Bumi Parahyangan, Singgasana Jelita Sarana Mengenal diri Alam selalu mengundang keingintahuan. Memandang pegunungan dan perbukitan yang mengelilingi dataran tinggi Kota Bandung, akan memancing tanya. Ada apakah di sana? Bagaimana medan untuk mencapainya? Bagaimana bentang alam seperti itu bisa terjadi? Apakah kita sanggup berjalan mencapai singgasana Parahyangan ini? Semuanya berkecamuk dalam benak. Pertanyaan dan keraguan yang wajar dan alami.
Keraguan memulai perjalanan hanya sulit di awalnya. Lepaskan pikiran dari beban prasangka. Gembira dan nikmati berjalan sesuai kemampuan sendiri. Bersandarlah pada kekuatan pikiran dan bantuan Tuhan. Keyakinan, keberanian, kebulatan tekad akan berproses seiring langkah menjejak bumi. Jika menyerah sebelum mulai, kita akan terpasung pada asumsi pikiran-pikiran yang menegasikan potensi diri. Kita akan menemukan sisi diri yang lain tatkala mampu mendorong batas-batas diri atau memutus belenggu pikiran yang membatasi.
Berjalan di alam, menyusuri jalan yang landai, menurun, menanjak, berliku. Deburan air terjun, sungai jernih mengalir, kubah lava menggetarkan, gua gamping menakjubkan, taman batu mempesona, tebing ibarat agar raksasa, lembah hijau sejuk, danau jernih melenakan adalah keajaiban ciptaan Yang Maha Kuasa. Berjalan dan berpeluh membuat jiwa egois dan sombong dalam diri seolah melebur. Kelelahan bercampur kenikmatan sujud syukur, ketika badan tiba di singgasana jelita Sang Pencipta.
Setiap langkah berat, nafas tersengal, lelah keringat akan tersapu oleh kesejukan dan keagungan alam. Alam mengantar pikiran, batin, dan raga saling berdialog panjang tentang kehidupan yang telah dijalani. Ibarat drama dalam benak penjelajah. Rasa marah, dendam, sakit hati, putus asa, harapan, dosa, kesalahan, kekuatan, ketabahan, kemalasan dan berbagai sifat-sifat dalam diri seolah dihadirkan. Kita akan menemukan makna relasi dengan teman, keluarga, orang yang kita cintai dan Tuhan. Kita akan menemukan nilai dan kualitas hubungan kita dengan mereka.
Lingkungan buatan pun memberi andil untuk berkontemplasi. Kampung padat dinamika perjuangan manusia, artefak dan bangunan Belanda hampir 2 abad lalu, dan lain sebagainya. Objek-objek buatan manusia ratusan tahun silam bukti pencapaian peradaban manusia. Bagaimana manusia bertahan hidup dalam kerasnya peradaban menjadi perenungan tersendiri.
Noorduyn, seorang sarjana Belanda menemukan naskah kuno di Perpustakaan Bodleian, Oxford Inggris (1627). Naskah ini berisi catatan perjalanan Pangeran Jaya Pakuan, putra raja Istana Pakancilan. Dia mencari Ilmu dengan menempa diri di alam, berjalan kaki selama 4 tahun. Ia menyusuri Pulau Jawa dan Bali, termasuk Bumi Parahyangan. Bujangga Manik julukan lain Pangeran, menuliskan kisah perjalanannya dalam bentuk puisi mistik bernafaskan Shiwaisme (Hawe Setiawan, Amanat Gua Pawon, hal 23, 2004). Puisi ini memuat sekitar 450 topomini (nama-nama tempat), 90 gunung, dan 50 sungai.
Seorang Pastur dan Psikolog Belanda MAW Brouwer mengungkapkan pesona tanah Parahyangan dengan ungkapan populer: “Tuhan menciptakan tanah Parahyangan tatkala tersenyum” (Her Suganda, Kawasan Kars Citatah: Pusaka Masyarakat Sunda, Amanat Gua Pawon, hal 15, 2004). Dahulu kala dataran tinggi Bandung adalah danau Bandung Purba, pusat tanah Parahyangan yang dikelililingi pegunungan dan perbukitan. Dataran tinggi atau plateau Bandung ini menyimpan hikayat geologi dan cerita rakyat yang menarik.
Aliran Ci Mahi, Curug Tilu, Curug Layung, Curug Bubrug, Curug Cimahi, dan Curug Panganten
Sedikitnya ada 6 air terjun indah di sepanjang aliran Ci Mahi. Dari Curug Tilu di hulu hingga Curug Panganten di hilirnya (Pemukiman Katumiri, Cimahi). Lokasi keenam curug ini berjauhan. Untuk menikmatinya sambil merenung, disarankan satu curug dalam satu perjalanan. Kecuali Curug Bubrug yang bisa ditempuh sekali jalan dengan Curug Tilu.
![]() |
| Curug Tilu |
Curug Panganten






