Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

[OPINI] EKONOMI ITU DARI, OLEH, DAN UNTUK SEGELINTIR SAJA, ATAU UNTUK SEMUA?


Oleh: M. Sena Luphdika

-Demokrasi ekonomi sebagai prasyarat kesejahteraan yang lebih adil dan merata-

Menurut Anda, ekonomi yang ada saat ini berpihak pada siapa? Hanya segelintir orang atau seluruh rakyat Indonesia?
Untuk membantu Anda menjawab pertanyaan di atas, mangga cek film dokumenter SEXY KILLERS dari watchdoc berikut ini:


 
Kira-kira apa jawabannya? Coba renungkan jawaban Anda sambil iseng mengetik kata-kata berikut di mbah Google:
  • Kesenjangan ekonomi, rasio Gini
  • Konflik agraria, konflik tambang, konflik sawit
  • Kesejahteraan petani, regenerasi petani
  • Sosialita mewah, garis kemiskinan
Rasa-rasanya condong ke segelintir ya.
Kenapa seperti itu? Apa penyebabnya? Mari kita coba telaah dengan sudut pandang kata-kata pamungkas, Demokrasi.

Segelintir vs Seluruh
Sistem ekonomi Indonesia seharusnya bukan kapitalisme seperti yang ada saat ini. Kalau tidak percaya, mangga cek saja UUD 1945 Pasal 33 ayat yang mana pun.
Sesuai namanya, kapitalisme, kapital menjadi hal yang utama dan pertama. Manusia tunduk pada kepentingan dan kemauan dari manusia lain yang punya modal (terutama uang) lebih besar.
Dengan begitu tingginya posisi uang dalam kapitalisme, maka tak heran bahwa pihak yang menikmati keuntungan dan manfaat terbesar dari sistem ini adalah segelintir orang. Mereka adalah orang-orang yang “terlanjur” punya uang, lalu melahirkan uang baru lagi dengan cara-cara yang didukung penuh oleh sistem yang ada.

Salah satu dasar utama kapitalisme adalah 1 saham = 1 suara. Siapa yang punya modal besar maka dia yang paling kuat. Kalau tidak punya modal bagaimana? Ya maaf-maaf saja, cuma bisa jadi pekerja yang digaji rutin, dengan nilai yang pas-pasan sekadar untuk bertahan hidup.

Dengan 1 saham = 1 suara tersebut, segelintir orang memiliki hak dan kuasa yang lebih besar dari mayoritas orang. Kekayaan dan keuntungan berkumpul kepada mereka-mereka saja, terpusat dan semakin menggunung.

Tidakkah kita merasa aneh kenapa segelintir orang memiliki kekuatan dan kekuasaan yang begitu besar untuk menentukan hidup orang banyak? 

Padahal yang memiliki kepentingan dalam suatu perusahaan bukan hanya pemegang sahamnya saja. Para pegawainya tentu juga punya kepentingan. Tanpa para pegawai sang pemegang saham juga tidak akan dapat apa-apa.

Lucunya, pegawai baru dianggap penting ketika mereka mogok kerja.
Tentu tidak mengherankan kalau sistem semacam ini melahirkan perilaku manusia yang individualis, serakah, kompetitif ekstrim, dan egois. Demi profit dan keuntungan segalanya menjadi halal. 
Lingkungan? Peduli amat.
 
Kesejahteraan pegawai? Seminimal mungkin yang penting bisa hidup. Kepentingan bersama? Di bawah kepentingan pribadiku dong.

Tidak percaya? Coba cek lagi film SEXY KILLERS yang sudah ditonton sebelumnya. Tonton juga ASIMETRIS, tentang kelapa sawit.
Inikah sistem ekonomi terbaik yang manusia bisa lahirkan?

Demokrasi Politik vs Demokrasi Ekonomi

Bulan April ini kita melaksanakan “pesta demokrasi”. Kita memilih pemimpin tertinggi Indonesia dan anggota-anggota legislatifnya. Tapi perlu diingat bahwa “pesta” ini baru demokrasi dalam ranah politik.

Tahukah Anda bahwa demokrasi tidak hanya berlaku dalam politik, tetapi juga ekonomi? Tahukah Anda bahwa kata-kata demokrasi ekonomi tersebut ada di konstitusi kita secara gamblang?

Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional — UUD 1945 Pasal 33 Ayat 4
Demokrasi politik yang kita miliki menurut saya sangat kurang, karena heboh hanya 5 tahun sekali dan ketika demo-demo ke jalanan. Seakan-akan dalam kehidupan kita sehari-hari tidak ada urusannya dengan demokrasi.

Sehari-hari kita mengonsumsi bermacam barang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ekonomi lebih dekat dengan hidup kita, kenapa tidak kita coba implementasi demokrasi di dalamnya?

Demokrasi Politik sudah berjalan, kalau Demokrasi Ekonomi kapan?

Go to the profile of M Sena Luphdika



Apalagi pada dasarnya demokrasi politik tidak akan berpengaruh banyak kalau ekonominya tidak demokratis. Ia hanya akan melahirkan oligarki (sekelompok penguasa) yang rakus dan egois. Mengedepankan keinginan dan kepentingan kelompok mereka tanpa memikirkan kepentingan orang banyak.

Adakah contoh jahatnya? Banyak sebenarnya, tapi kita coba saja dari hal yang paling mendasar bagi kehidupan kita sehari-hari, sembako. Sembako itu banyak lintah-nya. 
Merekalah yang menyebabkan sebuah realita yang kontradiktif, yaitu: 
Harga di masyarakat begitu tinggi, sedangkan harga di petani sangat murah.

Masyarakat ingin harga murah, tapi petani tentu ingin harga tinggi supaya mereka sejahtera. Apa solusinya?
Sembako dalam Demokrasi Ekonomi
Karena ini menyangkut hajat hidup orang banyak, maka hal ini diurus oleh negara melalui Bulog. Tetapi kalau boleh jujur, Bulog ini dampaknya tidak besar. Malah internal Bulog-nya sendiri seringkali korup.
Hasil search Google dengan kata kunci “Korupsi Bulog”

Tapi apakah kita hanya bisa berpangkutangan atas ketidakbecusan Bulog? Kenapa tidak kita coba koordinir kebutuhan kita secara bersama-sama? Demi kepentingan kita bersama kok, urusan sembako, gitu.
 
Kembali pada kontradiksi dagelan di atas, bagaimana supaya harga sembako murah tapi petani juga sejahtera? Jawabannya ada pada rantai pasok. Di petani harga mungkin murah, tapi di pembeli harga sudah naik dengan margin yang tidak sedikit.

Tak heran kalau petani tidak sejahtera dan orang pada malas jadi petani, karena orang yang mendapatkan keuntungan utama dalam rantai pasok sembako adalah distributornya. Tengkulak dan kawan-kawan yang ada di tengah-tengah justru kaya raya, sedangkan petaninya miskin.
Solusi paling sederhana ya potong rantai pasok. Hubungkan langsung antara pembeli dengan petani. Tetapi ini sulit kalau dilakukan sendiri-sendiri, karena yang namanya panen itu jumlahnya besar. Kalau kita beli secara individu, ya ga bakal mau petaninya. Panen 500 kg masak dibeli cuma 5 ons per orang kan ya capek.

Tetap perlu ada pihak penengah yang mengoordinir interaksi antara pembeli dengan petani, supaya kebutuhan pembeli bisa diagregat sehingga jumlahnya besar dan harganya bisa lebih murah per kilonya. Sedangkan di sisi petani mereka tidak sibuk mencari dan melayani ratusan pembeli, cukup satu saja.
Apa bedanya penengah ini dengan tengkulak yang ada?
Sederhana, penengah ini harus dimiliki bersama oleh pembeli dan petaninya, sehingga penengah ini tidak akan mengambil margin yang terlalu besar. Kalau pembeli dan petani adalah pemilik, artinya si penengah bertanggungjawab kepada mereka, bukan pada investor atau pemilik individu dari usaha penengah/distributor ini.
Karena pembeli dan petani adalah pemilik yang setara, mereka bisa duduk bareng dan buka-bukaan data. 
Petani: “Segini lho hargaku, karena poin a, b, c.”
Pembeli: “Ah tapi segitu kemahalan, kan ada poin x, y, z.”
Dengan dialog, bisa didapatkan kesepakatan yang memberikan hasil terbaik bagi pihak-pihak yang terlibat, tanpa perlu campur tangan pihak luar.

Apa bentuk yang tepat dari penengah ini? Tidak lain dan tidak bukan ya koperasi. Kalau bentuknya selain koperasi, bisa terjadi tarik-ulur kepentingan dari pemilik usaha distribusi yang nilai suaranya berbeda-beda sesuai besaran saham. Dalam koperasi, satu anggota satu suara, sehingga tidak akan ada orang yang menguasai usaha distribusi ini melalui saham yang paling besar.

Dengan format koperasi, kepentingan setiap individu manusia memiliki bobot yang sama, sehingga mau tidak mau seluruh anggota tentu memikirkan kepentingan bersama. Pada dasarnya sulit untuk egois dalam bentuk koperasi, kecuali kita bisa meyakinkan kawan kita yang lain.

Hajat Hidup orang Banyak

Utopis sekali ya, apakah hal ini bisa dilakukan? Sudah ada contohnya kok di Jepang, namanya Seikatsu Club. Di Korea juga ada, namanya ICOOP.
Apakah hanya sembako yang bisa diatur dalam format koperasi multipihak milik bersama ini? Oh tidak, tentu semuanya bisa. Sebaiknya, ketika suatu hal terkait dengan hajat hidup orang banyak, dia dikelola dalam format koperasi multipihak (Multi-Stakeholder Cooperative).

Hajat hidup orang banyak itu contohnya air, kesehatan, pendidikan, perumahan, dan lain-lain. Kita bisa bangun koperasi untuk masing-masing bidang tersebut yang isinya lengkap secara rantai nilai dari awal hingga akhir. Dengan begitu, semua pihak yang terlibat di dalamnya bisa menentukan keputusan dan kebijakan ekonomi secara bersama-sama.

Kesehatan
Kita perlu membangun jaringan fasilitas kesehatan (faskes) yang akan memberikan pelayanan terbaik meski pasien menggunakan asuransi BPJS. Jaringan ini juga harus memberikan penghidupan yang layak pada para dokter, perawat, dan tenaga medis yang bekerja di dalamnya. Jika perlu juga kita buat asuransi kesehatan milik kita bersama.

Pendidikan
Kita tentu paham seberapa bobroknya pendidikan di Indonesia. Rendahnya gaji guru, rendahnya tingkat kelulusan, buruknya kualitas lulusan, tingginya angka pengangguran, mereka adalah segelintir dari penanda bahwa sistem pendidikan kita remuk-redam. 
Kalau memang kita sepakat bahwa mencerdaskan kehidupan bangsa adalah kepentingan bersama, mari kita buat koperasi terkait pendidikan yang dimiliki bersama-sama. Murid, orang tua, guru, dan profesi pendukung lain yang terkait erat dengan sekolah dan universitas adalah pemiliknya. Kita duduk bareng dan buat sedemikian rupa sehingga pendidikan yang terbaik bisa dinikmati oleh semua kalangan masyarakat sebagai hak asasi.
Karena sekali lagi, ekonomi itu untuk segelintir saja atau untuk semua? Kalau kita semua ingin maju sebagai sebuah bangsa, ya kita bergerak bersama untuk itu. Jangan menunggu dan menyerahkan takdir kita pada sekelompok orang yang terlanjur menguasai kehidupan kita. 
Ambil dan kelola bersama-sama.

Kesenjangan ekonomi adalah masalah yang buat saya paling pelik saat ini. Kemiskinan saja itu sudah masalah, apalagi kemiskinan yang bersamaan dengan kekayaan yang begitu jauhnya. Kemiskinan tersebut akan menekan mental, tidak hanya masalah material.

Bayangkan saja bagaimana rasanya ketika makan sehari-hari saja susah, tetapi di sisi lain kita tahu ada orang yang mampu dan mau membeli baju mewah seharga biaya hidup kita selama 5 tahun?

Solusinya jelas bukan bantuan-bantuan langsung yang tidak bermartabat dan membuat masyarakat ketergantungan itu. 

Ekonomi seluruh lapisan masyarakat harus mandiri. Mandiri bukan berarti sendiri-sendiri, tapi tidak bergantung pada pihak-pihak lain yang tidak bisa dikendalikan dan hanya memikirkan keuntungan mereka sendiri.

Koperasi sudah diletakkan sebagai dasar demokrasi ekonomi di Indonesia dari zaman dahulu kala. Mari kita bangkitkan kodratnya sebagai sistem ekonomi utama di tanah air kita ini.
Sudah saatnya kita bergerak secara gotong-royong, kolektif, bersama-sama. Supaya kemajuan dan keuntungan ekonomi bisa dinikmati oleh semua, tidak hanya mereka yang di atas sana.

[OPINI] MENYOROTI SISI GELAP RANTAI NILAI GLOBAL INDUSTRI SANDANG

Oleh: Angga Dwiartama


Sandang, Pangan, dan Peradaban

Di awal tulisan ini saya ingin menegaskan bahwa saya bukan pakar di bidang fashion dan industri pertekstilan. Tulisan-tulisan saya, termasuk di Pro:Aktif Online, banyak berkutat di bidang pertanian dan pangan. Satu hal yang awalnya saya pikir sama antara pangan dan sandang adalah bahwa keduanya berangkat dari hasil bumi, sehingga saya bisa sedikit banyak bercerita tentang sejauh mana peradaban manusia telah mendorong pertanian dunia untuk menghasilkan kedua hal ini. Meskipun demikian, saat saya mencoba menelusuri lebih dalam tentang bagaimana dunia saat ini menghasilkan pakaian, perbedaan antara pangan global dan sandang global makin lama makin saru. Bahwa di tengah keglamoran dunia fashion ataupun industri makanan, tersembunyi sisi gelap yang melibatkan berbagai bentuk pengerukan, perusakan dan pencerabutan lingkungan hidup dan masyarakat dari akarnya. Kalau para pemerhati masalah pangan melihat film dokumenter Food, Inc.(2008) sebagai ikon kritik terhadap industri pangan modern, saya menyarankan teman-teman menonton The True Cost (2015) yang menjadi ikon kritik terhadap industri sandang modern.

Poster The True Cost

Di dalam beberapa paragraf ke depan, saya akan mencoba merefleksikan hasil bacaan saya tentang industri sandang global, sambil sesekali mengunjungi beberapa temuan saya di industri pangan global. Seperti di tulisan saya yang lain tentang pangan (misal: link ke Pangan dalam Cengkeraman Kapitalisme dan Pangan sebagai Politik yang Menubuh), semoga akhir tulisan ini bisa sedikit mencerahkan.

Saya mulai cerita ini dari zaman dahulu kala. Sandang maupun pangan berperan besar di dalam pembangunan peradaban masyarakat. Di saat manusia prasejarah berburu dan meramu untuk memperoleh pangan, mereka juga mengembangkan pakaian untuk menghangatkan badan mereka. Kulit hewan dan serat tumbuhan dipintal secara sederhana menjadi kain pelindung tubuh. Saat produksi pangan ditopang oleh pertanian fase awal, demikian halnya dengan sandang. Serat dari tanaman-tanaman seperti kapas, kapuk, rami, dan linen mulai diolah menjadi lembar-lembar pakaian sederhana. Pakaian juga dihasilkan dari bahan baku yang berasal dari hewan seperti wol dan sutera[1].

Di sisi lain, pertanian yang lebih kompleks dan rumit menghasilkan pakaian yang lebih mahal dan berkelas. Pakaian para dewa dan raja-raja, sebagai contoh, dipintal dari sutera alam yang halus, yang proses produksinya membutuhkan keahlian dan ketekunan tingkat tinggi. Tidak banyak pengrajin yang bisa menghasilkan kain sekelas sutera. Di titik ini, produksi yang terkonsentrasi di wilayah yang peradabannya maju seperti China (sutera), India (katun) dan Eropa (linen)serta permintaan yang kian tinggi dari penjuru dunia menjadi pondasi dibangunnya industri sandang dalam skala global. Jalur sutera, orang-orang bilang, adalah jejak nyata sandang di dalam peradaban manusia. Hal ini sejalan dengan perdagangan komoditas pangan mewah seperti rempah-rempah, kopi, teh, kakao dan gula dari pengrajin di Asia, Afrika dan Amerika Latin untuk raja-raja di Eropa dan Timur Tengah. Sandang, seperti pangan, memiliki fungsi pelengkap, tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar manusia, tetapi juga menjadi simbol identitas kelas.

Fase ini di dalam cerita peradaban manusia tentunya belum seberapa gelap ketimbang saat revolusi industri mulai menggeliat di abad ke-18. Kolonialisme yang dibangun di atas pengerukan sumberdaya pertanian diperparah dengan upaya untuk mentransformasi sumberdaya ini secara massal dan cepat. Apabila pemintal benang dan perajut kain dulu dikenal sebagai artisan berketerampilan tinggi, mesin-mesin industri saat itu mampu menggantikan produksi kain secara lebih cepat, lebih seragam dan lebih efisien. Peran manusia direduksi menjadi sekedar tenaga kerja. Hal ini berlaku baik untuk pangan maupun sandang. Kolonialisme dan revolusi industri (yang nantinya juga diikuti dengan revolusi hijau) meninggalkan petani dan pekerja tercerabut dari identitas unik mereka. Petani gurem, buruh murah, mereka adalah kolateral dari efisiensi produksi. Mereka menjadi tergantikan, dispensable.

Industri Sandang Global dan Fast-Fashion
Maka sampailah kita ke wajah industri sandang di dunia modern ini. Di depan mata, nama-nama seperti GAP, CJ Penney, Marks & Spencer jamak dilihat sebagai brand-brand besar yang menjual pakaian dengan harga premium. Apa yang menyebabkan mereka bisa menguasai industri fashion global? Apakah teknologi yang mumpuni? Ataukah asset produksi yang besar dengan mesin-mesin yang efisien? Sebelum menjawab ini, kita perlu melihat dua bentuk rantai nilai global di dalam industri modern kita. Gary Gereffi[i], seorang sosiolog dari Amerika Serikat, menjelaskan bahwa ada industri yang didorong oleh produsen, dan industri yang didorong oleh pembeli. Industri yang didorong oleh produsen mengandalkan kehandalan teknologi dan asset produksi yang pada akhirnya membangun pasar. Di sisi lain, industri seperti pakaian tidak membutuhkan inovasi teknologi yang tinggi. Perusahaan-perusahaan ternama yang saya sebutkan di atas bahkan tidak memiliki asset produksi. Mereka mengedepankan aspek marketing, jalur ritel, ide desain fashion dan nilai jual brand untuk menjamin penangkapan rantai nilai sebesar mungkin di rantai industri globalnya. Laiknya industri pangan global yang dicirikan oleh makanan siap saji (fast food), industri sandang global dicirikan oleh pakaian siap saji (fast fashion) -- industri yang mengedepankan pergantian mode yang cepat dan, konsekuensinya, alur produksi yang cepat pula.

Wajar kiranya apabila dibalik hingar bingar industri pakaian siap saji ini, di saat dunia fashion dan retailer mengambil porsi nilai terbesar, para petani, buruh pabrik dan pengusaha tekstil berebut nilai tambah dari sisa-sisa yang ada -- aktivitas yang tidak jarang mengorbankan lingkungan hidup dan masyarakat lokal. Dalam banyak tulisan[ii], industri tekstil digadang sebagai penyumbang pencemaran lingkungan kedua terbesar di dunia setelah industri minyak bumi. Ini yang disebut dengan perlombaan menuju dasar (race to the bottom) di dunia bisnis. Hal ini mengawali bagaimana kita membongkar sisi gelap dari industri apparel (pakaian) dunia[iii], sambil kita coba runut mata rantai demi mata rantai.

Rantai nilai industry apparel

Jeratan Hutang di Sektor Pertanian Kapas
Cerita gelap industri sandang dimulai dari hulu, di bentangan lahan pertanian di pusat-pusat produksi bahan baku tekstil dunia. Saya ingin mengangkat satu komoditas pertanian yang menjadi bahan baku utama kain dunia: katun, yang terbuat dari tumbuhan bernama kapas (Gossypium spp.). China adalah penghasil kapas terbesar, disusul oleh India dan Amerika serikat. Ketika China diuntungkan oleh pertumbuhan ekonomi yang pesat dan produksi pertanian massal, India memiliki cerita yang berbeda. Pertanian kapas di India memiliki sejarah  panjang dari 5000 tahun yang lalu di lembah sungai Indus, dan dari sana industri katun berkembang di dunia. Semua berjalan baik hingga masa kolonialisme di mana kerajaan Inggris menerapkan politik dagang yang ketat terhadap katun di India. Sejak saat itu, sekalipun industri katun di India berkembang baik, kesejahteraan petani semakin menurun. Buku A Frayed History: The Journey of Cotton in India tulisan Meena Menon dan Uzramma menceritakan secara gamblang tentang perjalanan getir ini.

Untuk mengilustrasikan ini lebih jauh, coba teman-teman cari di Google menggunakan kata kunci ‘farmer’s suicide’, dan berita pertama yang keluar adalah kisah tentang para petani kapas di India. Sejak tahun 1995, telah ada lebih dari 200.000 kasus bunuh diri petani. Menurut artikel yang ditulis di kantor berita CNN[iv], ada 2-3 orang petani di India yang bunuh diri setiap harinya! Keterjeratan para petani dengan hutang adalah penyebab utamanya. Iklim muson sangat berpengaruh terhadap produksi kapas, disertai rentannya kapas akan hama yang menuntut penggunaan pestisida besar-besaran. Saat cuaca tidak bersahabat, produksi kapas bisa hancur seketika. Di sisi lain, saat produksi membaik, harga kapas seringkali anjlok di bawah harga dasar bagi petani. Pengenalan kapas transgenik, yang semula diharapkan memberi solusi, justru memperburuk keadaan karena petani semakin terikat oleh harga bibit kapas transgenik dan hama ulat buah yang mulai menunjukkan resistensi, sebagaimana dilansir kantor berita The Guardian[v].

Merefleksikan fenomena ini pada produksi pangan dunia, cerita petani India dan kapas adalah kisah klasik petani yang bergantung pada komoditas global. Di Indonesia, cerita ini jamak didengar untuk komoditas seperti kopi, kakao, karet, pala atau cengkeh, yang harganya mengikuti harga internasional, sehingga para petani bergantung pada pasar yang berada di luar jangkauan mereka, dan  mereka tidak bisa mengkonsumsi produk itu sendiri. Hasil akhirnya adalah keadaan di mana para petani menjadi price-taker dan sangat rentan terhadap berbagai faktor di luar kuasa mereka. Hal yang sama juga bisa kita lihat pada para buruh di pabrik-pabrik tekstil.

Perlombaan ke Dasar di Industri Tekstil dan Konveksi
Kini kita bergeser ke bagian tengah dari rantai industri sandang. Industri tekstil menerima kapas, wol, linen atau kepompong sutera dari para petani, memintalnya menjadi benang, menenun dan mewarnainya menjadi kain siap olah. Industri konveksi kemudian memola, memotong, menjahit dan menyablon kain ini menjadi pakaian siap pakai. Di sepanjang proses ini, industri menekan biaya produksi hingga serendah-rendahnya atas dasar efisiensi. Bahan baku ditarik dari pusat-pusat produksi yang paling efisien (atau yang mau menawarkan harga paling murah), dan oleh karena itu menyebabkan banyak petani menjadi korban. Semi-mekanisasi produksi membutuhkan tenaga kerja tanpa keterampilan khusus (buruh pabrik) yang dapat dibayar semurah mungkin. Studi Gereffi tentang industri sandang global menunjukkan bahwa manufaktur tekstil dan konveksi akan cenderung mengarah pada negara-negara yang dapat menawarkan harga tenaga kerja termurah. Alhasil, industri pakaian di Jepang, China dan Korea meng-outsource-kan produksinya ke India, Bangladesh, dan negara-negara Asia tenggara (termasuk Indonesia), industri Eropa ke Afrika, dan  Amerika Serikat dan Kanada ke Amerika Latin. Saat undang-undang ketenagakerjaan di negara-negara tersebut diperketat, perusahaan akan bereaksi dengan memindahkan pabriknya ke negara lain.

Banyak tulisan telah menunjukkan bahwa race to the bottom untuk tenaga kerja di industri tekstil dan konveksi telah banyak memakan korban. Kebakaran besar di pabrik garmen di Amerika Serikat sekira satu abad yang lalu yang menewaskan lebih dari 100 pekerja menjadi catatan sejarah kelam. Satu abad kemudian, kejadian serupa terjadi di Rana Plaza di Bangladesh di mana runtuhnya bangunan pabrik menewaskan lebih dari 1000 pekerja (10 kali lipat dari kejadian di AS). Polanya serupa. Pengusaha tidak memerhatikan kondisi bangunan dan keselamatan pekerja demi mengejar keuntungan. Kejadian di Rana Plaza tahun 2013 lampau membukakan mata banyak orang tentang kondisi kerja dan kesejahteraan para buruh pabrik di banyak negara-negara berkembang di mana industri tekstil dan konveksi bertahan. Belum lagi apabila kita hitung segala dampak dari limbah bahan-bahan kimia yang digunakan sebagai pemutih, pewarna, dan enzim untuk tekstil atau pewarna sablon yang dibuang ke badan sungai di banyak tempat, termasuk di sekitar Bandung.

Tanggung Jawab Konsumen di Ujung Rantai
Baik pertanian serat maupun industri garmen mungkin bisa disalahkan di balik segala kerusakan lingkungan dan eksploitasi buruh di negara-negara berkembang di dunia. Akan tetapi, kita sebagai konsumen memiliki andil yang sama besarnya. Perlombaan menuju dasar di dalam industri sandang bersumber dari pola hidup masyarakat yang serba cepat dan murah. Ada harga yang mahal di balik pakaian murah yang kita beli di pasar. Meskipun demikian, pakaian mahal juga tidak menjamin bahwa produk yang kita beli lebih berkelanjutan. Retailer dan industri fashion mengambil nilai sangat banyak dari tren dan mode tanpa mengindahkan para pelaku usaha di bagian hulu mereka. Jadi, harga mahal yang kita bayarkan mungkin tidak pernah kembali kepada para petani dan buruh pabrik. Lebih parah lagi, fashion yang cepat berganti berimplikasi pada perputaran barang yang semakin cepat pula. Ujung dari rantai industri ini adalah tempat pembuangan sampah akhir yang dipenuhi oleh bergulung-gulung pakaian-pakaian bekas yang bisa jadi masih layak pakai. Semua mungkin hanya karena tren mode tahun ini sudah berbeda dengan apa yang in tahun lalu.

Menjadi konsumen pakaian yang bertanggung jawab di Indonesia, di masa sekarang, memang lebih sulit ketimbang menjadi konsumen pangan yang bertanggung jawab. Dalam hal pangan, kita selalu bisa mulai dari tanaman di pekarangan kita sendiri, atau membeli produk-produk dari petani lokal. Tapi bagaimana dengan pakaian? Apakah membeli baju dari toko di sebelah rumah berarti bahwa kita telah membantu memutus mata rantai industri sandang global? Atau apakah kita perlu memintal benang dan menenun kain sendiri agar bisa lebih berkelanjutan? Tentunya tidak semudah itu pula.

Menjadi konsumen pakaian yang bertanggung jawab membutuhkan beberapa pengorbanan kecil. Hal ini dimulai dengan menyadari bahwa kita tidak membutuhkan pakaian sebanyak itu. Selain itu, berbeda dengan pangan yang bersifat perishable, kita bisa memilih pakaian yang lebih tahan lama bagi kita. Memilih pakaian yang sedikit lebih mahal karena daya tahannya jelas lebih baik daripada memilih pakaian yang murah tetapi cepat sekali rusak -- tidak hanya karena kita menghasilkan lebih sedikit limbah, tetapi juga karena kita mungkin membayar lebih besar bagi para pelaku di tingkat hulu. Ini juga jelas lebih baik ketimbang memilih pakaian mahal karena mode, penjahit atau brand-nya.  Apabila kita mau dan mampu, mulai banyak pakaian-pakaian berlabel hijau (eco-fashion) yang dijual di pasaran. Tetapi seandainya pun harganya tidak terjangkau, kita bisa lebih bertanggung jawab dengan apa yang kita punya -- kurangi konsumsi kita, dan perlama pemakaian pakaian kita.


[1]Minyak bumi datang belakangan, menghasilkan produk serat sintetik seperti polyester, nilon, dan spandex.



Rujukan
[i]Gereffi, G. (1999). International trade and industrial upgrading in the apparel commodity chain. Journal of international economics48(1), 37-70.
[ii] Salah satu tulisan tentang kontribusi industri tekstil terhadap pencemaran lingkungan dapat dilihat di https://www.alternet.org/environment/its-second-dirtiest-thing-world-and-youre-wearing-it
[iii]Gereffi, G., & Memedovic, O. (2003). The global apparel value chain: What prospects for upgrading by developing countries(pp. 5-6). Vienna: United Nations Industrial Development Organization.