Editorial Edisi 6

Hallooo…. Ketemu lagi di Proaktif edisi ke 6.
Belum hilang dari ingatan kita, bagaimana kita bahu membahu untuk membantu saudara kita di Aceh dan Nias yang tertimpa musibah, tanpa memandang agama, suku, ras, wilayah tempat tinggal, mata pencaharian, maupun kebangsaan. Sisi positif yang dapat kita maknai dari sebuah bencana yakni bahwa bangsa yang beragam ini ternyata masih tergetar hatinya bahkan mau menyisihkan sejenak perbedaan yang ada untuk bisa membantu saudaranya yang menderita.
Demikian pula terbitnya Pro:aktif ini tidak lepas dari upaya bahu membahu dari banyak orang yang bersedia meluangkan sedikit waktunya untuk membagikan ide, pendapat, atau pun pengalamannya. Dimulai dari proses pembuatan hingga isinya, edisi kali ini memang sangat sesuai dengan temanya yakni “Pluralisme”.

[Profil] Budhis Utami : Pluralisme Bagi Seorang Feminis

Kota besar yang penuh sesak seperti Jakarta sesungguhnya merupakan pilihan terakhir bagi gadis kelahiran Jember ini. Keterlibatan dalam aktivitas kemasyarakatan seperti GMNI dan Organisasi Perempuan sudah dijalani oleh seorang Budhis Utami sejak di bangku kuliah.
Merasa tertantang oleh tawaran seorang teman untuk bekerja di Komisi Migran KWI, ia akhirnya memutuskan untuk datang ke Jakarta.

Ketertarikannya yang besar terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi perempuan, membuatnya tidak bisa lepas dari rekan-rekannya yang bergerak di Organisasi Perempuan.

[Pikir] Pluralisme, Sekarang dan Esok

Dalam rubrik catatan pinggir Tempo edisi 6 Maret 1982, Goenawan Mohamad mengulas kisah Nathan karya Gotthold Lessing yang terbit tahun 1779 berjudul Nathan der Weise, yang setidaknya telah memberikan gambaran bahwa mempunyai pandangan yang berbeda dan penghargaan pada keanekaragaman, adalah sikap yang penuh resiko.

Latar belakang dalam karya tersebut adalah masa perang salib yang telah memasuki gelombang keempat, di mana perseteruan antara mereka yang Nasrani dan Islam, bahkan Yahudi masih terus berkobar.

[Masalah Kita] KENANGAN DARI BORNEO

Bagi para petani sendiri, perbedaan etnis itu tidak terlalu menjadi masalah....
Seorang kawan mengisahkan kembali peristiwa pedih yang terjadi di Pulau Borneo beberapa tahun yang silam. Tinggal dan aktif mendampingi para petani dari berbagai etnis di tanah kelahirannya itu, membuat Lorens turut merasakan dan menyaksikan bagaimana kejamnya permainan beberapa kelompok kepentingan tertentu yang ‘memanfaatkan’ keberagaman etnis di wilayah itu. Bagi para petani sendiri, perbedaan etnis itu tidak terlalu menjadi masalah karena toh nasib mereka tetap sama.

Konflik yang diangkat sebagai konflik antar suku itu sesungguhnya merupakan bagian dari rekayasa politik.

[Opini] PEMBELAJARAN PLURALISME UNTUK ANAK

Andai kamu hanya hidup di duniamu ....
Dan kamu berani mengintip dunia-dunia lain ....
Masih beranikah kamu mengatakan ....
Dunia mu itu indah ....
(Andi, 2004)
Bicara tentang pluralisme memang gampang, bahkan terkadang topik ini bisa menjadi bahan diskusi yang panjang dan berhari-hari. Sampai sekarang pun pembicaraan mengenai pluralisme masih menjadi hal yang asyik di tengah maraknya pro dan kontra. Di kalangan para aktivis NGO, pluralisme menjadi salah satu issue yang masih seksi yang dapat menyatu dengan banyak issue-issue seksi lainnya, seperti issue gender, issue anak, dan issue-issue yang lain.

[Media] Resensi Buku: Tafsir Ulang Perkawinan Lintas Agama: Perspektif Perempuan dan Pluralisme

Judul Buku : Tafsir Ulang Perkawinan Lintas Agama: Perspektif Perempuan dan Pluralisme
Editor : Maria Ulfah Anshor & Martin Lukito Sinaga
Penerbit : KAPAL Perempuan dan NZAID
Tahun : Agustus 2004

Pluralisme, diartikan sebagai sebuah pandangan yang menghargai keberagaman, serta penghormatan terhadap orang lain yang berbeda, terbuka pada perbedaan di mana terdapat kerelaan untuk berbagi serta keterbukaan untuk saling belajar dan berdialog. Dalam konteks negara Indonesia yang sangat plural dalam segi etnis, suku, agama, keyakinan, bahasa, budaya, kelas, dan lain-lainnya, maka pluralisme sangat dibutuhkan supaya bangsa ini tetap bisa utuh sebagai bangsa yang berfungsi untuk menyejahterakan rakyatnya. Dalam keragaman itu terdapat ruang interaksi yang sangat luas, yang salah satunya dapat berujung dalam sebentuk perkawinan. Perkawinan lintas suku, lintas etnis, lintas kelas, lintas agama, dan lintas lainnya pada kenyataannya sering terjadi.

[Jalan-jalan] Dari Puing-Puing Aceh…

Pada tanggal 20-22 Februari 2005 tim KaIL berkesempatan untuk mengunjungi Aceh bersama-sama dengan rombongan para petani dan nelayan dari berbagai negara. Kunjungan ini merupakan bagian dari rangkaian acara “Konferensi Regional Untuk Membangun Kembali Kehidupan Para Petani dan Nelayan Paska Bencana Tsunami dan Gempa Bumi”, yang diselenggarakan oleh Via Campesina di Medan pada tanggal 17-19 Februari 2005.

Sebagai penerjemah dan notulen untuk acara tersebut, tim KaIL menemani rombongan peserta ‘field trip’ ke Aceh. Kami berangkat ke Aceh menggunakan pesawat dari Medan ke Banda Aceh.

Editorial Edisi 5

Selamat Hari Valentine!!! Banyak orang yang mengambil mementum ini untuk mengungkapkan kasih sayangnya. Bentuk ungkapan yang beraneka ragam tidaklah menjadi masalah. Dari sekedar ucapan, tindakan, hadiah, hingga bentuk ungkapan yang khusus lainnya coba disampaikan kepada orang yang dikasihinya, baik pasangan, keluarga, teman,dan sebagainya.
Sebagai ungkapan kasih dari Pro:aktif untuk pembaca sekalian, pada edisi kali ini pun sengaja dipersembahkan tema “Aktivis dan Kehidupan Cinta”.

Edisi kali ini diawali dengan kisah Cinta Ku dari Seberang Lautan. Lalu ada rubrik Masalah Kita yang membahas tentang Cinta dan Perbedaan Etnis. Berikutnya rubrik Pikir menyajikan artikel mengenai pilihan hidup untuk Menikah atau Melajang. Opini seputar cinta dikemas dalam sebuah artikel berjudul Bersit-Bersit Makna Cinta.

Tak lupa pula kami membagikan tips Agar Anda dan Si Dia Tetap Dekat dan Irit. Pada rubrik jalan-jalan kami bawakan oleh-oleh Cerita dari Bali. Media kali ini mengangkat film hasil garapan PEKKA-PPSW bekerja sama dengan Komnas Perempuan dengan judul Sebuah Dunia Tanpa Suami: Perempuan Kepala Keluarga Bercerita. Lalu Gathering PT. Calmic Cabang Bandung dan Pelatihan Cara Berpikir Sistem untuk Menganalisis Permasalahan Sosial, Lingkungan dan Gender – Angkatan 5, Lokakarya Perancangan Paket Pendidikan Lingkungan serta Workshop untuk Gagasceria merupakan kegiatan-kegiatan yang kami angkat dalam rubrik Bagi-bagi Cerita.

Selamat membaca!

[Profil] Cinta Ku dari Seberang Lautan

Sosok hitam manis yang berpenampilan cuek ini untuk kedua kalinya dipercaya sebagai SekJen JPL (Jaringan Pendidikan Lingkungan). Ninil R Miftahul Jannah yang lahir dan dibesarkan di Surabaya ini sudah menggeluti isu lingkungan sejak duduk di bangku SMA. Kecintaannya terhadap lingkungan dan rasa senang jika bisa membantu orang lain telah mendorongnya untuk melakukan berbagai aksi atau kegiatan yang tentunya berkaitan dengan lingkungan.

Pengetahuan yang dimilikinya mengenai konservasi, pendidikan lingkungan, advokasi untuk lingkungan dan sebagainya, membuatnya merasa lebih logis untuk tetap konsisten pada jalur yang dipilihnya. Pilihan untuk menjadi aktivis ternyata memberikan peluang untuk bertemu banyak orang, termasuk Sang Belahan Hati.

Bekerja di LSM berarti bekerja dengan banyak orang, baik dari dalam maupun luar negeri. Maka tidaklah aneh jika kemudian seorang aktivis menemukan pasangan hidupnya dari dunia yang sama. Karena di mana ada kesempatan orang bertemu, di situ ada kesempatan untuk menjalin relasi, hubungan asmara, atau apa pun namanya.

Jika seorang Ninil menemukan Belahan Jiwanya yang berasal dari belahan bumi yang lain, itu tidaklah semata-mata mengikuti tren para artis yang mencari ekspatriat untuk menjadi pasangan hidupnya. Menurutnya, menjadi penting bagi seorang aktivis untuk memiliki pasangan yang bisa memberikan dukungan. Biasanya aktivis itu mempunyai ‘hero’ yang dapat didefinisikan sebagai orang yang punya pemikiran yang bagus, punya idealisme, atau kapasitas yang bisa bersinergi. Pengalaman pribadinya mengatakan bahwa pasangan yang bisa mengimbangi kekurangannya juga menjadi faktor pertimbangan yang penting.

[Pikir] Menikah atau Melajang? Sebuah Refleksi Atas Pilihan Hidup Dalam Mengekspresikan CINTA

"….ternyata sepatu kaca itu sangat cocok dengan kaki Cinderella. Maka, dibawalah Cinderella ke Istana sang Pangeran. Akhirnya, Sang Pangeran dan Cinderella menikah, dan mereka hidup bahagia selama-lamanya."
Tentunya cerita di atas sudah tidak asing lagi di telinga kita, apalagi para gadis dan remaja putri. Ada banyak cerita dan dongeng lainnya yang mirip dengan dongeng Cinderella ini, di mana seorang gadis cantik tapi miskin dan malang, atau gadis dari kalangan rakyat biasa, yang seumur hidupnya menderita (karena ibu tiri dan saudara tiri perempuan yang jahat dan kejam), akhirnya menikah dengan seorang Pangeran yang akan datang padanya. Pada akhir cerita selalu digambarkan sang gadis menikah dengan Pangeran dan mereka hidup bahagia selamanya.

[Masalah Kita] Sebuah Cinta Kasih: Ikatan Suci Etnis Tionghoa dan Etnis Jawa

Saya tidak pernah merencanakan untuk jatuh cinta pada orang dari etnis lain
Saya tidak pernah punya impian untuk menjadi anak tidak berbakti, hanya karena saya mencintai orang dari etnis lain.

Saya seorang anak Tionghoa berusia 27 tahun, yang telah hampir 7 tahun ini berpacaran dengan seorang anak dari etnis Jawa. Kami satu almamater, namun uniknya kami baru berkenalan dengan cukup dekat justru di saat-saat di mana salah satu dari kami sudah hampir lulus kuliah S1nya.