Showing posts with label Melly Amalia. Show all posts
Showing posts with label Melly Amalia. Show all posts

[RUMAH KAIL] RUMAH KAIL, TEMPAT BEREFLEKSI DAN MEMPERDALAM DIRI

Oleh: Melly Amalia

Rumah Kuncup Padang Ilalang atau lebih sering disebut Rumah KAIL berlokasi di Kampung Cigarugak, Desa Girimekar, Kabupaten Bandung. Jarak dari pusat kota Bandung menuju Rumah KAIL sebenarnya hanya sekitar 15 km dengan jarak tempuh 1 jam (dalam kondisi lalu lintas lancar). Kondisi jalan yang menanjak terasa jauh bagi mereka yang pertama kali berkunjung ke Rumah KAIL. Tapi pada kunjungan selanjutnya, Rumah KAIL bisa membuat rindu untuk ingin datang ke sana lagi.

Rumah KAIL merupakan bangunan berbentuk limasan khas Jawa Tengah, yang materialnya sebagian besar terdiri dari bahan kayu dan material bekas lainnya. Dikelilingi oleh kondisi alam yang masih asri, udara yang bersih, keberadaan kebun dengan aneka jenis tumbuhan yang bisa dimanfaatkan, ternak hewan peliharaan (seperti bebek, kelinci dan marmut), pepohonan yang rindang, serta pemandangan sawah di kejauhan, memberi kesan rileks dan sejuk ketika menginjakkan kaki ke dalamnya. Dalam kondisi jenuh dan penat dari akvitas rutin keseharian, Rumah KAIL memberi ‘angin segar’ dan menyebarkan hembusan aura penuh kedamaian.

Rumah KAIL

[RUMAH KAIL] Merdeka dari Uang di Rumah KAIL

Oleh: Melly Amalia - Koordinator Rumah KAIL

Sejak berdiri sampai sekarang, KAIL banyak berinteraksi dengan para aktivis. Banyak dari para aktivis ini memiliki berbagai tujuan hidup yang mulia, yaitu membuat perubahan dunia ke arah yang lebih baik di berbagai bidang. Masalahnya, kerja-kerja yang mereka lakukan seringkali tidak menghasilkan banyak uang. Jangankan banyak, batas cukup pun seringkali tidak terpenuhi. Kerja-kerja untuk membuat perubahan yang dibutuhkan seringkali merupakan kerja-kerja inisiatif baru yang belum dikenal orang, belum dianggap penting dan bahkan belum diketahui keberadaannya sebagai profesi. Jangankan mendapatkan dukungan finansial, kerja-kerja untuk membangun kesadaran akan pentingnya yang dilakukan itupun sudah membutuhkan energi tersendiri. Uang seringkali menjadi batu sandungan terbesar dari para aktivis untuk mempertahankan idealismenya.

Permakultur
Sebagai kelompok pendukung para aktivis, KAIL mencoba menerapkan berbagai inisiatif untuk melepaskan diri sebanyak mungkin dari ketergantungan akan uang. Meskipun belum banyak hasil yang bisa dilihat, setidak-tidaknya ada beberapa prinsip yang sudah diterapkan di berbagai aspek organisasi KAIL. Berikut ini adalah beberapa di antaranya.

Sistem Barter untuk Mengikuti Kegiatan-kegiatan KAIL

Di dunia modern ini, untuk mengikuti berbagai kegiatan, khususnya berbagai kegiatan pengembangan diri, kita perlu membayar dengan uang. Dengan demikian akses ke ilmu pengetahuan pun berbanding lurus dengan kemampuan membayar. Sebaliknya, kepemilikan ilmu pengetahuan akan meningkatkan peluang untuk menghasilkan uang. Di dalam sistem semacam ini, terjadilah lingkaran yang terus memperkuat, yang punya uang tambah pintar, yang pintar tambah kaya, yang kaya bisa membayar untuk menjadi lebih pintar dan seterusnya. Terjadilah jurang yang makin besar antara mereka yang kaya dan yang miskin.

Hari Belajar Anak

[RUMAH KAIL] Ayo Minimalkan Sampah! - Belajar dari Cara Penanganan Sampah di Rumah KAIL-

Oleh : Melly Amalia – Koordinator Rumah KAIL

Sampah akan jadi menjijikan dan merusak keindahan bila tidak ditangani secara tepat. Biasanya ini disebabkan karena wadah pembuangannya tercampur antara material organik dan non organik atau tidak disimpan di tempat yang benar. Dalam hierarki penanganan sampah, biasanya kita mengenal istilah 3R (reduce, reuse, recycle). Banyak orang yang masih salah kaprah menerapkan konsep 3R ini dengan‘lompat’ langsung ke tahapan daur ulang (recycle). Padahal, sebaiknya konsep 3R ini dilakukan sesuai urutan prioritas, yaitu :
  1. Reduce - Kurangi sampah dari awal atau dari sumbernya, 
  2. Reuse - Bila terpaksa menghasilkan sampah, gunakan kembali barang tersebut sesuai dengan kebutuhan, dan 
  3. Recycle – Daur ulang sampah, yaitu mengubah sampah yang dihasilkan menjadi barang baru yang dapat dipergunakan lagi.Jadi perlu diingat bahwa recycle merupakan tahap terakhir dalam menangani sampah.
Dalam setiap kegiatan KAIL, Rumah KAIL berusaha memutar aliran material atau meminimalkan material yang dihasilkan. Mulai dari proses pembelian bahan baku, penyajian/kemasannya sampai ke pengolahannya. Meskipun KAIL bukanlah lembaga yang khusus bergerak di bidang lingkungan hidup, penanganan sampah merupakan bentuk kepedulian KAIL untuk berkontribusi dalam usaha pengurangan sampah di bumi serta kampanye hidup berkelanjutan.

Dari hasil identifikasi, sumber sampah dari Rumah KAIL berasal dari aktivitas dapur sehari-hari, konsumsi rapat, serta konsumsi kegiatan Program KAIL. KAIL mencoba menerapkan prinsip penanganan sampah yang pertama yaitu reduce untuk meminimalkan sampah yang dihasilkan.

Sebagai contoh, hal-hal yang biasanya kami lakukan adalah: kami mengingatkan sesama staf KAIL serta menyampaikan kepada peserta kegiatan dan tamu yang datang ke Rumah KAIL untuk tidak membawa makanan/minuman yang menghasilkan sampah. Bila membeli barang atau makanan untuk kegiatan KAIL, kami membawa wadah sendiri (seperti misting, rantang, botol minum) dan tas kain. Saat memesan makanan di warung, wadah makanan/ rantang kami titipkan pada penjual makanan di warung beberapa waktu sebelumnya, sehingga makanan yang dipesan tidak dibungkus menggunakan bungkus kertas,plastik atau kresek. Ketika membeli makanan, kami memilih membeli makanan yang tidak berkemasan, kecuali jika berkemasan daun.

Dalam penyajian konsumsi di Rumah KAIL, anda tidak akan menemukan air minum dalam kemasan gelas atau botol plastik. Kami menyajikan minuman yang kami masak dari air segar pegunungan dengan gelas/ cangkir.

Penyajian makanan dan minuman pada setiap kegiatan di Rumah KAIL
- Mengurangi pemakaian alat dan bahan yang menghasilkan sampah
Bila dengan terpaksa tetap ada sampah yang dihasilkan, maka barang/sampah tersebut tidak langsung kami buang ke tempat sampah, tetapi akan disimpan dan digunakan kembali (reuse) bila sewaktu-waktu diperlukan. Tentu tujuannya untuk memperpanjang umur barang tersebut. Atau kami kumpulkan dan pisahkan material yang masih berfungsi atau bernilai ekonomi, misalnya tas kresek, dus kertas bekas makanan dan kemasan gula kiloan, untuk kemudian diberikan kepada pemulung.

[PROFIL] LBH APIK (Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia Untuk Keadilan)

Oleh: Melly Amalia

Semakin hari kita semakin sering mendengar, melihat dan membaca dari berbagai media, baik televisi,koran atau media sosial berita tentang korban kekerasan, khususnya terhadap perempuan dan anak-anak. Bahkan bayi pun ada yang menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh orang dewasa terdekatnya, seperti pengasuh, pembantu bahkan orang tuanya sendiri. Kekerasan yang dialami korban seringkali menimbulkan berbagai permasalahan mental yang ditanggung oleh korban dalam jangka waktu lama setelah tindak kekerasan terjadi.

Mari kita ulas sedikit tentang kekerasan terhadap anak dan kekerasan terhadap perempuan. Kekerasan terhadap anak adalah tindak kekerasan yang dilakukan baik sengaja maupun tidak sengaja baik secara fisik, seksual, penganiayaan emosional/psikologis, atau pengabaian terhadap anak. Kekerasan terhadap perempuan adalah setiap tindakan yang berakibat kesengsaraan atau penderitaan pada perempuan secara fisik, non fisik (seksual) atau psikologis/jiwa, termasuk ancaman tindakan tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang baik yang terjadi di depan umum atau dalam lingkungan kehidupan pribadi. ( Disarikan dari berbagai sumber)

[PROFIL] Yayasan Hotline Surabaya (YHS)

Oleh: Melly Amalia

Konseling psikologis adalah salah satu media yang dapat kita akses ketika kita memiliki persoalan mental. Hotline Surabaya adalah salah satu organisasi yang menyediakan layanan tersebut dengan fokus kepada perempuan dan anak, khususnya korban kekerasan seksual. Berikut ini adalah tulisan yang disarikan dari website organisasi tersebut.

Hotline Surabaya adalah sebuah organisasi nirlaba yang berdiri sejak tahun 1989. Pada awalnya, Hotline Surabaya merupakan divisi sosial Harian SURYA yang memberikan pelayanan konseling psikologis melalui surat, telepon, tatap muka dan konsultasi di rubrik “Hotline” SURYA. Pada tahun 1992 YHS menjadi sebuah yayasan mandiri dengan nama Yayasan Hotline Service Surya (YHSS) terlibat dalam kampanye penanggulangan HIV&AIDS khususnya untuk kelompok beresiko tinggi di kalangan pekerja seks di Surabaya. Di akhir tahun 1999 YHSS berubah nama menjadi Yayasan Hotline Surabaya dan berpisah dengan harian SURYA menjadi satu LSM mandiri yang punya kepedulian terhadap kesehatan reproduksi perempuan, khususnya perempuan yang berpenghasilan rendah di Surabaya.

[JALAN-JALAN] Liburan ala Aktivis


Di sela-sela kesibukan sebagai seorang aktivis, kadang kita tidak ada waktu untuk rehat sejenak bersama orang-orang terkasih. Apakah itu dengan orang tua, pasangan, anak atau bahkan sahabat. Berlibur adalah salah satu kegiatan menarik yang patut menjadi pertimbangan dalam mengisi waktu luang. Berlibur bukan sekedar tidak ‘bekerja’, tapi benar-benar memanfaatkan waktu dengan mengisi kesenangan dan berkumpul bersama. Mungkin ada yang sekedar jalan-jalan di sekitar kota atau ada juga yang sengaja merencanakan jauh-jauh hari sebelumnya untuk berlibur ke luar kota.


Kebanyakan bagi seorang aktivis, waktu libur dilakukan untuk menghilangkan kejenuhan dan refreshing dari aktivitas keseharian. Pilihan lokasi liburan menjadi salah satu pertimbangan utama. Ada yang memang pilihan sendiri, diskusi dengan pasangan atau bahkan memenuhi keinginan/minat anak.

Dari hasil wawancara dengan beberapa aktivis, tempat favorit mereka untuk berlibur adalah pergi ke alam terbuka atau daerah wisata alam seperti pegunungan, pantai, dan laut. Tujuannya pun beragam, mulai dari menikmati keindahan alam dan keagungan Tuhan, menikmati udara segar dan menenangkan jiwa. Menyaksikan keindahan alam yang ada dapat membuat kita merasakan kebesaran Tuhan dengan menyaksikan ciptaan-NYA.

[TIPS] Menjadi Ayah Yang Dibanggakan Oleh Anak


Ayah adalah salah satu sosok yang dibanggakan oleh anak. Peran ayah dan ibu bisa disejajarkan dalam beberapa hal, misalnya berbagi peran dalam hal pengasuhan anak, mengerjakan pekerjaan domestik, dan sebagainya. Sebagian besar anak menganggap ayah itu adalah seorang pemimpin keluarga, pahlawan dan menjadi kebanggaan anaknya.  Sosok yang disegani selain ibu tentunya. Dari seorang ayah, anak pun bisa belajar banyak hal tentang kehidupan, bercerita dengan bebas tentang cita-cita dan harapannya.

[PROFIL] Srikandi Nusantara : Perjuangan yang Tak Pernah Padam


Dari masa perjuangan sebelum Proklamasi sampai mencapai kondisi seperti sekarang, Indonesia tidak akan bisa besar tanpa adanya uluran tangan para Srikandi Nusantara. Dengan gigih mereka berjuang, mengajak menggali harapan dan membangun perubahan demi kemajuan bangsa Indonesia. Tanpa pamrih, tanpa lelah, tanpa tanda jasa mereka terus berjuang dalam segala kondisi.Di masa sebelum proklamasi banyak tokoh-tokoh perempuan yang berjuang melawan penjajah. Lalu perlahan di masa orde lama peranan perempuan mulai dihargai dan mereka memperjuangkan hak-haknya untuk memperoleh pendidikan walaupun masih sangat terbatas. Kemudian di masa orde baru, mulai muncul kesetaraan bahwa perempuan punya hak untuk mengeluarkan pendapat dan pemikirannya. Di masa reformasi peranan perempuan  semakin dihargai dalam banyak hal. Perempuan juga bisa memegang jabatan atau posisi tertentu, punya banyak kesempatan dalam hal pendidikan, berpendapat, pemikiran bahkan berkarya.  Bentuk gerakan perubahan yang dilakukan oleh kaum perempuan ini setiap masa berbeda, ada yang melakukannya secara individu atau dalam satu wadah komunitas/organisasi.

Disini kita akan mengulas lebih dalam bagaimana para Srikandi Nusantara ini memulai gerakannya, apa yang melatarbelakangi perjuangannya, bagaimana cara mereka melakukan perjuangan dan perubahan apa saja yang telah mereka kontribusikan dari masa ke masa.

[TIPS] Makanan Sehat, Badan Sehat

Penulis: Melly Amalia

Saat ini gempuran makanan dari berbagai macam bahan pangan dan olahannya sudah semakin banyak. Slogan makanan sehat sepertinya hanya iming-iming belaka, dan yang lebih dipentingkan adalah rasa makanan tersebut yang lezat. Padahal kalau kita mengkonsumsi makanan yang sehat, akan mempengaruhi kesehatan kita pula. Kalau kita mengkonsumsi makanan sehat, maka berpotensi menjadikan badan sehat. Makanan sehat belum tentu 4 sehat 5 sempurna, tapi kandungan yang ada dalam makanan sehat tersebut kaya akan nutrisi dan bebas dari toksin, bakteri dan bibit penyakit. Makanan sehat memiliki kandungan gizi, kaya serat dan zat yang dibutuhkan oleh tubuh (karbohidrat, vitamin, protein, mineral dan air). Kita perlu lebih cermat dalam memilih bahan makanan dan mengolahnya, sehingga resiko penyakit yang ditimbulkan bisa diminimalisir.

[JALAN-JALAN] Bandung Berkebun

Penulis: Melly Amalia

Ada satu komunitas di Bandung yang mengajak orang-orang khususnya warga Bandung untuk berkebun. Gerakan ini sudah dimulai sejak tahun 2011 yang digagas oleh Ridwan Kamil, walikota Bandung saat ini. Diawali dari Jakarta Berkebun dan sampai saat ini sudah ada 30 kota berkebun (Bandung, Banten, Jogja, Bogor, Solo, Madiun, Pontianak, Aceh, Bali, dll) dan 8 kampus yang bersama-sama bergerak di bawah gerakan nasional Indonesia Berkebun. Cita-cita komunitas ini sederhana tapi gaungnya sangat besar yaitu mengajak sebanyak-banyaknya orang untuk senang berkebun. Melalui berkebun, komunitas ini berupaya memanfaatkan ruang-ruang yang awalnya tidak produktif dan terbatas menjadi area produktif sehingga tercipta kualitas ruang kota yang baik.


[TIPS] Tips Hidup Sehat dan Hemat

Oleh: Melly Amalia

Dalam menjalankan aktivitas rutinnya, seorang aktivis harus selalu dalam kondisi fit dan sehat, baik secara jasmani dan rohani. Apalah artinya bila tubuh kuat, tapi jiwanya rapuh. Begitu pula sebaliknya, jiwa kuat tapi tubuh kita mudah lelah, stres dan tidak semangat. Bagaimana ingin mencapai mimpi bila hidupnya dikelilingi oleh kondisi yang rentan dengan penyakit. Saya percaya  bahwa semua orang ingin mempunyai

[Media] ARPILLERA : Sebuah Seni Perca Untuk Perubahan

Oleh: Melly Amalia

Jarum jahit, jarum pentul, benang sulam, kain perca dan kain dasar menjadi rangkaian bahan pembuatan Arpillera. Dalam proses pembuatannya, biasanya kita berimajinasi dulu, membayangkan akan membuat apa dan pesan apa yang ingin disampaikan, lewat sebuah pola gambar yang bercerita. Bukan hanya sekedar memanfaatkan kain perca, tapi ada suatu maksud di balik itu. Melainkan seni perca untuk melakukan perubahan.

Penulisan Arpillera yaitu A-r-p-i-l-l-e-r-a, tapi pengucapannya menjadi ‘Arpiyera’. Arpillera adalah sarana menyampaikan pesan, mengekspresikan suatu maksud melalui media kain perca. Arpillera umumnya melukiskan kehidupan sehari-hari, kejadian atau peristiwa tertentu baik dari pengalaman pribadi maupun dari orang lain. Bisa juga mengandung rekaman suatu peristiwa sejarah. Dalam dunia aktivis, Arpillera biasa digunakan untuk mengatasi trauma

[MASALAH KITA] Mempersiapkan Anak Menghadapi Tantangan Jaman


Pengantar

Ibu EG memiliki seorang putri yang berusia 7 tahun. Akhir-akhir ini putrinya menggemari makanan-makanan yang dijajakan di sekolah. Biasanya Bu EG  menyiapkan bekal makanan dari rumah untuk putrinya, namun karena ada teman sekolah yang sesekali merayakan ulang tahun dan memberikan bingkisan ulang tahun berisi makanan ringan, putrinya pun mau tidak mau berkenalan dengan makanan tersebut. Awalnya Bu EG langsung menyeleksi makanan-makanan itu karena khawatir dengan kandungan seperti MSG, pengawet, dan pewarna. Akan tetapi dengan pertimbangan untuk mendidik anaknya mengenai rasa dan kesehatan makanan, Bu EG mengizinkan putrinya untuk mengonsumsi makanan seperti itu namun dibatasi dan diberikan pengertian agar menyadari dampak makanan tersebut pada dirinya. Dengan penerapan disiplin tersebut, Bu EG berharap putrinya akan tetap lebih memilih makanan rumahan daripada yang dijajakan di sekolah.

Berbicara mengenai tumbuh kembang anak, dari masa ke masa, memiliki tantangannya masing-masing;

[MEDIA] Petualangan Banyu dan Elektra Menyalakan Kota


Judul : Petualangan Banyu & Elektra Menyalakan Kota
Tahun : 2012
Kategori film : Animasi
Konsep & Skenario : Kandi Sekarwulan, M. Bijaksana
Produksi : Greeneration Indonesia dan Sahabat Kota
Produser Eksekutif : WWF Indonesia
Produser : BNI, The Body Shop, Hilo
Durasi : 9 menit 58 detik
Bahasa yang digunakan : Indonesia


Yuk, hemat penggunaan energi!

[PROFIL] Usia Bukan Penghalang Untuk Menjadi Relawan



Meski usia sudah kepala empat, tepatnya 43 tahun, bukan menjadi penghalang untuk seorang Tini MF menjadi relawan di mana-mana.

Kenapa di mana-mana?

Ya, karena setiap kali kegiatan komunitas-komunitas di Bandung yang mengusung isu lingkungan, anak, pendidikan dan sosial hampir dapat dipastikan, akan bertemu dengan beliau. Beliau adalah relawan di YPBB (Yayasan Pengembangan Bioteknologi dan Biosains), KSK (Komunitas Sahabat Kota), Kail (Kuncup Padang Ilalang), Bandung Berkebun,  GSSI (Garage Sale Sekolah Ibu), Madrasah Nurul Iman dan kegiatan PKK di sekitar rumah. Belum lagi aktivitas rutinnya mengajar di salah satu bimbingan belajar.

[Profil] Perempuan Pejuang Lingkungan



Anilawati Nurwakhidin (Koordinator Tim Kampanye Zero Waste YPBB)



Sosoknya begitu sederhana dan wajahnya tanpa polesan make up. Dengan kerudung dan pakaian santai yang biasa dikenakan, senyumnya yang ramah tidak pernah lepas ketika kita menyapa. Perempuan kelahiran 3 Juni ini banyak menghabiskan hari-harinya di Bandung meski berdomisili dengan nenek dan kakeknya di Cimahi.  


Tidak pernah terpikir sebelumnya Anil akan menjadi seperti sekarang ini, sebagai aktivis lingkungan. Mengenang masa kecilnya, Anil mengaku tidak punya cita-cita, ingin jadi seperti apa. Hari-harinya dihabiskan dengan sekolah. Orang tuanya tidak terbiasa berdiskusi tentang visi hidup dengan anak-anaknya. Di sekolah, katanya, Anil tidak ikut kegiatan berorganisasi. Baru di dunia kampus, dia mengenal kegiatan berorganisasi walaupun sifatnya lebih ke sebagai kegiatan pengisi waktu. Yang terpikir saat itu adalah menjalani sekolah sesuai jenjangnya. Kemudian, setelah lulus kuliah, ya kerja. Kerja itu harus yang menjanjikan di masa tua (baca: pensiun), begitu ucapan orang tuanya saat itu. Meski kuliah di UPI (Universitas Pendidikan Indonesia, dulu namanya IKIP) yang lulusannya identik dengan menjadi guru, tapi Anil tidak berminat menjadi guru di pendidikan formal atau menjadi PNS sesuai keinginan orang tuanya. 

[Media] No Impact Man : Antara Inspirasi dan Idealisme


Judul : No Impact Man
Tahun : 2007
Genre : Dokumenter
Pemain : Colin Beavan, Michelle Conlin, Isabella Beavan
Produksi : An Eden Wormfeld films, Shadowbox Film and Laura Gabbort Film Production
Produser : Julia Parker Benello, Diana Barrett dan Dan Cogan
Editor : William Haugse A.C.E dan Matthew Martin
Durasi : 1 jam 29 menit
Bahasa : Bahasa Inggris dengan subjudul dalam bahasa Indonesia

Film ini merupakan kisah perjalanan seorang warga Amerika Serikat, Colin Beavan yang mencetuskan gerakan untuk tidak menghasilkan dampak terhadap bumi. Semua perjalanan gagasannya ini didokumentasikan dalam film dan buku yang berjudul No Impact Man.