, nilon, dan spandex.



Rujukan
[i]Gereffi, G. (1999). International trade and industrial upgrading in the apparel commodity chain. Journal of international economics48(1), 37-70.
[ii] Salah satu tulisan tentang kontribusi industri tekstil terhadap pencemaran lingkungan dapat dilihat di https://www.alternet.org/environment/its-second-dirtiest-thing-world-and-youre-wearing-it
[iii]Gereffi, G., & Memedovic, O. (2003). The global apparel value chain: What prospects for upgrading by developing countries(pp. 5-6). Vienna: United Nations Industrial Development Organization.

[TIPS] POPOK PAKAI ULANG – SEHAT, HEMAT BIAYA, DAN RAMAH LINGKUNGAN

Oleh: Any Sulistyowati


Memiliki bayi pada zaman sekarang ini membutuhkan upaya yang tidak kecil. Semua itu ditujukan agar segala kebutuhan bayi terpenuhi dan bayi dapat tumbuh sehat dan bahagia. Salah satu kebutuhan pokok bayi adalah pakaian. Dan jenis pakaian yang paling banyak dibutuhkan adalah popok. Pada zaman saya kecil, ibu saya menggunakan popok kain. Popok ini terbuat dari kain katun segiempat dengan tali di kedua ujungnya. Ketika dipakai tinggal diikatkan di perut bayi. Popok ini sangat fleksibel karena bisa digunakan dari bayi lahir sampai agar besar, sampai dapat digunakan celana.

Menggunakan popok seperti itu ada suka dukanya. Sukanya, popok tersebut cukup nyaman untuk bayi, mudah diurus dan bisa digunakan untuk adik atau saudara yang lebih kecil. Dukanya adalah, saat setiap pipis maka baju bayi, celana, kain gendongan, alas tidur, selimut, baju yang mengasuh pun ikut basah. Belum lagi ketika buang air besar (BAB). Selain perlu waktu dan tenaga untuk mencucinya, kita perlu perlu juga mengamati kondisi matahari. Jika sedang mendung, maka jemuran akan menumpuk dan menjadi lembab.

Popok kain bagian luar
Pada zaman sekarang ini muncul popok sekali pakai. Dari sisi kepraktisannya, popok ini memang unggul dibandingkan dengan popok biasa. Di dalam popok sekali pakai terkandung zat yang menyerap cairan, sehingga meskipun bayi pipis, bagian luar popoknya tetap kering. Dengan popok ini, tentu saja jumlah cucian akan berkurang. Persoalannya, penggunaannya telah menimbulkan beberapa persoalan yaitu penumpukan sampah. Bahan popok ini tidak mudah terurai, mencemari tanah dan air. Tidak heran, jika salah satu jejak ekologis terbesar dari seorang bayi adalah penggunaan popok sekali pakai.

Keprihatinan akan kerusakan alam telah memunculkan berbagai inisiatif hidup ramah lingkungan. Salah satunya adalah pokok pakai ulang. Bedanya dengan popok saat saya kecil, popok ini lebih nyaman digunakan. Popok ini dibuat dengan bahan yang menyerap cairan di sebelah dalam, tetapi tidak bisa menembus ke luar. Jadi basah pipisnya tidak ke mana-mana. Bedanya dengan popok sekali pakai, popok ini bisa dicuci, dijemur dan digunakan lagi. Bedanya dengan popok zaman dahulu yang menggunakan tali, popok pakai ulang jaman sekarang menggunakan kancing-kancing yang kita bisa atur di sebelah mana yang digunakan tergantung ukuran bayi. Selain itu digunakan karet untuk membuatnya fleksibel ukurannya dan tidak mudah melorot. Bahan kainnya pun beraneka ragam, dari yang sangat lembut dengan motif yang bermacam-macam tergantung selera kita.

Popok Kain Bagian Dalam

Jika dibandingkan dengan harga popok biasa dan popok sekali pakai, harga popok pakai ulang ini tampaknya cukup mahal. Bayangkan, satu pokok pakai ulang harganya bisa sama dengan popok sekali pakai sekantong besar isi 20, atau mungkin setengah lusin popok zaman dulu. Tetapi kita baru bisa mengetahui harga yang sebenarnya setelah menghitung kebutuhan biaya selama minimal setahun. Berikut ini adalah contoh perhitungan kasarnya:

Kebutuhan popok pakai ulang selama setahun:
20 buah popok pakai ulang X Rp. 50 ribu = Rp. 1.000.000,-
Kebutuhan popok sekali pakai selama setahun:
6 popok sekali pakai X Rp. 2.000,- X 365 hari = Rp. 4.380.000,-
Kebutuhan popok zaman dulu selama setahun:
15 popok per hari X 3 hari stok X Rp. 10.000,- = Rp. 450.000,-

Perhitungan di atas belum memasukkan biaya lainnya seperti biaya mencuci (termasuk mencuci baju dan peralatan bayi lainnya yang terkena ompol), biaya pengolahan limbah dan lain-lain. Jika biaya-biaya di atas dimasukkan maka biayanya akan semakin besar.

Keunggulan lain dari popok pakai ulang adalah dapat digunakan kembali untuk bayi yang lain. Kita bisa membuat kelompok yang memakai ulang popok popok dan perlengkapan bayi lainnya. Keberadaan kelompok semacam ini sangat menguntungkan, karena kita tidak perlu mengeluarkan uang banyak untuk barang perlengkapan bayi, khususnya untuk barang-barang yang waktu penggunaannya singkat.

Untuk memaksimalkan manfaat, kelompok ini juga bisa diperluas tidak hanya untuk popok pakai ulang, tetapi juga berbagai perlengkapan anak lainnya. Anak-anak saya dan anak-anak teman-teman saya saling mewariskan dan diwarisi pakaian-pakaian, popok, celana, sepatu, mainan dll. Dengan menggunakan barang-barang bekas, pengeluaran kita menjadi lebih sedikit. Setelah pakaian kekecilan pun, selama kondisinya masih bagus, kita bisa wariskan kembali kepada anak-anak yang lain. Dengan demikian rantai penggunaan barang pun bisa diperpanjang. Umur pakai barang menjadi lebih panjang dan bermanfaat untuk lebih banyak orang. Secara total, kita akan menghemat sumberdaya untuk menghasilkan barang baru. Barang yang menjadi limbahpun lebih sedikit. Semoga dengan pola hidup seperti ini, kerusakan lingkunganpun dapat berkurang.

Tips 1
Tips memilih popok pakai ulang:
-          Pertimbangkan masa pakai bayi dan ukuran bayi selama memakainya. Pilih popok pakai ulang yang dapat mengakomodasi ukuran tersebut.
-          Perhatikan kualitas kancingnya, pilih yang kuat, mudah dipasang dan dilepas, tetapi tidak mudah terlepas. Selain kancing, kadang-kadang digunakan perekat (prepet). Pilihlah perekat yang kuat dan tidak mudah terlepas, tetapi mudah dipasang.
-          Perhatikan bahan yang digunakan, bagian dalam pilih yang lembut dan menyerap air. Bagian yang luar, pilih yang lembut tetapi kedap air. Bagian tengah, pilih yang bisa dikeluarkan dan ditambahkan sesuai kebutuhan. Biasanya semakin besar usia anak, volume pipisnya akan bertambah. Pastikan bahwa bagian tengah ini dapat menyerap air dengan baik.
-          Perhatikan bahannya, pilihlah yang terbuat dari bahan yang mudah kering ketika dijemur.
-          Perhatikan bahannya, pilihlah yang terbuat dari bahan yang nyaman digunakan.
-          Perhatikan berat bahannya, semakin ringan semakin baik.
-          Perhatikan bahannya, pilih yang jika terkena kotoran bayi, mudah dibersihkan dengan sikat.
-          Perhatikan karet pinggang dan pahanya. Pilihlah yang terbuat dari bahan yang tidak mudah melar.
-          Perhatian corak dan warnanya, pilihlah warna yang tidak mudah kotor.

Tips 2
Tips mencuci popok kain hemat waktu, hemat air dan hemat sabun.
-          Siapkan 3 wadah tertutup: (1) untuk pakaian bayi yang sudah dipakai tertapi relatif masih bersih, (2) untuk pakaian yang terkena pipis, dan (3) untuk pakaian yang terkena tinja. Pemisahan ini bertujuan agar kotoran pada salah satu pakaian tidak menempel di pakaian yang lain. Proses pencucian akan dilakukan secara terpisah untuk masing-masing jenis pakaian.
-          Membersihkan pakaian bayi yang tidak terlalu kotor.
o   Masukkan pakaian bayi yang sudah dipakai tetapi masih bersih ke dalam baskom berisi air dengan sedikit sabun.
o   Kucek-kucek sampai bersih.
o   Jika ada noda kotoran, bersihkan noda itu dengan sabun mandi.
o   Bilas dengan air sampai bersih.
-          Membersihkan pakaian bayi yang terkena pipis.
o   Masukkan pakaian bayi yang terkena pipis ke dalam baskom berisi air bersih.
o   Kucek-kucek pakaian tersebut sampai pipisnya larut ke dalam air.
o   Jika jumlah pakaiannya banyak sementara airnya sedikit, ada kemungkinan dibutuhkan dua kali pembilasan.
o   Pembilasan dilakukan sampai bau pipisnya hilang.
o   Air bilasan pipis ini dapat digunakan untuk menyiram tanaman.
o   Rendam pakaian bayi yang sudah hilang bau pipisnya dengan air sabun.
o   Kucek-kucek sampai bersih.
o   Bilas kembali sampai sabunnya hilang.
-          Membersihkan pakaian bayi yang terkena tinja:
o   Bersihkan kotoran bayi dengan sikat.
o   Setelah itu masukkan dalam baskom untuk dibilas dengan air bersih sambil terus disikat sampai semua kotorannya hilang.
o   Buang air yang bertinja ke dalam wc.
o   Isi baskom dengan air, masukkan popok ke dalamnya dan gosok bekas noda tinja yang masih tersisa dengan sabun mandi. Kucek-kucek perlahan atau gunakan sikat sampai nodanya hilang.
o   Bilas dengan air bersih sampai sabunnya hilang.
Untuk menghemat air dan sabun, dapat dilakukan hal berikut:
Air sabun dan air bilas bekas cucian tipe 1, dapat digunakan untuk cucian tipe 2 dan kemudian tipe 3.