Showing posts with label Navita Astuti. Show all posts
Showing posts with label Navita Astuti. Show all posts

[EDITORIAL] PRO:AKTIF ONLINE NO 21/ DESEMBER 2018


Salam Transformasi!

Di penghujung tahun ini, Pro:aktif Online kembali hadir di tengah-tengah Anda. Setelah pada dua edisi sebelumnya kita merefleksikan kebutuhan dasar manusia, yaitu pangan dan papan, kini kami mengajak pembaca sekalian untuk merefleksikan ”sandang" sebagai kebutuhan dasar manusia.
Manusia mengenakan sandang atau pakaian untuk berbagai hal antara lain: melindungi tubuh dari cuaca dingin maupun panas, kesopanan, mendukung tubuh untuk melakukan berbagai aktivitas tertentu (misalnya: perenang, penyelam, koki (chef), tukang las, pegawai pabrik, dan sebagainya) atau sebagai penunjuk identitas budaya atau kelompok tertentu. Namun demikian, dalam proses produksi sandang terdapat beberapa masalah terkait lingkungan maupun manusia yang mendukung pengadaan sandang tersebut.

Maka, dibalut dalam tema “Tantangan Pemenuhan Kebutuhan Sandang di Masa Kini” kami sajikan artikel-artikel yang diharapkan dapat membuka wawasan para pembaca sekalian untuk memahami lika-liku proses penyediaan kebutuhan sandang dikaitkan dengan isu lingkungan yang berkelanjutan maupun kesetaraan bagi manusia yang terlibat di dalam setiap tahap prosesnya. Mari kita simak gambaran artikel edisi kali ini.

Rubrik PIKIR yang dibawakan oleh Umbu Justin menggelitik kita dengan pemikiran tentang sandang sebagai alat pendukung pencitraan manusia, namun di saat yang bersamaan, ia begitu cepat dan mudah dilucuti, sehingga citra manusia seolah-olah cepat pula berganti. Hal yang paling menggelitik dari artikel ini, adalah hubungan antara martabat manusia dengan sandang yang dikenakannya. Apakah martabat manusia dapat berubah-ubah secepat atau semudah bergantinya sandang di tubuh kita?

Rubrik MASALAH KITA dibawakan oleh Any Sulistyowati, yang menuturkan tentang permasalahan seputar produksi hingga konsumsi sandang dikaitkan dengan dampaknya terhadap lingkungan dan peradaban manusia. Ia menghadirkan sejumlah faktor penghambat manusia dalam mengonsumsi sandang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Berdasarkan faktor-faktor tersebut, penulis memberikan saran untuk menyikapi hambatan-hambatan tersebut agar tercapai pemenuhan kebutuhan sandang yang lebih ramah bagi lingkungan maupun masyarakat.

Rubrik OPINI menghadirkan artikel dari Angga Dwiartama yang menelisik rantai produksi sandang di masa kini. Ia mengajak pembaca untuk kilas balik perjalanan industri sandang dunia sejak sebelum revolusi industri hingga diciptakannya mekanisme yang memungkinkan sandang tersaji dengan cepat di hadapan konsumen. Dalam proses penyajian secara cepat itu, Angga memotret berbagai ketimpangan yang rupanya merugikan lingkungan maupun manusia-manusia yang terlibat di dalamnya. Di akhir artikel, Angga menekankan pentingnya peran pada ujung rantai produksi-konsumsi sandang, yaitu konsumen itu sendiri.

Rubrik TIPS menghadirkan artikel yang ditulis oleh Any Sulistyowati. Artikel ini membahas tentang penggunaan popok bayi. Ia menuliskan tentang kelebihan dan kekurangan dua jenis popok, yaitu popok sekali pakai dan popok kain. Titik berat utama dari artikel ini adalah pada langkah-langkah praktis penggunaan popok kain yang diyakini meminimalkan potensi kerusakan lingkungan dibandingkan penggunaan popok sekali pakai.

Rubrik MEDIA dibawakan oleh Jeremia yang menulis ulasannya tentang sebuah film berjudul True Cost. Di dalam film tersebut digambarkan mengenai biaya produksi sandang yang meningkat pesat dalam 15 tahun terakhir, namun produk sandang yang dihasilkan dijual dengan harga murah dan perusahaan pakaian masih mendapatkan untung yang cukup besar. Pembuat film ini, Andrew Morgan dan para pendukungnya, melakukan penelitian dan pendokumentasian tentang biaya-biaya ”lainnya” yang ditekan secara luar biasa demi meraup keuntungan yang demikian besar.

Rubrik JALAN-JALAN dibawakan oleh Yosepin Sri Ningsih. Dari carut marut industri sandang yang membawa kita semua pada keprihatinan isu lingkungan maupun keadilan dan kesetaraan manusia, Yosepin membawa kita pada geliat aktor-aktor yang membawa harapan baru terwujudnya proses produksi ramah lingkungan, serta memberdayakan manusia yang terlibat di dalamnya. Dua aktor yang digambarkan dari artikel ini, yaitu Kana Goods dan Bixa Batik, telah mewakili sekian banyak pelaku produksi sandang yang keluar dari mainstream produksi sandang masa kini.

Kait Nusantara, yang dibawakan oleh Nita Roshita dalam Rubrik PROFIL, juga merupakan aktor pembaharu dalam gerakan produksi sandang ramah lingkungan. Didukung oleh lima perempuan dengan latar belakang pendidikan yang berbeda, Kait Nusantara bergerak memberdayakan masyarakat di pedesaan untuk secara arif menyelamatkan sumber daya alam yang ada di desa, sekaligus manfaatkan sumber daya alam sebagai produk yang bernilai pakai.

Sebagai pendukung gerakan sandang ramah lingkungan dan setara bagi manusia yang terlibat di dalamnya, Kail tentu mempraktekkan prinsip-prinsip keberlanjutan dalam pengelolaan produk sandang di Rumah Kail. Oleh karena itu, Rubrik RUMAH KAIL yang dibawakan oleh Didit Indriati membagikan pengalaman Kail dalam pemanfaatan produk sandang. Pengalaman ini tertuang dalam kegiatan-kegiatan bersama warga sekitar, aktivis maupun dalam praktek keseharian di Rumah Kail itu sendiri.

Akhir kata, keseluruhan artikel dalam edisi ini diharapkan menginspirasi kita semua,yaitu: (1) dimulai dari penelusuran sejarah produksi sandang dunia, hingga perubahan yang terjadi di masa kini yang telah berperan dalam penurunan kualitas alam dan manusia. (2) berlanjut pada tawaran solusi yang perlu segera dipraktekkan, yaitu penyadaran bagi tiap individu, yang dalam hal ini merupakan konsumen sandang. Sebagai konsumen, kita sadar, bahwa dalam setiap pilihan dan tindakan kita telah turut berkontribusi kepada kualitas alam maupun sesama manusia, dan (3) penyadaran tersebut telah membuahkan beberapa aksi nyata dari beberapa pihak yang mengupayakan produksi sandang ramah lingkungan, kita perlu mendukung dan sebisa mungkin menularkan aksi positif tersebut kepada semakin banyak orang.

Akhir kata, seiring dengan semangat pergantian tahun, mari mulai upayakan agar kita semua semakin mengambil tanggung jawab terhadap pilihan dan tindakan yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan sandang untuk mendorong tercapainya kualitas hidup manusia yang lebih baik serta selaras dengan alam.

[MEDIA] GESANG DI LAHAN GERSANG : KEYAKINAN DAN PERJUANGAN YANG MEMBUAHKAN PERWUJUDAN IMPIAN



Judul : Gesang di Lahan Gersang
Penulis : Diah Widuretno
Penyunting : Aan Subhansyah
Pemeriksa Aksara : Imma Rachmawati
Perancang sampul : Luinambi Vesiano
Illustrasi : Luinambi Vesiano
Tata letak : Luinambi Vesiano
Jumlah halaman : 432 halaman
Diterbitkan pertama kali : tahun 2017, di Yogyakarta

Gesang di Lahan Gersang. Gesang adalah istilah dalam bahasa Jawa yang berarti hidup atau kehidupan. Menjadi menarik ketika kata ini kemudian disandingkan dengan kata ‘gersang’ yang berarti suatu keadaan tanah yang kering, tidak subur. Kering, yang berarti sulit air, tidak subur, sehingga kecil kemungkinan terjadi pertumbuhan tanaman di tanah tersebut. Kondisi tersebut menyiratkan tiadanya kehidupan. Lalu, bagaimana sebuah kehidupan terjadi di lahan yang tidak menjanjikan kehidupan?

Itulah judul yang disematkan pada sebuah buku yang dituliskan dari pengalaman nyata hidup di lahan gersang. Ia bukan sekedar kiasan. Judul tersebut menghantar saya pada kisah-kisah penuh perjuangan pendampingan masyarakat dari seorang relawan berhati tulus bernama Diah Widuretno, yang merupakan penulis buku ini. Pemilihan kata ‘gersang’ dalam judul bukunya, selain karena ia beraktivitas di daerah Gunungkidul yang sudah terkenal kegersangannya, bentuk ‘kegersangan’ lain yang dialami adalah karena pada awalnya ia berjuang seorang diri. Menjadi relawan adalah bentuk pilihan hidup yang tidak biasa. Ia memilih berjalan di jalan hidup yang sunyi. Terlebih lagi, perjuangan yang ia lakukan bersama anak-anak dampingannya adalah perjuangan melawan sistem yang mainstream.

Secara garis besar, buku ini mengisahkan pengalaman Diah sebagai relawan yang mendampingi dan mengorganisir kegiatan anak-anak di Desa Panggang, Gunungkidul. Diah menulis pengalamannya bagaikan menulis buku harian, penuh dengan kisah-kisah jatuh dan bangun dalam upaya memandirikan serta memberdayakan masyarakat di sana. Membaca buku ini seolah-olah menonton tayangan sebuah film layar lebar karena detail peristiwa yang dituliskan oleh Diah, serta memuat pula torehan isi hati dan emosi yang ia alami, sehingga melalui buku ini pembaca dapat turut merasakan isi hati penulisnya.

Diah memulai kerelawanannya di awal 2009, awalnya bersama empat relawan di Sekolah Sumbu Panguripan (SSP). Satu persatu relawan mengundurkan diri di tahun kedua dan ketiga SSP. Akhirnya komunitas Relawan dan SSP bubar di tahun 2013. Selepas SSP, Diah berjalan sendiri, tetap mendampingi anak anak Dusun Wintaos, Panggang, dengan nama Sekolah Pagesangan

Pengalaman jatuh bangun membangun Sekolah Pagesangan sebagai media belajar yang kontekstual merupakan sebagian besar isi dari buku ini. Sebagian di antaranya adalah kisah pengamatan dan pengalaman Diah dengan anak-anak di Panggang yang kelak menjadi fasilitator di SP. Sebagian lainnya merupakan kisah kiprah Dian dan kader-kadernya dalam mengupayakan pendidikan yang memberdayakan masyarakat di wilayah Gunungkidul.

Pemberdayaan masyarakat yang dijalani oleh SP ditekankan sebagai pendidikan yang kontekstual dan mengakar pada kondisi sosial budaya masyarakat di Desa Panggang. Hal ini dijalani Diah dengan kunjungan-kunjungan non-formal dari satu keluarga ke keluarga lainnya. Ia juga banyak berdiskusi dengan anak-anak yang telah dekat dengannya. Mereka memulai diskusi dengan harapan dan cita-cita masa depan anak-anak tersebut, yang rupanya kemudian diungkapkan sebagai harapan atas kehidupan yang sejahtera dan makmur, serta mandiri oleh karena usaha sendiri. Berangkat dari harapan-harapan itulah Diah dan anak-anak memulai kegiatan wirausaha berbasis potensi daerah.

Bagaimana sebuah kegiatan wirausaha dapat lahir dari sebuah daerah yang gersang? Inilah perwujudan dari frasa yang telah dijadikan judul buku ini. Gesang di lahan gersang. Diah dan anak-anak di SP berdiskusi bersama untuk menentukan bentuk wirausaha apa yang dapat dijalankan, dan sesuai dengan potensi desa mereka, dari aspek kesenian, kerajinan hingga pertanian. Semuanya dibawa dalam diskusi bersama, untuk menentukan usaha yang bermodalkan keterampilan yang telah dimiliki, bahan baku dari lingkungan sekitar yang mudah dijumpai dan dengan modal awal yang kecil. Bentuk usaha yang disepakati akhirnya adalah usaha pemanfaatan hasil pertanian, dengan dasar pemikiran bahwa sebagian besar masyarakat adalah petani, dan pada saat panen, bahan baku yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk pengembangan usaha, seperti singkong, gaplek (singkong yang dikeringkan), jagung, beras, kacang tanah, koro dan lain-lain.  

Dengan karakteristik tanah yang keras dan pola bercocok tanam yang hanya mengandalkan kehadiran musim hujan, maka masyarakat memiliki sistem manajemen penyimpanan makanan agar cukup untuk menghidupi mereka selama satu tahun. Singkong diolah menjadi gaplek kering yang dapat bertahan hingga satu tahun lamanya. Gaplek diolah lagi menjadi nasi thiwul. Konsumsi nasi thiwul di dalam keluarga dilakukan bergiliran dengan nasi (padi) dan jagung.

Hampir semua masyarakat di Panggang menanam singkong. Ketika panen singkong, mereka juga terbiasa mengeringkan singkong untuk dibuat gaplek. Persediaan gaplek selalu menggunung di kala musim panen tiba. Hampir semua orang menjual gaplek, sehingga terjadi persaingan harga gaplek. Hanya segelintir orang di Panggang yang menjual hasil olahan gaplek, yaitu nasi thiwul, karena pergeseran pola konsumsi di masyarakat yang sebelumnya mengonsumsi nasi thiwul sebagai makanan pokok, menjadi nasi (beras) di masa kini. Padahal, jika dianalisis lebih lanjut, gaplek tidaklah seperti yang dicap masyarakat sebagai makanan orang miskin. Gaplek memiliki nilai indeks glikemik yang rendah dibanding beras. Kandungan serat dari gaplek juga tinggi.

Hal ini yang kemudian membersitkan ide di kepala Diah dan anak-anak SP untuk menambah nilai jual dari gaplek, yaitu dengan memproduksi tepung gaplek, thiwul matang dan thiwul instan. Dari pengalaman memroduksi, memasarkan dan menjual produk-produk tersebut, Diah dan anak-anak SP mendapatkan pengalaman berharga. Salah satunya, meningkatkan nilai jual dari sebuah hasil panen.

Namun demikian, perjuangan untuk mandiri tidak berhenti sampai di pemasaran produk saja. Sadar bahwa jenis wirausaha yang dijalankan terkait dengan pola bercocok tanam masyarakat, Diah berupaya agar pola bercocok tanam yang dilakukan dapat selaras dengan alam. Telah diketahui sebelumnya, bahwa penggunaan pupuk kimia dan pestisida justru semakin menurunkan kualitas tanah yang ditanami. Maka, Diah dan anak-anak SP mengampanyekan pola bertani yang tidak merusak alam, dekat dengan budaya asli masyarakat dan tidak bergantung pada korporasi besar. Mereka bertekad menjadi petani-petani muda yang menyayangi alam dan lingkungan di sekitar.

Tak sedikit upaya yang sudah dilakukan. Untuk meningkatkan ilmu pertanian bagi anak-anak di SP, Diah mengajak anak-anak belajar bertani di Ath Thariq Garut dan Institut Bumi Langit, serta menjalin komunikasi dengan para petani organik di berbagai daerah. Terinspirasi dari kunjungan belajar mereka tersebut, anak-anak SP menginisiasi pembuatan kompos, bokashi (pupuk dari kotoran sapi), pupuk organik cair, membuat kebun belajar, hingga ngalas (bertani di lahan yang sebenarnya, bukan pekarangan). Tantangan demi tantangan pun dihadapi, mulai dari musim kemarau yang panjang, tiadanya air, hingga ketidaksuburan tanah. Namun, pada akhirnya, kegiatan ngalas tersebut membawa hasil. Beberapa tanaman akhirnya dapat tumbuh dengan subur, seperti : chantel, padi, jali, kacang tanah, koro, benguk, singkong, garut, dan ganyong.

Kegiatan anak-anak SP mulai dilirik oleh para orang tua mereka yang tertarik dengan proses pengolahan hasil panen hingga penjualannya. Mereka bahkan mendukung ketika anak-anak SP membutuhkan lahan garapan bagi mereka untuk berlatih bercocok tanam. Maka, dari kelompok anak-anak, kemudian berkembang lagi kelompok ibu-ibu yang melakukan usaha kecil olahan panen. Terdapat beberapa kelompok ibu yang mengolah dengan jenis olahan yang beragam, seperti mengolah panen menjadi ceriping pisang, singkong atau bayam. Kelompok lain membuat tepung gaplek dan mocaf, dan yang lain membuat thiwul instan. Sedangkan para bapak, tidak mau ketinggalan, mereka berkumpul dalam diskusi-diskusi kelompok yang membahas tentang perencanaan penanaman lahan, penggalian potensi desa, dan sebagainya. Akhirnya, proses pendampingan dan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan Diah menampakkan hasilnya.

Tak terasa, perjuangan Diah bersama anak-anak di Panggang telah dijalani selama delapan tahun (2009 - 2017). Delapan tahun yang kaya dengan pengalaman berjuang untuk hidup di lahan yang gersang. Perjuangan itu kini telah membawa hasil, meskipun bukanlah melulu merupakan materi. Salah satunya yang terpenting adalah pelajaran kehidupan, bahwa untuk hidup, manusia memerlukan keyakinan yang kuat. Keyakinanlah yang akan menjadi penuntun bagi perjuangan mimpi setiap orang.

Bersama buku ini, Diah ingin menunjukkan kepada para pembaca tentang proses pendidikan kontekstual, pendidikan yang berbasis kondisi sosial budaya setempat, termasuk persoalan-persoalan yang terjadi di dalamnya. Proses tersebut lebur dalam proses belajar yang bukan saja diperuntukkan bagi anak-anak, melainkan siapapun dari berbagai usia yang masih memiliki keinginan belajar. Proses belajar tidak memerlukan sekat-sekat ruang fisik maupun ruang sosial, ia menjadi satu dengan lingkungan sekitar dan pengalaman keseharian setiap orang. Akhir kata, semoga para pembelajar dari proses pendidikan kontekstual ini menjadi bagian dari solusi permasalahan yang dihadapi, bukan menjadi bagian dari masalah.

[MASALAH KITA] KRISIS EKOLOGIS : SEBUAH TANTANGAN PERADABAN




Perkembangan peradaban


Manusia adalah bagian dari alam. Manusia mencari dan mengolah bahan pangan, sandang dan papan dari alam untuk bertahan hidup. Melalui interaksinya dengan alam, manusia telah mengembangkan keterampilan, pengetahuan dan wawasan yang sangat berguna untuk peningkatan kualitas hidupnya. Krisis dan kreativitas telah mengembangkan kemampuan manusia dalam penyediaan, pengolahan dan pengawetan  makanan. Kemampuan ini mengubah cara pemenuhan kebutuhan manusia, dari berburu dan meramu menjadi bertani dan beternak; dari berpindah-pindah menjadi menetap. Mereka mulai membuka hutan dan mengubahnya menjadi tempat hunian dan kawasan produksi. 

Hubungan manusia dengan alam yang tercermin dalam ritual. Hilangnya alam menyebabkan hilangnya ritual dan hubungan manusia dengan alam dan Sang Pencipta (dok. pribadi, Festival Kelimutu, 0817, TN Kelimutu)

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah memungkinkan pembukaan hutan dan pengambilan sumberdaya makin meluas sampai melampaui batas-batas negara dan benua. Penemuan suatu wilayah baru dengan sumber daya alam yang kaya ditindaklanjuti dengan eksploitasi di wilayah itu. Proses eksploitasi alam terjadi dengan lebih cepat dan masif. Ditambah dengan motivasi untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dari perdagangan sumber daya alam, menyebabkan pembukaan lahan makin luas terjadi di wilayah-wilayah yang kaya sumberdaya alam tersebut. Benua Afrika dengan kekayaan bahan tambangnya menjadi sasaran eksploitasi perusahaan tambang sekaligus menjadi sumber tenaga kerja murah. Eksploitasi alam di Benua Amerika dan Australia membuat Suku Indian dan Aborigin tersingkir dari tanah leluhur mereka. Di Asia, Indonesia pun menjadi salah satu wilayah yang diperebutkan. Hal ini ditandai dengan sejarah Indonesia mengalami masa-masa penjajahan berbagai bangsa mulai dari Belanda, Inggris dan akhirnya Jepang.

Proses eksploitasi tersebut terus berlanjut sampai saat ini dan dilegalkan melalui kesepakatan perdagangan  internasional yang memungkinkan perusahaan transnasional mengekspoitasi alam lintas batas negara. Hal tersebut bahkan didukung oleh kebijakan-kebijakan nasional yang mempermudah investasi untuk mengekspoitasi alam dengan dalih mengejar pertumbuhan ekonomi.

Manfaat dan Dampak

Tidak dipungkiri bahwa perkembangan di atas telah memberikan sumbangan besar bagi peningkatan kualitas hidup manusia. Intensifikasi pertanian memungkinkan peningkatan produksi pangan secara cepat dan masif. Perdagangan antar negara memungkinkan kita menikmati makanan yang berasal dari tempat-tempat yang jauh yang sebelumnya tidak dapat kita santap kecuali di tempat asalnya. Perkembangan teknologi memungkinkan kita membuat barang-barang dalam skala besar dengan harga yang lebih murah. Perkembangan teknologi informasi memungkinkan kita terhubung satu sama lain dengan mudah dan cepat.
Sayangnya, di samping berbagai manfaat yang diperoleh, terdapat dampak-dampak yang harus ditanggung oleh seisi bumi. Kerusakan alam terjadi di mana-mana pada skala yang semakin besar dan memprihatinkan. Masalahnya, kerusakan alam pada akhirnya akan berdampak pada hidup manusia juga. Setidaknya, kerusakan-kerusakan itu akan (telah) mengurangi kualitas hidup manusia melalui beberapa cara.

Pertama-tama adalah berkurangnya ketersediaan sumberdaya atau terjadi kelangkaan sumberdaya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kelangkaan sumberdaya seringkali menyebabkan hilangnya budaya yang telah berkembang terkait sumberdaya tersebut. Banyak kearifan lokal yang dibangun dari pengembangan budaya selama berabad-abad lenyap bersama hilangnya sumberdaya tersebut. Hal ini terjadi pada tenun dengan pewarna alam di berbagai daerah di Indonesia. Hilangnya hutan telah menyebabkan hilangnya spesies-spesies pewarna alam yang semula tumbuh di hutan itu. Tanpa bahan baku pewarna alam, maka seluruh kebudayaan terkait proses menenun dengan pewarna alam di daerah itu pun ikut hilang. Contoh lain yang mungkin lebih dekat dengan kehidupan kita di kota adalah budaya penggunaan rumah kayu. Kelangkaan kayu menyebabkan penggunaan kayu sebagai bahan baku rumah semakin berkurang. Kondisi ini menyebabkan berkurangnya kebutuhan akan tukang kayu yang berujung pada berkurangnya jumlah orang yang (mau/bisa) berprofesi sebagai tukang kayu. Jika kondisi ini terus berlanjut, maka profesi tukang kayu akan semakin menghilang. Akibatnya hilanglah ketrampilan bertukang kayu yang semula diwariskan secara turun-temurun. Di kampung kami, Cigarugak, tukang kayu ahli yang tersisa adalah orang-orang tua, yang sekarang tinggal satu orang.

Pak Nas, tukang kayu yang tersisa di Kampung Cigarugak
Dampak lain dari kecenderungan di atas adalah munculnya ketergantungan masyarakat pemilik budaya tersebut pada sumberdaya dan budaya baru yang tidak mereka hasilkan di tempat asal mereka. Dalam kasus tenun, menghilangnya pewarna alam menyebabkan digunakannya pewarna sintetis buatan pabrik maupun benang-benang pabrik yang sudah diberi pewarna sintetis yang tidak dihasilkan di daerah-daerah tenun. Sementara dalam kasus kayu, sebagai bahan bangunan pengganti, digunakanlah bahan-bahan tambang seperti cor beton untuk tiang, batu bata, pasir dan semen untuk dinding, dan baja ringan untuk rangka atap dan kusen. Seringkali bahan-bahan tambang ini berasal dari daerah yang jauh tempat eksploitasi penambangan, misalnya pada kasus semen dan baja, sebelum kemudian diproses di pabrik sampai akhirnya dapat digunakan sebagai bahan bangunan.


Tenun, pada awalnya menggunakan pewarna alam

Yang lebih memprihatinkan, apabila kecenderungan tersebut berlanjut, maka akan potensial menjadi sumber konflik antar kelompok kepentingan yang memanfaatkan sumberdaya tersebut. Sebagai contoh, lenyapnya hutan menyebabkan masyarakat yang semula mengambil makanan, kayu bakar dan bahan bangunan dari hutan kehilangan akses terhadap pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tersebut. Kebutuhan-kebutuhan tersebut kemudian dipenuhi dengan cara lain, misalnya dengan bekerja di kota. Di kota terjadilah persaingan antara masyarakat lokal yang kehilangan akses terhadap hutan dengan para pendatang yang sudah lebih lama menetap di kota. Terjadilah konflik perebutan ruang hidup di antara semakin banyak kelompok kepentingan. Pada akhirnya, konflik ini seringkali dianggap sebagai konflik horizontal, antar etnis, suku, agama dan sebagainya. Padahal esensi konflik yang sebetulnya adalah perebutan ruang hidup akibat sistem sosial ekonomi yang meminggirkan masyarakat lokal dan alam. Jika konflik tersebut tidak dikelola dengan baik, maka dapat berujung pada perselisihan dan bahkan perang antar kelompok masyarakat.

Dampak lain dari kerusakan alam adalah hilangnya manfaat langsung yang diperoleh manusia secara gratis dari alam. Manfaat ini disebut sebagai jasa lingkungan. Salah satu bentuk jasa lingkungan adalah ketersediaan air. Daerah bantaran sungai dengan kondisi alam yang masih bagus memungkinkan resapan air di wilayah itu terjadi dengan baik. Dalam kondisi ini, masyarakat bisa mendapatkan air sepanjang tahun, termasuk di musim kemarau. Jika alam di hulu rusak, maka kerusakan itu akan mempengaruhi stok air di hilir. Selain ketersediaan air, masih banyak lagi jasa lingkungan yang secara cuma-cuma telah disediakan alam untuk menopang kehidupan kita. Beberapa di antaranya adalah udara bersih, kestabilan cuaca dan iklim dan kesuburan tanah.
Selain itu, kerusakan alam juga terjadi karena pertambahan produksi limbah yang melampaui batas daya urai alam. Saat ini pertambahan jumlah produksi limbah berbanding lurus dengan peningkatan konsumsi sumberdaya. Limbah-limbah yang tidak dapat terurai tersebut kemudian menumpuk dan mencemari alam, menimbulkan penurunan kualitas alam, bau tak sedap dan menjadi sumber penyakit yang menurunkan tingkat kesehatan masyarakat.

Teknologi proses telah memungkinkan pencampuran berbagai bahan untuk menghasilkan efek rasa, warna dan tekstur yang diinginkan. Sayangnya, tidak semua bahan yang digunakan tersebut aman untuk digunakan dan apalagi untuk dikonsumsi. Banyak bahan yang digunakan, baik pada saat proses produksi, penggunaan maupun ketika diolah saat menjadi limbah, merupakan racun-racun yang berbahaya bagi tubuh kita. Selanjutnya racun-racun ini akan menumpuk di alam, dan membahayakan semua makhluk hidup yang mengonsumsinya.

Dengan masifnya pola konsumsi dan produksi terjadilah kerusakan dalam skala global yang menghasilkan dampak dalam skala global pula. Penggunaan bahan bakar fosil dan pembukaan lahan hutan yang sangat masif telah menyebabkan emisi karbon dan gas-gas rumah kaca lainnya. Berubahnya komposisi gas di atmosfir menyebabkan perubahan kemampuan bumi untuk mengatur suhu. Rentang antara suhu terendah dan  tertinggi bumi makin besar. Perubahan ini menimbulkan perubahan pola angin, hujan dan musim di bumi. Sebaliknya perubahan pola angin, hujan dan musim juga menyebabkan perubahan rentang antara suhu terendah dan tertinggi tersebut. Akibatnya, bencana mulai lebih sering terjadi, antara lain dalam bentuk badai, hujan es, banjir dan kekeringan. Beberapa akibat turunannya adalah gagal panen serta munculnya berbagai hama dan penyakit terkait dengan cuaca.

Tantangan upaya pemulihan krisis

Saat ini, berbagai solusi telah diupayakan untuk menyelesaikan krisis tersebut. Berbagai teknologi yang selaras alam mulai banyak dikembangkan. Hanya saja teknologi tersebut terletak di dalam sistem ekonomi dan politik yang seringkali tidak membawa kita ke arah pilihan-pilihan hidup yang lebih selaras alam. Berbagai sistem insentif dan disinsentive melalui berbagai kebijakan ekonomi , keuangan dan industri yang berjalan saat ini, membuat barang-barang yang tidak ramah lingkungan menjadi lebih murah daripada barang-barang yang diproduksi dengan selaras alam. Hal yang sama berlaku juga untuk sektor energi dan transportasi. Kebijakan industri dan perbankan saat ini mendorong kita untuk lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi yang boros penggunaan sumberdaya daripada kendaraan publik yang lebih efisien dan hemat energi. Di sektor energi, lebih murah membeli energi dari bahan bakar fosil daripada memasang panel surya di atap rumah kita. Di sektor pangan, seringkali kita menemukan bahwa pangan impor dengan jejak ekologis yang besar harganya lebih murah daripada pangan lokal yang jejak ekologisnya lebih kecil. Lebih dari itu, secara umum, budaya yang berkembang di masyarakat global saat ini adalah gaya hidup boros yang mendorong lebih banyak konsumsi sumberdaya alam. Hal ini mencerminkan seolah eksistensi manusia dibangun oleh daya belinya. Semakin banyak membeli berarti semakin eksis. 

Hutan penopang hidup kita akan habis bila tidak dijaga (dokumentasi pribadi - Taman Nasional Kelimutu)

Hal-hal di atas tidak terlepas dari konflik berbagai kepentingan yang selama ini diuntungkan dari sistem yang selama ini berjalan. Perubahan ke pola hidup baru yang lebih selaras alam akan membutuhkan kreativitas dan kecerdasan dalam menghasilkan inovasi-inovasi sistem baru yang lebih menjamin keselamatan bumi dan seluruh ciptaan yang hidup di dalamnya. Implikasi dari inovasi tersebut adalah kita seringkali perlu menjalani hidup dengan cara yang sangat berbeda dari cara hidup kita sebelumnya. Semua itu akan membutuhkan kesadaran, kemauan dan kerja keras.  Sayangnya, tidak semua dari kita memilikinya.

Saat ini, krisis ekologis telah sampai pada kondisi yang sangat mengkuatirkan. Akankah kita melanjutkan pola hidup pribadi dan kolektif yang berujung pada kerusakan sumber-sumber kehidupan tersebut? Ataukah kita mulai memikirkan dan menerapkan pola-pola kehidupan baru, yang secara cerdas mampu meningkatkan kehidupan manusia tetapi sekaligus pula meningkatkan kualitas alam, yang menjadi sumber utama kehidupan kita? Bersediakah kita menerima tantangan untuk bergabung dalam barisan pembawa perubahan ke arah peradaban baru yang memulihkan kondisi bumi? Jawabannya akan berpulang pada kita, sebagai individu, sebagai warga masyarakat, warga negara dan penduduk bumi.
***