[Tips] Bersama Arpillera, Aktivis Bercerita


Pada rubrik Jalan-Jalan, telah diulas mengenai asal muasal kerajinan perca Arpillera. Telah kita ketahui pula bahwa seni Arpillera bertujuan untuk mendorong suatu perubahan baik sosial, politik maupun lingkungan hidup. Di negeri asalnya, Chile, Arpillera merupakan alat perjuangan  para ibu untuk melawan rezim militer. 

Saya aktif di GSSI (Garage Sale Sekolah Ibu). GSSI merupakan organisasi non-profit di Bandung yang menitikberatkan fokus perjuangannya pada pengembangan lingkungan yang kondusif bagi anak. Dalam kegiatannya  kami mengunakan Arpillera untuk menyuarakan isu-isu

[Jalan-Jalan] Pendidikan Seni di Kuba : Pendidikan Seni Untuk Semua

Oleh: Dhitta Puti Sarasvati

Anita tinggal di Jakarta. Dia suka menari. Untuk menyalurkan hobinya dia mengikuti sanggar tari dan berlatih dua kali seminggu. Biaya yang harus dikeluarkannya untuk mengikuti sanggar adalah Rp 250.000,- per bulan. Harga tersebut tidak terlalu mahal dibandingkan tempat-tempat kursus menari lainnya.  Dengan harga tersebut dia sudah bisa berlatih dibimbing oleh seorang guru profesional.
Kini sudah 9 tahun Anita berlatih menari.  Anita tahu bahwa dia bukanlah penari yang paling jago. Teman-temannya yang lain lebih lentur juga lebih lincah dalam menari. Terkadang Anita pun lupa gerakan dari tariannya. Pasti dia tidak akan jadi penari profesional. Meskipun begitu, dia akan terus menari. Kalau bisa seumur hidupnya. Dengan begitu dia bisa terus menjaga kebugaran sekaligus bersenang-senang. Yang paling penting, dengan menari Anita merasa lebih hidup. Emosinya tersalurkan, ada tempat baginya untuk melepas pikiran dan berkonsentrasi pada alunan musik dan gerakan tubuh. Dengan menari,

Editorial Pro:aktif Online, edisi Agustus 2013



Salam inspiratif dan transformatif!

Pro:aktif Online edisi Agustus 2013 kembali hadir dengan tema “Anak dan Tantangan Jaman”.

Perbincangan soal anak seperti tak ada habisnya untuk dibahas. Apalagi, dengan segala perubahan dan percepatan yang dialami dunia dalam hal teknologi dan informasi, segala hal terkait mengasuh dan membesarkan anak mendapat imbasnya juga. Oleh karena itu, tema kali ini fokus kepada permasalahan seputar anak serta tantangan yang dihadapi oleh para orang tua dalam mendampingi anak-anak mereka bertumbuh dan belajar di masa kini.

Mari kita tengok lebih jauh lagi butir-butir inspirasi dari edisi kali ini!

[PROFIL] Komunitas Sahabat Kota


Apa yang akan terjadi puluhan tahun ke depan jika tidak ada orang yang peduli akan lingkungan hidupnya? Hal ini patut kita pikirkan bersama. Tidak hanya kita saja yang akan merasakan manfaat lingkungan dan hidup di dalamnya, namun anak cucu kita juga akan merasakan hal yang sama. Tapi bagaimana jika kondisi lingkungan yang kita nikmati sekarang berbeda dengan apa yang akan anak cucu kita rasakan nanti?
Maka,  kita sebagai manusia yang hidup di dalamnya harus menjaga kondisi lingkungan dan berusaha untuk melestarikannya. Atas dasar tersebut didirikanlah sebuah organisasi sosial yang begerak dalam bidang pendidikan informal mengenai lingkungan kota yang dikemas secara menarik bagi anak-anak. Mengapa anak-anak? Pendidikan mengenai lingkungan kota harus diterapkan sejak dini, mereka harus mengetahui kondisi dan memiliki rasa cinta terhadap lingkungannya. Maka saat mereka beranjak dewasa

[PIKIR] Pola Pengasuhan Anak di Masa Kini

Perubahan dan Tantangan Jaman

Dunia yang kita hidupi ini senantiasa berubah dari masa ke masa. Beragam inovasi ilmu pengetahuan telah menciptakan kemajuan teknologi yang memudahkan manusia dalam melakukan berbagai hal, mulai dari alat transportasi hingga sumber informasi maupun perangkat komunikasi.Misalnya, jika dahulu manusia mengandalkan surat menyurat melalui pos untuk berkomunikasi jarak jauh dengan seseorang, sekarang mereka dapat melakukannya dengan berkomunikasi langsung melalui telepon atau menuliskannya di surat elektronik atau e-mail. Jika dahulu manusia menggunakan hewan-hewan sebagai alat bantu untuk mempermudah transportasi, kini, setelah penemuan mesin dan bahan bakar, manusia dapat menempuh perjalanan dengan mobil, motor bahkan pesawat terbang.
Dunia semakin canggih. Segalanya serba mudah dan cepat. Tak perlu berlama-lama

[PIKIR] Menilik Realita Anak Jaman Sekarang


Sesuai judulnya, tulisan ini mengajak kita mengamati situasi anak kita melalui perspektif waktu. Kalau kita ingin bicara mengenai realita anak-anak kita jaman sekarang, tentunya kita perlu melongok bagaimana hal-hal yang sama terjadi di waktu-waktu yang lalu– setidaknya sewaktu kita kecil dulu. Hari ini, kita ada di dalam situasi di mana teknologi sudah merasuk ke segala sisi kehidupan dan juga menjangkau berbagai sisi kehidupan anak-anak kita. Tulisan pendek ini akan menyoroti apa dan bagaimana dampak-dampak yang muncul dari berbagai perubahan yang ada bagi proses tumbuh kembang anak-anak kita saat ini.
Kita coba mulai dari telaah singkat situasi dulu dan sekarang. Sewaktu saya duduk di bangku SD dulu, tidak banyak ditemui rumah yang memiliki pesawat telepon sendiri.

[MASALAH KITA] Mempersiapkan Anak Menghadapi Tantangan Jaman


Pengantar

Ibu EG memiliki seorang putri yang berusia 7 tahun. Akhir-akhir ini putrinya menggemari makanan-makanan yang dijajakan di sekolah. Biasanya Bu EG  menyiapkan bekal makanan dari rumah untuk putrinya, namun karena ada teman sekolah yang sesekali merayakan ulang tahun dan memberikan bingkisan ulang tahun berisi makanan ringan, putrinya pun mau tidak mau berkenalan dengan makanan tersebut. Awalnya Bu EG langsung menyeleksi makanan-makanan itu karena khawatir dengan kandungan seperti MSG, pengawet, dan pewarna. Akan tetapi dengan pertimbangan untuk mendidik anaknya mengenai rasa dan kesehatan makanan, Bu EG mengizinkan putrinya untuk mengonsumsi makanan seperti itu namun dibatasi dan diberikan pengertian agar menyadari dampak makanan tersebut pada dirinya. Dengan penerapan disiplin tersebut, Bu EG berharap putrinya akan tetap lebih memilih makanan rumahan daripada yang dijajakan di sekolah.

Berbicara mengenai tumbuh kembang anak, dari masa ke masa, memiliki tantangannya masing-masing;

[OPINI] Menimbang Teknologi, Mendampingi Buah Hati : Refleksi atas teknologi dan peran orang tua dalam pengasuhan anak


Di sebuah restoran tempat kami makan, tampak di satu meja sebuah keluarga dimana sang ayah, ibu dan anak-anak mereka membawa gadget-nya masing-masing. Sang ibu tampak sibuk meng-update laman Facebooknya. Sang ayah sibuk membalas komentar di Twitter. Anak yang satu asyik ber-whatsapp ria dengan temannya sambil mendengarkan musik di telinganya, sedang dua anak lainnya bermain game di tablet-nya masing-masing. Dan tak heran, begitu makanan datang, tak seorang pun mematikan ‘mainan’nya. Sebuah pemandangan yang tampaknya mulai kerap dan biasa terjadi di banyak tempat makan di kota besar saat ini.

Benarkah ini sebuah gejala kewajaran dalam wajah sosial masyarakat kita?

Di satu kesempatan lain, saya mendapati keponakan saya yang sedang mempersiapkan diri menghadapi ulangan umum. Di telinganya terpasang headphone

[MEDIA] Berinternet Bersama Anak


“Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari jalan itu” (Proverb)

Teknologi itu seperti pedang bermata dua, bisa membangun dan sebaliknya bisa juga menghancurkan. Semuanya bergantung pada bagaimana kita menggunakannya. Dalam hal teknologi internet, kami memilih untuk memanfaatkannya bagi pendidikan anak-anak kami.

Kami tidak menyediakan televisi di rumah sejak anak-anak masih kecil. Sebagai sarana belajar

[TIPS] Membangun Kepedulian Sosial pada Anak


Perkembangan teknologi yang begitu cepat, seakan mengubah pola kehidupan kita. Alih-alih memperhatikan sekitarnya, perhatian orang-orang saat ini sepertinya lebih banyak tersedot oleh telpon genggam yang semakin canggih, atau tablet dan tab yang semakin kecil ukurannya sehingga mudah dibawa ke mana-mana dan digunakan setiap waktu. Tampaknya kemajuan teknologi belum diimbangi dengan peningkatan kecerdasan sosial, sehingga muncul fenomena tadi.
Masalah kepedulian sosial sebenarnya bukan masalah  baru yang  muncul bersamaan dengan masalah penggunaan “gadget” yang tidak pada tempatnya. Masalah ini muncul tidak kenal waktu, ketika seseorang belum memiliki kecerdasan sosial yang cukup.
Sebenarnya masih banyak hal lain di luar pengaruh gadget yang mencerminkan bagaimana kepedulian seseorang terhadap lingkungannya. Namun, daripada meributkan kondisi yang ada saat ini, mungkin lebih baik kita fokus kepada anak-anak yang ada saat ini, bagaimana membangun sikap peduli sosial, dan bagaimana menanamkannya  sehingga kelak mereka memiliki kesadaran untuk berkontribusi pada sesama.
Howard Kirschenbaum mengungkapkan, hampir seluruh masalah dalam kehidupan terkait

[JALAN-JALAN] Menengok Sanggar Waringin


Siang itu, perjalanan menuju ke Jalan Stasiun Timur agak menggerahkan sebetulnya. Matahari bersinar cukup terik ,menaikkan temperatur di dalam angkot Sadang Serang – Stasiun Hall. Kurang lebih perjalanan sekitar 40 menit dari Pahlawan hingga sampai ke lokasi.
Ini pertama kalinya saya mengunjungi Sanggar Waringin, berbekal informasi dari teman di KAIL. Begitu sampai di tugu Kereta Api, saya berbelok menuju ke terminal angkutan umum  Stasiun Besar Bandung, di situlah lokasi Sanggar Waringin berada. Melihat bangunan dengan empat papan nama yang salah satunya sangat jelas bertuliskan “Rumah Baca Sanggar Waringin”. Sedangkan, papan nama yang lain bertuliskan : “Rumah Perlindungan Anak”, “SMK Kalam Bangsa 2”, “PKBM Citra Bangsa 4”. 
Papan nama di depan bangunan Sanggar Waringin (dok. Kail)