Showing posts with label Editorial. Show all posts
Showing posts with label Editorial. Show all posts

[EDITORIAL] PRO:AKTIF ONLINE NO. 22 / APRIL 2019


Salam Transformasi!

Pro:aktif Online kembali hadir di tengah pembaca sekalian. Dalam edisi kali ini, KAIL membawakan tema “Ekonomi Baru: Peluang dan Tantangannya”. Ekonomi secara bahasa berakar dari Bahasa Yunani “oikonomia” yang berarti seni mengatur rumah tangga. Mengatur rumah tangga di sini, erat kaitannya dengan pengaturan sumberdaya, yang bertujuan agar manusia memperoleh kesejahteraan. Namun demikian, upaya manusia untuk memperoleh kesejahteraan tersebut bergeser hingga akhirnya sistem ekonomi dipandang sebatas pada perdagangan, hal-hal terkait dengan uang, maupun usaha eksploitasi sumber daya materi.

Ekonomi di masa kini mengalami bentuk baru yang ditopang oleh kemajuan di bidang teknologi informasi atau komunikasi atau yang lebih sering kita kenal dengan istilah dikenal sebagai ekonomi digital. Ekonomi digital ini menjadi menarik karena sifatnya yang mengganggu (bahasa kerennya disrupt) semua bentuk praktik ekonomi konvensional. Hampir semua aspek kehidupan kita sehari-hari pun terpapar oleh teknologi digital. Dalam abad yang disebut sebagai abad disrupsi (the age of disruption), diktum yang beredar adalah terdigitalisasi atau terlindas zaman.

Begitu masifnya dampak yang ditimbulkan oleh penemuan-penemuan teknologi ini, beberapa pihak bahkan sampai menyebutkan bahwa kita tengah berada di dalam sebuah awal dari masa yang baru. Sesuatu yang oleh beberapa pihak disebut sebagai revolusi industri 4.0. Dengan penemuan teknologi-teknologi baru di bidang informasi dan komunikasi seperti IoT, AI, sampai Blockchain, revolusi industri ini akan ditandai oleh terkoneksinya semua hal, dari mulai manusia, benda, hingga komputer. Hal inilah yang membuat Klaus Schwab, salah satu co-founder dari World Economic Forum dan juga pemopuler istilah ini, mendefinisikan revolusi industri 4.0 sebagai mengaburnya batas-batas antara dunia digital, dunia fisik, serta dunia biologis.

Merasuknya teknologi informasi dan komunikasi di semua lini kehidupan pun membawa dampak yang cukup signifikan, terutama bagi ekonomi. Dengan semua aspek kehidupan yang kini dapat terhubung dengan internet, jarak dan waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan sebuah nilai dalam aktivitas ekonomi pun dapat dipangkas menjadi sangat kecil. Bahkan Jeremy Rifkin, seorang ekonom dari Amerika Serikat, menyatakan bahwa kita kini berada di dalam zero marginal cost society, sebuah masyarakat dimana marginal cost, biaya yang ditambahkan kepada biaya total dalam memproduksi sebuah produk (jasa atau barang) karena diproduksi secara massal (lebih dari satu), mulai jatuh mendekati angka nol.

Namun hilangnya biaya jarak dan waktu tersebut juga mengakibatkan hal yang tidak dapat kita duga. Kita merasakan bahwa roda ekonomi berputar begitu cepat. Hal ini membuat apa yang kita kira sebagai praktik umum ekonomi di masa kini dapat berubah hanya dalam waktu satu pekan bahkan kurang. Hal ini membuat kita merasa kebingungan dan tidak dapat menerka, sesungguhnya kemana bergeraknya roda ekonomi digital ini? Apakah tengah membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik, atau sebaliknya?

----

Untuk memahami hal tersebut, maka pada Pro:aktif kali ini, Angga Dwiartama akan mengajak kita secara bersama-sama untuk memahami apa makna sesungguhnya dari kata revolusi industri 4.0 pada Rubrik PIKIR. Pada Rubrik ini, Angga akan mengupas secara tuntas apa sesungguhnya yang disebut dengan revolusi industri 4.0 itu, bagaimana dia berdampak kepada hidup kita sehari-hari, hingga bagaimana kita seharusnya menyikapi kata ini dengan bijak.

Setelah itu, pada Rubrik MASALAH KITA, Achmad Assifa akan mengajak kita memahami bagaimana ekonomi digital merubah struktur dasar aktivitas ekonomi kita menjadi sebuah model ekonomi yang disebut sebagai Gig Economy. Gig Economy adalah sebuah model ekonomi dimana hubungan antara pekerja dan majikan bersifat fleksibel dalam hal ruang dan waktu. Hal ini dimungkinkan oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sendiri yang membuat kita dapat bekerja kapan saja dan dimana saja. Meskipun memberikan banyak kemudahan baik bagi para pekerja, yang dicirikan oleh mulai menjamurnya jenis pekerja lepasan (freelancer), menurut Sifa model ekonomi yang dipopuleri oleh Uber dan AirBnB ini  ternyata menghasilkan beragam permasalahannya sendiri.

Sementara untuk Rubrik OPINI, Pro:aktif kali ini akan diisi oleh M. Sena Luphdika yang akan membahas mengenai akar permasalahan dari ketimpangan dalam sistem ekonomi yang berjalan saat ini. Dari sana Sena akan membahas mengenai salah satu kemungkinan jalan keluar yang ternyata telah berada di Indonesia cukup lama, yaitu model ekonomi koperasi. Di sini juga Sena akan membahas mengapa koperasi itu menjadi salahsatu jalan keluar yang paling mungkin serta contoh-contoh nyata keberhasilan dari model koperasi di seluruh dunia.

Pada Rubrik TIPS kali ini kita akan mendapati bagaimana tips dan trik untuk membuat pikiran yang lebih sehat melalui teknik KonMari dari Aristogama. Teknik yang dipopulerkan oleh Marie Kondo ini terbukti menjadi sangat penting karena di zaman yang serba cepat dan baru ini, manusia semakin berperilaku konsumtif dan sangat bergantung produk-produk tertentu. Teknik KonMari mampu menjernihkan manusia dari segala perilaku konsumtif dan kemelekatan terhadap produk tertentu.  Gamma, menceritakan melalui pengalamannya dalam mempelajari teknik KonMari, berbagi kepada kita bahwa ternyata dengan secara sadar menyadari “kemelekatan” psikologis yang ada pada diri kita terhadap barang-barang kita, kita secara perlahan juga dapat mulai kembali menjernihkan pikiran kita dari segala kecenderungan kita untuk selalu membeli atau berbelanja. Kesadaran ini tentu merupakan langkah awal menuju pada kemandirian ekonomi.

Pada Rubrik PROFIL, Jeremia Manurung mewawancarai Sena Luphdika yang merupakan salah satu co-founder serta CEO dari perusahaan start-up digital bernama Meridian.id yang juga merupakan seorang pegiat koperasi. Dalam wawancaranya kali ini, Jeremia memperlihatkan kepada kita bagaimana perjalanan Sena yang tidak puas dengan ketidakadilan yang terjadi dalam dunia start-up digital dan sistem ekonomi secara umum membawanya kepada ide mengenai koperasi. Tidak saja terbatas pada sekedar ide, dalam wawancaranya kali ini juga Jeremia memperlihatkan bagaimana Sena mulai menerapkan ide mengenai koperasi tersebut menjadi sebuah aksi nyata yang bisa dimulai dari hal yang kecil yang berada di sekitar kehidupan kita sehari-hari.

Rubrik MEDIA akan dibawakan oleh Fransiska Damarratri yang akan membahas bagaimana sesungguhnya praktik di belakang sistem ekonomi yang menghasilkan krisis 2008 di Amerika Serikat dalam film The Big Short. Dalam reviewnya kali ini Siska akan mengulas bagaimana film ini menunjukan kepada kita cara kerja sesungguhnya dari mesin ekonomi yang berjalan di dunia pada umumnya dan Amerika Serikat khususnya. Selain itu Siska juga membahas bagaimana praktik-praktik di belakang sistem ini berdampak secara negatif terhadap ekonomi serta kehidupan kita sehari-hari.

Pada Rubrik JALAN-JALAN kali ini, kita akan dibawa oleh Sally Anom melalui pengalamannya untuk berkunjung ke Suku Baduy Dalam. Dalam perenungannya yang mendalam ini mengenai cara hidup masyarakat Baduy Dalam, Sally memberikan kita perspektif yang segar mengenai cara hidup masyarakat tersebut dalam melakukan praktik ekonomi. Di sana Sally menceritakan bagaimana kegiatan ekonomi dari suku Baduy dalam yang bertumpu kepada azas hidup secukupnya serta  menjaga kelestarian alam sehingga dalam kegiatan transaksi mereka jarang sekali untuk menggunakan uang. Salah satu perspektif yang segar yang dapat membantu kita untuk merenungi bagaimana praktik ekonomi alternatif yang mungkin bagi sistem yang berjalan sekarang ini.

Sebagai penutup, pada Rubrik RUMAH KAIL kali ini Any Sulistyowati akan membagikan bagaimana pengalaman KAIL dalam membangun kemandirian ekonomi melalui kegiatan berkebun di program Hari Belajar Anak atau disingkat HBA. Melalui kegiatan berkebun di HBA, KAIL berusaha untuk membangun kemandirian ekonomi yang dimulai dengan memupuk kesadaran bahwa berkebun dan mengolah pangan dari hasil kebun memampukan mereka untuk membuat makanan sendiri dan tidak bergantung dari makanan yang dibeli dari luar. Kemandirian dari sisi pangan ini diharapkan menjadi awal dari kemandirian ekonomi. Kegiatan ini diperkenalkan kepada anak-anak, dimana harapannya sehingga ketika mereka dewasa mereka akan mulai bisa memulai mempraktekkan kemandirian tersebut di rumah tangga masing-masing.

----

Akhir kata, keseluruhan artikel dalam edisi ini diharapkan dapat menginspirasi kita semua terutama dalam hal (1) memahami bagaimana sesungguhnya roda ekonomi yang ditunjang oleh perkembangan teknologi digital informasi dan komunikasi ini bekerja, manfaat, peluang, serta tantangannya (2) mengimajinasikan kemungkinan-kemungkinan dari bentuk-bentuk praktik ekonomi yang lain; serta yang terakhir (3) mengambil tindakan-tindakan nyata yang dapat membuat praktik kehidupan yang ditunjang oleh bentuk-bentuk ekonomi baru tersebut ke arah kesejahteraan masyarakat secara lebih luas dan selaras alam.

Semoga dengan diterbitkan Pto:aktif edisi baru ini kita bersama dapat lebih memahami lagi perubahan besar apa yang sesungguhnya tengah terjadi di antara kita semua yang diakibatkan oleh teknologi digital dan dapat mengambil tindakan nyata sehingga kehidupan manusia ke depannya tidak berjalan menuju ke arah yang lebih buruk melainkan berjalan ke arah yang lebih selaras dengan manusia dan alam.

Tim Editor:
Kukuh Samudra
Okie Fauzi Rachman
Navita Kristi Astuti

[EDITORIAL] PRO:AKTIF ONLINE NO 21/ DESEMBER 2018


Salam Transformasi!

Di penghujung tahun ini, Pro:aktif Online kembali hadir di tengah-tengah Anda. Setelah pada dua edisi sebelumnya kita merefleksikan kebutuhan dasar manusia, yaitu pangan dan papan, kini kami mengajak pembaca sekalian untuk merefleksikan ”sandang" sebagai kebutuhan dasar manusia.
Manusia mengenakan sandang atau pakaian untuk berbagai hal antara lain: melindungi tubuh dari cuaca dingin maupun panas, kesopanan, mendukung tubuh untuk melakukan berbagai aktivitas tertentu (misalnya: perenang, penyelam, koki (chef), tukang las, pegawai pabrik, dan sebagainya) atau sebagai penunjuk identitas budaya atau kelompok tertentu. Namun demikian, dalam proses produksi sandang terdapat beberapa masalah terkait lingkungan maupun manusia yang mendukung pengadaan sandang tersebut.

Maka, dibalut dalam tema “Tantangan Pemenuhan Kebutuhan Sandang di Masa Kini” kami sajikan artikel-artikel yang diharapkan dapat membuka wawasan para pembaca sekalian untuk memahami lika-liku proses penyediaan kebutuhan sandang dikaitkan dengan isu lingkungan yang berkelanjutan maupun kesetaraan bagi manusia yang terlibat di dalam setiap tahap prosesnya. Mari kita simak gambaran artikel edisi kali ini.

Rubrik PIKIR yang dibawakan oleh Umbu Justin menggelitik kita dengan pemikiran tentang sandang sebagai alat pendukung pencitraan manusia, namun di saat yang bersamaan, ia begitu cepat dan mudah dilucuti, sehingga citra manusia seolah-olah cepat pula berganti. Hal yang paling menggelitik dari artikel ini, adalah hubungan antara martabat manusia dengan sandang yang dikenakannya. Apakah martabat manusia dapat berubah-ubah secepat atau semudah bergantinya sandang di tubuh kita?

Rubrik MASALAH KITA dibawakan oleh Any Sulistyowati, yang menuturkan tentang permasalahan seputar produksi hingga konsumsi sandang dikaitkan dengan dampaknya terhadap lingkungan dan peradaban manusia. Ia menghadirkan sejumlah faktor penghambat manusia dalam mengonsumsi sandang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Berdasarkan faktor-faktor tersebut, penulis memberikan saran untuk menyikapi hambatan-hambatan tersebut agar tercapai pemenuhan kebutuhan sandang yang lebih ramah bagi lingkungan maupun masyarakat.

Rubrik OPINI menghadirkan artikel dari Angga Dwiartama yang menelisik rantai produksi sandang di masa kini. Ia mengajak pembaca untuk kilas balik perjalanan industri sandang dunia sejak sebelum revolusi industri hingga diciptakannya mekanisme yang memungkinkan sandang tersaji dengan cepat di hadapan konsumen. Dalam proses penyajian secara cepat itu, Angga memotret berbagai ketimpangan yang rupanya merugikan lingkungan maupun manusia-manusia yang terlibat di dalamnya. Di akhir artikel, Angga menekankan pentingnya peran pada ujung rantai produksi-konsumsi sandang, yaitu konsumen itu sendiri.

Rubrik TIPS menghadirkan artikel yang ditulis oleh Any Sulistyowati. Artikel ini membahas tentang penggunaan popok bayi. Ia menuliskan tentang kelebihan dan kekurangan dua jenis popok, yaitu popok sekali pakai dan popok kain. Titik berat utama dari artikel ini adalah pada langkah-langkah praktis penggunaan popok kain yang diyakini meminimalkan potensi kerusakan lingkungan dibandingkan penggunaan popok sekali pakai.

Rubrik MEDIA dibawakan oleh Jeremia yang menulis ulasannya tentang sebuah film berjudul True Cost. Di dalam film tersebut digambarkan mengenai biaya produksi sandang yang meningkat pesat dalam 15 tahun terakhir, namun produk sandang yang dihasilkan dijual dengan harga murah dan perusahaan pakaian masih mendapatkan untung yang cukup besar. Pembuat film ini, Andrew Morgan dan para pendukungnya, melakukan penelitian dan pendokumentasian tentang biaya-biaya ”lainnya” yang ditekan secara luar biasa demi meraup keuntungan yang demikian besar.

Rubrik JALAN-JALAN dibawakan oleh Yosepin Sri Ningsih. Dari carut marut industri sandang yang membawa kita semua pada keprihatinan isu lingkungan maupun keadilan dan kesetaraan manusia, Yosepin membawa kita pada geliat aktor-aktor yang membawa harapan baru terwujudnya proses produksi ramah lingkungan, serta memberdayakan manusia yang terlibat di dalamnya. Dua aktor yang digambarkan dari artikel ini, yaitu Kana Goods dan Bixa Batik, telah mewakili sekian banyak pelaku produksi sandang yang keluar dari mainstream produksi sandang masa kini.

Kait Nusantara, yang dibawakan oleh Nita Roshita dalam Rubrik PROFIL, juga merupakan aktor pembaharu dalam gerakan produksi sandang ramah lingkungan. Didukung oleh lima perempuan dengan latar belakang pendidikan yang berbeda, Kait Nusantara bergerak memberdayakan masyarakat di pedesaan untuk secara arif menyelamatkan sumber daya alam yang ada di desa, sekaligus manfaatkan sumber daya alam sebagai produk yang bernilai pakai.

Sebagai pendukung gerakan sandang ramah lingkungan dan setara bagi manusia yang terlibat di dalamnya, Kail tentu mempraktekkan prinsip-prinsip keberlanjutan dalam pengelolaan produk sandang di Rumah Kail. Oleh karena itu, Rubrik RUMAH KAIL yang dibawakan oleh Didit Indriati membagikan pengalaman Kail dalam pemanfaatan produk sandang. Pengalaman ini tertuang dalam kegiatan-kegiatan bersama warga sekitar, aktivis maupun dalam praktek keseharian di Rumah Kail itu sendiri.

Akhir kata, keseluruhan artikel dalam edisi ini diharapkan menginspirasi kita semua,yaitu: (1) dimulai dari penelusuran sejarah produksi sandang dunia, hingga perubahan yang terjadi di masa kini yang telah berperan dalam penurunan kualitas alam dan manusia. (2) berlanjut pada tawaran solusi yang perlu segera dipraktekkan, yaitu penyadaran bagi tiap individu, yang dalam hal ini merupakan konsumen sandang. Sebagai konsumen, kita sadar, bahwa dalam setiap pilihan dan tindakan kita telah turut berkontribusi kepada kualitas alam maupun sesama manusia, dan (3) penyadaran tersebut telah membuahkan beberapa aksi nyata dari beberapa pihak yang mengupayakan produksi sandang ramah lingkungan, kita perlu mendukung dan sebisa mungkin menularkan aksi positif tersebut kepada semakin banyak orang.

Akhir kata, seiring dengan semangat pergantian tahun, mari mulai upayakan agar kita semua semakin mengambil tanggung jawab terhadap pilihan dan tindakan yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan sandang untuk mendorong tercapainya kualitas hidup manusia yang lebih baik serta selaras dengan alam.

[EDITORIAL] PRO:AKTIF ONLINE NO 20/AGUSTUS 2018


Salam Transformasi!

Di bulan Agustus ini, Pro:aktif Online kembali hadir di tengah-tengah Anda. Setelah pada edisi sebelumnya kita merefleksikan salah satu kebutuhan dasar, yaitu pangan, kini kami mengajak pembaca sekalian untuk merefleksikan ‘papan’ yang juga merupakan kebutuhan mendasar dalam hidup manusia.

Papan (shelter atau hunian) yang memadai adalah salah satu kebutuhan paling mendasar manusia. Manusia butuh tempat untuk bermukim: beristirahat, berlindung, dan berkegiatan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan baik secara individu maupun kolektif. Papan yang memadai akan mendukung kondisi jiwa dan raga manusia yang tinggal di dalamnya. Sehingga, kondisi hunian serta pemukiman yang memadai hendaknya dapat mendukung pencapaian kualitas hidup kita sebagai manusia. Tercapainya kualitas hidup yang baik, mengoptimalkan kemampuan manusia untuk beraktivitas, mewujudkan visi dan misi hidupnya di dunia.

Oleh karena itu, dengan mengusung tema “Tantangan Pemenuhan Kebutuhan Papan (Hunian) di Masa Kini” kami mengajak Anda untuk menelusuri artikel-artikel di dalam edisi ini.
Rubrik PIKIR menghadirkan tiga buah tulisan, yang mengajak pembaca untuk merefleksikan makna sebuah rumah atau tempat tinggal. Dua artikel yang dibawakan oleh Eventus Ombri Kaho dan Umbu Justin mengungkapkan tentang makna sebuah rumah bagi masyarakat tradisional di kedua tempat berbeda di Indonesia, yaitu di Besikama (Kabupaten Malaka) dan Weelewo (Kabupaten Sumba Barat Daya). Bagi masyarakat di kedua tempat tersebut, rumah tak hanya berfungsi sebagai tempat berlindung semata. Rumah merupakan pusat aktivitas spiritual, yaitu ruang pertemuan manusia dengan Sang Pencipta sekaligus perwujudan daya juang manusia di tengah alam semesta ini. Setiap bagian dari rumah yang mereka bangun memiliki maknanya masing-masing yang terhubung dengan pengalaman spiritual tersebut. Artikel ketiga dari rubrik ini, masih oleh Umbu Justin, mengajak pembaca untuk merenungkan sebuah seni membangun ‘papan’ atau bangunan tempat tinggal menurut sudut pandang almarhum Romo Mangunwijaya Pr., seorang rohaniwan sekaligus arsitek. Bagi Romo Mangun, membangun sebuah rumah adalah pemaknaan kembali hidup manusia yang bertarung dalam kompleksitas hidup sekaligus merayakan keindahan dari kehidupan itu sendiri.

Rubrik MASALAH KITA dibawakan oleh Kristoporus Primeloka, membawakan permasalahan yang dihadapi sebagian besar masyarakat Indonesia dalam pemenuhan tempat tinggal, yaitu fenomena terpusatnya lokasi pembangunan perumahan yang pada lokasi mata pencaharian, yang berakibat pada terjadinya arus perpindahan masyarakat mendekati lahan pencaharian, yang kemudian mengakibatkan masalah lainnya, seperti terbentuknya perkampungan kumuh-padat penduduk dan terjadinya penggusuran. Penyebab lain dari kepadatan pemukiman adalah terdapatnya paradigma bahwa satu keluarga perlu memiliki satu rumah. Penulis menggugah pembaca dengan pemikiran tentang alternatif lain yang bisa dilakukan terkait dengan pengadaan rumah bagi keluarga.

Rubrik OPINI menghadirkan artikel dari Ari Ujianto yang mengungkapkan permasalahan yang sama seperti di rubrik sebelumnya, yaitu kurangnya akses perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Di dalam artikel tersebut, Ari Ujianto mengajukan dua terobosan bagi pemenuhan hak atas tempat tinggal yang layak bagi masyarakat, pertama, melalui perbaikan kebijakan pemerintah atas penataan perumahan bagi rakyat, kedua, melalui peningkatan keswadayaan masyarakat dalam mencukupi kebutuhan tempat tinggalnya.        

Rubrik TIPS menghadirkan tiga artikel. Dua artikel ditulis oleh Any Sulistyowati. Artikel pertama, berdasar pengalaman pribadinya, Any Sulistyowati menulis tentang langkah-langkah membangun rumah impian sesuai dengan kondisi aktual sumberdaya maupun finansial yang dimiliki. Sedangkan pada artikel kedua, masih ada hubungannya dengan artikel pertama, adalah tentang langkah-langkah membangun tempat tinggal dengan biaya hemat dan selaras alam, yaitu dengan material bekas. Pembaca dapat mempelajari latar belakang pemilihan material membangun rumah yang selaras dengan alam di dalam artikel ini. Artikel ketiga, ditulis oleh Jaladri, yang menuliskan tentang gaya hidup hemat dan selaras alam yang perlu dilakukan oleh aktivis dalam bertempat tinggal.

Rubrik MEDIA dibawakan oleh Kukuh Samudra yang menulis resensi sebuah buku berjudul Halaman Rumah/YARD, dari Tanah Indie, sebuah komunitas pemerhati isu papan di Makassar. Buku tersebut memuat esai-esai terkait pekarangan atau halaman rumah sebagai bagian dari tempat tinggal manusia, yang dibidik dari berbagai tema, yaitu antara lain: tradisi, interaksi sosial dan ruang hidup.

Rubrik JALAN-JALAN dibawakan oleh Any Sulistyowati. Artikelnya membawa pembaca untuk melihat sebuah komunitas bernama Cobb Hill Community Co-housing di Amerika Serikat.  Cobb Hill merupakan sebuah komunitas yang bertempat tinggal bersama sekaligus menjalankan pola hidup bersama untuk hidup selaras alam. Komunitas tersebut memenuhi kebutuhan harian mereka secara mandiri. Oleh karena itu, selain membangun rumah-rumah tempat tinggal, komunitas ini melengkapinya dengan lahan pertanian dan peternakan sebagai sarana pemenuhan kebutuhan hidup.
Rubrik PROFIL dibawakan oleh Fransiska Damarratri yang menulis profil 4 komunitas dan organisasi pemerhati isu papan yang ada di Indonesia.  Dari artikel tersebut, kita dapat mengetahui bahwa terdapat sepak terjang berbagai pihak di Indonesia maupun di dunia, yang mengupayakan tercapainya ruang hidup yang lebih baik, swadaya, dan bersama (komunal) bagi seluruh masyarakat.

Rubrik RUMAH KAIL dibawakan oleh Didit Indriati yang membagikan pengalaman KAIL dalam merawat dan memelihara rumah dan kebun dengan cara yang selaras dengan alam.

Keseluruhan artikel dalam edisi ini diharapkan menginspirasi kita semua, dimulai dari pemetaan masalah-masalah yang muncul seputar pemenuhan kebutuhan akan tempat tinggal. Untuk mengatasi masalah, disajikan berbagai tawaran solusi antara lain : (1) alternatif cara mengorganisir diri dan masyarakat agar swadaya dalam pemenuhan kebutuhan tempat tinggal, (2) penerapan gaya hidup bertempat tinggal, (3) cara-cara membangun dan merawat rumah yang selaras alam. Kita dapat mengetahui berbagai pihak baik individu maupun komunitas telah mengupayakan langkah-langkah pemenuhan ruang hidup yang lebih baik dari hari ke hari, demi tercapainya kualitas hidup manusia yang semakin baik serta selaras dengan alam.

Akhir kata, seiring dengan gempita peringatan kemerdekaan Republik Indonesia yang jatuh pada bulan ini, kami berharap bahwa kita semua semakin merdeka terhadap pilihan dan tindakan yang kita ambil sehubungan dengan pemenuhan ruang hidup yang mendorong tercapainya kualitas hidup manusia yang lebih baik serta selaras dengan alam.

MERDEKA!

Navita Kristi Astuti

[EDITORIAL] PRO:AKTIF ONLINE NO 19/APRIL 2018


Salam transformasi,

Pro:aktif Online kembali hadir di tengah pembaca sekalian. Dalam edisi ini, mari kita refleksikan salah satu proses pemenuhan kebutuhan dasar manusia, yaitu pangan.

Salah satu kebutuhan dasar manusia adalah pangan yang memberi asupan nutrisi dan energi untuk berkembang serta beraktivitas. Sebagai kebutuhan dasar, kebutuhan pangan harus dipenuhi oleh setiap manusia secara cukup, tidak berlebih dan tidak kekurangan. Jika manusia kekurangan atau kelebihan konsumsi pangan, maka kesehatannya akan terganggu. Manusia telah mengembangkan berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Berbagai kemajuan telah dicapai, baik dari sisi produksi pangan, maupun kualitas pengolahannya. Namun demikian, apakah cara-cara tersebut memberikan pengaruh yang baik pada kesehatan manusia dan kelestarian alam? Adakah dampak-dampak negatif dari sistem pangan yang ada sekarang? Apa saja upaya yang dapat dilakukan untuk mendapatkan pangan yang sehat sekaligus ramah lingkungan?

Dengan tema “Tantangan Pemenuhan Kebutuhan Pangan yang Sehat dan Ramah Lingkungan” Pro:aktif Online menghadirkan berbagai tulisan untuk merefleksikan tema tersebut.

Berikut ini adalah artikel-artikel yang ada di dalam Proaktif Online edisi ini.

Rubrik PIKIR mengajak kita merenungkan pilihan pangan dan makna pangan dari dua sudut pandang yang berbeda. Di satu sisi, Angga Dwiartama merefleksikan pilihan pangan sebagai sebuah pilihan politik yang menubuh. Ketika satu pilihan diambil oleh pemilik tubuh, misalnya pilih junk food atau pangan sehat, maka seketika itu pula tubuh menyatakan haluan politiknya. Di sisi yang lain, Umbu Justin merefleksikan makna proses makan pada manusia yang sejatinya merupakan wujud dari interaksi manusia dengan alam. Orisinalitas proses makan kini banyak dikaburkan oleh ego manusia. Ketika ego manusia dimenangkan, makan dapat menjadi proses yang menginjak-nginjak pihak lain, termasuk alam itu sendiri.

Dalam rubrik MASALAH KITA, dua penulis mengangkat bagaimana produksi dan konsumsi manusia saat ini telah berdampak pada kesehatan manusia dan keberlanjutan alam. Penulis pertama, Any Sulistyowati menceritakan secara singkat berbagai persoalan pangan yang terjadi saat ini dari aspek produksi dan konsumsi, baik di tingkat lokal dan global. Sementara penulis kedua, Fransiska Damarratri memaparkan bagaimana pengaruh tingginya aktivitas manusia pada atmosfer bumi dan bagaimana pola produksi dan konsumsi tersebut telah menjadi kekuatan geologis sendiri yang mengancam keberlanjutan alam.   

Fictor Ferdinand dalam rubrik OPINI menuliskan pendapatnya bahwa pemenuhan kebutuhan pangan berada di antara hubungan paternalistik antara pemerintah dengan warga negara. Pemenuhan kebutuhan pangan warga negara dikondisikan menjadi tergantung kepada program-program dan kebijakan pemerintah. Menurutnya, pemerintah seharusnya menetapkan kebijakan-kebijakan yang membuat warga negaranya mandiri dalam pemenuhan kebutuhan pangan mereka.

Dalam Rubrik TIPS, Any Sulistyowati memamparkan pilihan-pilihan upaya pemenuhan kebutuhan pangan yang sehat sekaligus ramah lingkungan. Apabila semakin banyak orang mempraktekkan upaya-upaya ini, diharapkan akan terwujud sistem pangan yang sehat dan ramah lingkungan, serta semakin banyak orang mampu meningkatkan kualitas hidup mereka.

Navita K. Astuti membuat resensi buku Gesang di Lahan Gersang yang ditulis oleh Diah Widuretno dalam rubrik MEDIA. Buku tersebut memuat sepak terjang penulis bersama masyarakat dampingannya di Desa Girimulya, Kabupaten Gunungkidul, dalam pendidikan berbasis kondisi sosial dan budaya masyarakat, termasuk di dalamnya pendidikan seputar kemandirian dalam pemenuhan kebutuhan pangan yang selaras alam.

Artikel rubrik JALAN-JALAN yang ditulis oleh Deta Ratna Kristanti menceritakan proses pelatihan para petani di Kecamatan Purbolinggo, Lampung Timur untuk mencapai desa yang berkedaulatan pangan. Kedaulatan tersebut dicapai melalui pertanian organik, kedaulatan benih dan kedaulatan lahan.

Rubrik PROFIL kali ini mengangkat dua aktor pembawa perubahan di sektor pangan, yaitu Warung Sehat 1000 Kebun dan Komunitas di Girimulya yang mempertahankan tradisi pangan lokal mereka dari masa ke masa. Kisah tentang aktor pertama ditulis oleh Vania Febriyantie dan Raden Galih Raditya, sementara kisah tentang aktor kedua ditulis oleh Diah Widuretno.

Artikel rubrik RUMAH KAIL, yang ditulis oleh Any Sulistyowati, memuat upaya KAIL untuk memproduksi pangan di kebun sendiri dengan metode permakultur. Kebun KAIL dijalankan dengan prinsip-prinsip pertanian selaras alam. Di kebun ini, pangan dihasilkan tanpa menggunakan pupuk kimia dan pestisida. Hasil panennya kemudian digunakan sebagai bahan makanan dalam kegiatan-kegiatan di KAIL.

Dari artikel-artikel tersebut, kita dapat lebih memahami persoalan pangan dari berbagai sudut pandang, mengenali beberapa tantangan utama, dan menemukan ide-ide kreatif untuk penyelesaian persoalan pangan tersebut. Kita juga dapat mengetahui beberapa aktor di negeri ini yang telah dan sedang berjuang untuk pangan sehat dan ramah lingkungan.

Mengingat perjuangan para pendahulu yang diperingati setiap bulan April, di antaranya: Hari Perlawanan Petani Sedunia (17 April), Hari Kartini (21 April) dan Hari Bumi (22 April), akan sangat tepat kiranya apabila mulai saat ini kita memilih untuk memulai perjuangan dari diri sendiri – melalui pilihan-pilihan pangan kita, atau membangun komunitas untuk berjuang bersama memenuhi kebutuhan pangan yang sehat dan ramah lingkungan.

Navita Kristi Astuti
Penanggungjawab Pro:aktif Online