[OPINI] Menimbang Teknologi, Mendampingi Buah Hati : Refleksi atas teknologi dan peran orang tua dalam pengasuhan anak


Di sebuah restoran tempat kami makan, tampak di satu meja sebuah keluarga dimana sang ayah, ibu dan anak-anak mereka membawa gadget-nya masing-masing. Sang ibu tampak sibuk meng-update laman Facebooknya. Sang ayah sibuk membalas komentar di Twitter. Anak yang satu asyik ber-whatsapp ria dengan temannya sambil mendengarkan musik di telinganya, sedang dua anak lainnya bermain game di tablet-nya masing-masing. Dan tak heran, begitu makanan datang, tak seorang pun mematikan ‘mainan’nya. Sebuah pemandangan yang tampaknya mulai kerap dan biasa terjadi di banyak tempat makan di kota besar saat ini.

Benarkah ini sebuah gejala kewajaran dalam wajah sosial masyarakat kita?

Di satu kesempatan lain, saya mendapati keponakan saya yang sedang mempersiapkan diri menghadapi ulangan umum. Di telinganya terpasang headphone

[MEDIA] Berinternet Bersama Anak


“Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari jalan itu” (Proverb)

Teknologi itu seperti pedang bermata dua, bisa membangun dan sebaliknya bisa juga menghancurkan. Semuanya bergantung pada bagaimana kita menggunakannya. Dalam hal teknologi internet, kami memilih untuk memanfaatkannya bagi pendidikan anak-anak kami.

Kami tidak menyediakan televisi di rumah sejak anak-anak masih kecil. Sebagai sarana belajar

[TIPS] Membangun Kepedulian Sosial pada Anak


Perkembangan teknologi yang begitu cepat, seakan mengubah pola kehidupan kita. Alih-alih memperhatikan sekitarnya, perhatian orang-orang saat ini sepertinya lebih banyak tersedot oleh telpon genggam yang semakin canggih, atau tablet dan tab yang semakin kecil ukurannya sehingga mudah dibawa ke mana-mana dan digunakan setiap waktu. Tampaknya kemajuan teknologi belum diimbangi dengan peningkatan kecerdasan sosial, sehingga muncul fenomena tadi.
Masalah kepedulian sosial sebenarnya bukan masalah  baru yang  muncul bersamaan dengan masalah penggunaan “gadget” yang tidak pada tempatnya. Masalah ini muncul tidak kenal waktu, ketika seseorang belum memiliki kecerdasan sosial yang cukup.
Sebenarnya masih banyak hal lain di luar pengaruh gadget yang mencerminkan bagaimana kepedulian seseorang terhadap lingkungannya. Namun, daripada meributkan kondisi yang ada saat ini, mungkin lebih baik kita fokus kepada anak-anak yang ada saat ini, bagaimana membangun sikap peduli sosial, dan bagaimana menanamkannya  sehingga kelak mereka memiliki kesadaran untuk berkontribusi pada sesama.
Howard Kirschenbaum mengungkapkan, hampir seluruh masalah dalam kehidupan terkait

[JALAN-JALAN] Menengok Sanggar Waringin


Siang itu, perjalanan menuju ke Jalan Stasiun Timur agak menggerahkan sebetulnya. Matahari bersinar cukup terik ,menaikkan temperatur di dalam angkot Sadang Serang – Stasiun Hall. Kurang lebih perjalanan sekitar 40 menit dari Pahlawan hingga sampai ke lokasi.
Ini pertama kalinya saya mengunjungi Sanggar Waringin, berbekal informasi dari teman di KAIL. Begitu sampai di tugu Kereta Api, saya berbelok menuju ke terminal angkutan umum  Stasiun Besar Bandung, di situlah lokasi Sanggar Waringin berada. Melihat bangunan dengan empat papan nama yang salah satunya sangat jelas bertuliskan “Rumah Baca Sanggar Waringin”. Sedangkan, papan nama yang lain bertuliskan : “Rumah Perlindungan Anak”, “SMK Kalam Bangsa 2”, “PKBM Citra Bangsa 4”. 
Papan nama di depan bangunan Sanggar Waringin (dok. Kail)

[PIKIR] Belajar dari Pengalaman Pahit, Mungkinkah?


Ketika tsunami di Aceh terjadi pada tahun 2004,  seorang teman saya kehilangan seluruh keluarganya. Dia sedang menuntut ilmu di pulau Jawa sehingga tidak mengalami diterjang tsunami. Tetapi semua orang yang dikasihinya, khususnya sang Ibu meninggal dunia. Teman saya itu sangat dekat dengan ibunya. Saya masih ingat betapa keras teriakannya saat mendengar kabar duka tersebut. “Saya ingin ibu saya kembali!”

Cerita di atas hanya salah satu contoh dari pengalaman pahit seseorang. Setiap orang pasti pernah mengalami pengalaman pahit meski dengan cara yang berbeda.

[MASALAH KITA] Aktivis Menghadapi Cermin Sosial



Nama saya, Novi. Selepas kuliah, orientasi saya sangat berbeda dengan apa yang saya lakukan sekarang. Selayaknya fresh graduate lainnya, orientasi hidup saya saat itu adalah bekerja untuk mendapatkan penghasilan sebanyak-banyaknya. Kebetulan pekerjaan yang tersedia saat itu adalah menjadi marketing sebuah perusahaan swasta.

Tuntutan yang saya hadapi untuk bertahan di pekerjaan tersebut adalah saya harus tampil menarik, seragam, rapi, teratur dan tentunya profit. Pada awalnya saya melihat itu sebagai hal yang saya impikan dan seharusnya saya lakukan karena setiap wanita seumuran saya dan di lingkungan saya, ya seperti itu.

[OPINI] Takut Untuk Sukses, Sumber Kegagalan Terbesar


Sebuah pertanyaan yang biasa ditanyakan orang tua kepada anak-anaknya adalah, “Kalau sudah besar mau jadi apa?”, lantas anak-anak akan memberi beragam jawaban mengenai cita-cita mereka. Bahkan walikelas saya di SD pada suatu hari pernah menanyakan kepada seluruh siswa, apa cita-citanya. Jawaban yang diutarakan kurang lebih sama, menjadi dokter, astronot, atau pilot.
Terlepas dari apa yang menyebabkan adanya keseragaman jawaban tersebut, cita-cita merupakan salah satu indikator kesuksesan yang hendak diraih. Sukses, adalah kata yang akan kita bahas bersama di sini.

[MEDIA] Petualangan Banyu dan Elektra Menyalakan Kota


Judul : Petualangan Banyu & Elektra Menyalakan Kota
Tahun : 2012
Kategori film : Animasi
Konsep & Skenario : Kandi Sekarwulan, M. Bijaksana
Produksi : Greeneration Indonesia dan Sahabat Kota
Produser Eksekutif : WWF Indonesia
Produser : BNI, The Body Shop, Hilo
Durasi : 9 menit 58 detik
Bahasa yang digunakan : Indonesia


Yuk, hemat penggunaan energi!

[TIPS] Pengembangan Diri Aktivis


Aktivis, menurut Kamus Bahasa Indonesia adalah seseorang dengan jabatan tertentu, seperti anggota organisasi politik, sosial, buruh, petani, pemuda, mahasiswa, wanita, lingkungan, ataupun pendidikan yang bekerja aktif dan mendorong pelaksanaan sesuatu atau berbagai kegiatan di organisasinya. Menjadi aktivis adalah sebuah pilihan, pilihan untuk mengembangkan hal-hal yang menjadi fokus keberpihakannya untuk “ditularkan” kepada masyarakat luas bersama dengan komunitas atau organisasinya. Misalnya, seorang aktivis lingkungan akan terus berusaha untuk mengembangkan kegiatan-kegiatan yang bisa diterapkan dalam masyarakat luas agar lingkungan lestari dan berkelanjutan sampai masa yang akan datang. Contoh konkritnya, suatu LSM lingkungan hidup akan melakukan kegiatan kampanye Zero Waste (nol sampah) kepada masyarakat luas beserta solusi-solusi yang ditawarkannya, dengan harapan setelah kampanye tersebut selesai, masyarakat yang telah

[JALAN-JALAN] Sanggar Anak Alam, Belajar dari Sekolah Kehidupan


Berbicara tentang pendidikan anak memang tak ada habisnya. Sebut saja contoh beberapa masalah terkait kurikulum yang selalu berubah setiap kali ada pergantian menteri, penambahan jam belajar sekolah plus beban tugas anak sekolah yang sangat menyita kesempatan bermain, membatasi ruang interaksi sosial anak dengan keluarga, teman sebaya di lingkungan terdekat, belum lagi akses pendidikan anak yang terbatas terhadap lembaga pendidikan. Kekhawatiran tersebut tentu saja sangat merisaukan beberapa orangtua yang anak-anaknya memasuki usia sekolah.  
Berangkat dari permasalahan pendidikan yang ruwet ini Sri Wahyaningsih

[JALAN-JALAN] Sekolah Alternatif Qaryah Thayyibah, Solusi Kreatif Dunia Pendidikan



Pada bulan Mei 2012, saya beruntung mendapat kesempatan berkunjung ke desa Kalibening, Salatiga dan berjumpa dengan teman-teman pengurus Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah (SPPQT). SPPQT merupakan gabungan kelompok tani yang beranggotakan lebih dari 16.000 orang yang tersebar di seluruh provinsi Jawa Tengah. Di sana saya melakukan wawancara dan Focus Group Discussion kepada banyak petani. Dari mereka, saya  banyak belajar kearifan lokal masyarakat perdesaan. Banyak dari mereka yang memiliki semangat dan cita-cita tinggi di balik segala keterbatasan. Setelah menginap beberapa hari di rumah-rumah warga, saya disarankan untuk melihat-lihat sebuah sekolah alternatif yang merupakan salah satu cabang kegiatan dari SPPQT.