Showing posts with label Patricia Siswandi. Show all posts
Showing posts with label Patricia Siswandi. Show all posts

[TIPS] FASILITATOR dan BIDAN: Beda peran satu metodologi

Peran fasilitator memiliki perbedaan yang sangat jelas dengan peran narasumber dan peran penceramah. Banyak orang menyebut dirinya sebagai fasilitator, namun seluruh metode pendidikannya tidak lebih dari seorang pembicara dalam sebuah seminar atau khotbah seorang Kiyai dalam sholat Jum’at.

Berikut ini beberapa tips untuk menjadi seorang fasilitator dalam arti yang sebenarnya.

Belajar dari Bidan
Peran fasilitator tidak ubahnya dengan peran seorang Bidan. Pengalaman bidan dalam membantu kelahiran seorang anak, merupakan filosofi dasar yang kiranya perlu direnungkan oleh seorang fasilitator. Kita tentunya pernah melihat bagaimana seorang bidan membantu proses kelahiran seorang anak, yang sudah jelas bukan anaknya sendiri. Namun dengan segala totalitas dan kompetensinya, semua itu dikerahkan semata-mata untuk kelahiran si bayi. Namun begitu si bayi lahir, ibunyapun langsung menggendongnya dan mendekapnya. Bidan pun cukup bahagia ketika dia dapat membantu proses kelahiran itu dan ketika melihat semua orang bahagia dengan keberhasilan proses kelahiran tersebut.

[Masalah Kita] Benarkah aktivis selalu bermasalah dengan keluarga?

MASALAH-MASALAH AKTIVIS
Gerakan mahasiswa berkembang sangat pesat pada saat bergulirnya isu reformasi. Salah satu titik kulminasi gerakan mahasiwa terjadi pada bulan Mei 1998, yakni pada saat mahasiswa melakukan pendudukan gedung DPR/MPR, menuntut mundurnya Soeharto. Hingga sekarang gerakan mahasiswa masih terus bergulir, dan bahkan demonstrasi menjadi sarana komunikasi yang dirasa cukup efektif oleh sebagian besar orang, terutama ketika mengalami kebuntuan komunikasi.

Berbagai sinyalemen dan komentar dari tokoh pun muncul terhadap gerakan mahasiswa tersebut, seperti Eep Saefulloh Fattah. Dalam sebuah tulisan surat kabar dikatakan oleh beliau bahwa gerakan mahasiswa merupakan gerakan yang sebetulnya masuk akal namun sayang seringkali dilakukan secara tergopoh-gopoh. Hal ini ditegaskan pula oleh seorang pengamat gerakan mahasiswa dari kalangan mahasiswa sendiri, yang mengatakan bahwa seringkali gerakan mahasiswa terjebak dalam kerangka “ketidaksabaran”.

[Jalan-jalan] Oleh-oleh dari Thailand


Pada akhir November hingga Desember 2002 yang lalu dua orang aktivis KaIL, Intan Darmawati dan Patricia Siswandi, mendapat kesempatan untuk berkunjung dan mengamati model-model dan metode-metode pelatihan di beberapa pusat pelatihan di Thailand. Yang terkait dengan isu lingkungan hidup, kami mengunjungi Pusat Pelatihan yang dipimpin oleh Chirapol Sintunawa di Bangkok. Sayang sekali saat itu kami tidak sempat bertemu langsung dengan Mr Chirapol. Namun, dengan didampingi 2 orang rekan Mr Chirapol, KaIL diperbolehkan untuk terlibat dalam keseluruhan proses pelatihan tersebut.

Secara garis besar, ada beberapa persamaan metode pelatihan yang digunakan dalam pelatihan lingkungan hidup ini, dengan metode pelatihan yang selama ini dipergunakan di Indonesia. Sebuah metode pelatihan yang memadukan antara simulasi permainan, diskusi kelompok, dan pemutaran film, untuk memunculkan adanya proses kesadaran sesuai dengan tema terkait.