Showing posts with label Dominika Oktavira Arumdati. Show all posts
Showing posts with label Dominika Oktavira Arumdati. Show all posts

[PIKIR] Tantangan dan Peran Ibu Masa Kini



http://www.ajcebeats.com/maa/
Kita hidup di jaman modern. Modernitas sering dimaknai sebagai kemajuan dalam tatanan masyarakat saat ini. Masyarakat kita pun disebut masyarakat modern. Masyarakat seperti ini diidentikkan dengan masyarakat yang menguasai teknologi, memiliki gaya hidup yang serba cepat dan praktis, dengan tingginya tuntutan pemenuhan kebutuhan untuk menjawab modernitas itu. Semua ini membawa perubahan dan dampak dalam wajah keluarga jaman ini. Khususnya, peran ibu dan budaya pengasuhan serta pendidikan dalam keluarga.


Tantangan modernitas bagi ibu

Dulu ibu dikenal sebagai pelaku utama pekerjaan domestik atau wilayah kerumahtanggaan. Kini ia tidak lagi menjadi satu-satunya ruang yang ditempati ibu untuk keluarganya. Banyak pihak kini dapat mengambil peran domestik ini, misalnya ayah, anggota keluarga yang lain, atau bahkan asisten rumah tangga. Sebaliknya, juga makin banyak ibu mengambil pekerjaan ‘non-domestik’ – artinya pekerjaan di luar wilayah kerumahtanggaan, baik untuk mencari uang ataupun motif non-finansial (misalnya kerja sosial). Pekerjaan non-domestik ini bisa dikerjakan secara fisik di luar rumah, ataupun secara fisik tetap di dalam rumah.

[OPINI] Menimbang Teknologi, Mendampingi Buah Hati : Refleksi atas teknologi dan peran orang tua dalam pengasuhan anak


Di sebuah restoran tempat kami makan, tampak di satu meja sebuah keluarga dimana sang ayah, ibu dan anak-anak mereka membawa gadget-nya masing-masing. Sang ibu tampak sibuk meng-update laman Facebooknya. Sang ayah sibuk membalas komentar di Twitter. Anak yang satu asyik ber-whatsapp ria dengan temannya sambil mendengarkan musik di telinganya, sedang dua anak lainnya bermain game di tablet-nya masing-masing. Dan tak heran, begitu makanan datang, tak seorang pun mematikan ‘mainan’nya. Sebuah pemandangan yang tampaknya mulai kerap dan biasa terjadi di banyak tempat makan di kota besar saat ini.

Benarkah ini sebuah gejala kewajaran dalam wajah sosial masyarakat kita?

Di satu kesempatan lain, saya mendapati keponakan saya yang sedang mempersiapkan diri menghadapi ulangan umum. Di telinganya terpasang headphone

[MASALAH KITA] Tulang rusuk yang hilang? Refleksi hidup bersama seorang aktivis

Kami, tidak pernah bercita-cita jadi aktivis, tapi melihat kondisi yang ada di sini, kami terpanggil untuk itu. Pada akhirnya, teman-teman jugalah yang menyandangkan gelar aktivis itu ke bahu kami”.
(Seorang aktivis mahasiswa, Bandung, 1999)
Kami baru menikah bulan Februari yang lalu, pada saat dunia merayakan hari kasih sayang. Sebuah perhelatan sederhana namun meriah di halaman rumah orangtua saya menandai mulainya status saya sebagai seorang istri. Namun tak hanya itu. Istri dari seorang aktivis. Usai hingar-bingar perhelatan, mulailah kami menapaki hidup. Kami tinggal di sebuah rumah kecil di pinggiran kota Solo yang uang mukanya saja (bukan kreditnya) dicicil 13 kali oleh suami saya. Maklum, namanya juga aktivis, walau sudah lulus S1 sejak 1994, mana bisa membayar uang muka sekian belas juta sekaligus. Rumah ini, ketika Bapak saya berkunjung, diberi sebutan mewah-mabur, artinya, mepet sawah, madhep kuburan (dekat sawah dan menghadap kuburan). Geli juga, tapi itu sebutan yang tepat.