[Masalah Kita] Aktivis Ramah Lingkungan, Mungkinkah?

Aktivis, siapakah mereka?

Sesungguhnya, siapapun bisa menjadi aktivis. Bahkan, setiap orang yang melakukan aktivitas guna mendorong perubahan situasi maupun kebijakan yang lebih baik bagi masyarakat maupun lingkungan dapat disebut sebagai aktivis. Hanya saja, terminologi aktivis saat ini menjadi sempit pada dunia aktivis yang suka melakukan protes di jalan-jalan atau di depan gedung wakil rakyat. Aktivis dipandang sebagai sesuatu yang radikal, beringas dan seram.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), aktivis adalah orang yang mampu menggerakkan orang lain untuk bertindak. Aktivis memiliki kemampuan mengatur orang lain (organisatoris), dan dianggap sebagai tokoh dan pelopor di bidangnya. Salah besar jika selama ini aktivis hanya ada pada lingkup dunia mahasiswa. Tidak hanya mahasiswa saja yang bisa berperan sebagai aktivis. Seorang ibu rumah tangga pun bisa menjadi seorang aktivis, ketika kriteria yang disebut di atas telah dilakoni oleh ibu rumah tangga tersebut.

[Opini] Pelanduk yang Mati Suri

Tujuh tahun berlalu ketika Bandung mendapat bencana memalukan yaitu  longsornya tanah di tempat pembuangan sampah akhir (TPA) Leuwigajah, Jawa Barat, pada 21 Februari 2005. Peristiwa itu merupakan bencana sampah terbesar di Indonesia yang mengakibatkan korban meninggal 143 jiwa dan puluhan orang lainnya luka-luka.
Berita tentang bencana akibat kelalaian manusia tersebut diliput oleh seluruh media yang ada di Indonesia. Warga Jawa Barat gelisah karena sampahnya tidak diangkut, khususnya mereka yang berdomisili di kota Cimahi, kabupaten Bandung dan kota Bandung. Puncak bencana terjadi ketika Bandung dijuluki sebagai Bandung Lautan Sampah, sampai-sampai presiden Susilo Bambang Yudoyono turun tangan memberikan ultimatum.

[Media] No Impact Man : Antara Inspirasi dan Idealisme


Judul : No Impact Man
Tahun : 2007
Genre : Dokumenter
Pemain : Colin Beavan, Michelle Conlin, Isabella Beavan
Produksi : An Eden Wormfeld films, Shadowbox Film and Laura Gabbort Film Production
Produser : Julia Parker Benello, Diana Barrett dan Dan Cogan
Editor : William Haugse A.C.E dan Matthew Martin
Durasi : 1 jam 29 menit
Bahasa : Bahasa Inggris dengan subjudul dalam bahasa Indonesia

Film ini merupakan kisah perjalanan seorang warga Amerika Serikat, Colin Beavan yang mencetuskan gerakan untuk tidak menghasilkan dampak terhadap bumi. Semua perjalanan gagasannya ini didokumentasikan dalam film dan buku yang berjudul No Impact Man.

[Tips] What Can You Do as an Eco-Traveller?

Dalam dunia wisata, kata “eco” atau “green” sedang gencar didengungkan. Salah satu contohnya adalah ecotourism atau green-tourism. Sementara orang yang melakukannya disebut eco-traveler atau green-traveler. Penggunaan kata eco atau green tersebut untuk menunjukkan bahwa segala hal yang dilakukan dalam perjalanan wisata merupakan perjalanan yang ramah lingkungan, dan memelihara alam.

Sebenarnya semua orang yang melakukan perjalanan wisata ke suatu tempat bisa dikategorikan sebagai eco-traveller. Menjadi eco-traveler tidak harus mahal, tidak pula harus melakukan perjalanan dengan mendaki gunung dan menuruni lembah, tidak pula harus memanjat tebing terjal, atau  masuk gua-gua, maupun keluar masuk hutan. Menjadi eco-traveller tidak harus selalu menantang alam.

[Jalan-Jalan] Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro Banyu Biru

Terik matahari pagi mengiringi kami menuju lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Banyu Biru milik Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah (SPPQT). Dengan menumpang sebuah mobil yang dikemudikan oleh Pak Aep, kami menuju ke wilayah pinggir sungai yang cukup sempit. Di sana, terlihat pipa-pipa menjulur dari kaki gunung. Ujung pipa-pipa itu berakhir di sebuah bangunan berisi mesin-mesin yang mampu mengkonversi arus air menjadi arus listrik. Bangunan yang luasnya kira-kira 3 x 8 meter itu tampak masih baru, ditandai oleh segarnya polesan cat pada dindingnya. Di depan bangunan terdapat sebuah antena parabola. Namun, antena tersebut belum berfungsi. Rencananya, antena parabola tersebut akan berfungsi sebagai pengontrol mesin PLTMH jarak jauh. Di dekat bangunan kecil PLTMH itu, terdapat tanah seluas 200 m2 yang direncanakan untuk berbagai fungsi di kemudian hari.

[Profil] Nirmala Nair : Walk The Talk and Live Your Truth


Namanya Nirmala Nair. Dia biasa dipanggil Nirmala. Perjalanan Nirmala sebagai seorang aktivis cukup panjang. Kegiatan Nirmala bervariasi,  mulai dari menjadi fasilitator, peneliti, trainer, dan konsultan.  Pada tahun 70-an Nirmala bekerja di Barefoot College, Rajastan, India. Dia juga sempat menjadi konsultan di berbagai LSM. Kini, Nirmala merupakan aktivis di Zero Emmisions Research and Initiatives (ZERI), sebuah jaringan global yang memanfaatkan sains untuk menemukan solusi-solusi untuk berbagai masalah lingkungan. Selama 18 tahun terakhir, 
Nirmala tinggal di Cape Town, Afrika Selatan. 

Desember 2011 yang lalu, Nirmala datang ke Bandung untuk berbagi pengetahuannya mengenai yoga, gaya hidup yang sehat, dan keterkaitannya dengan pembangunan berkelanjutan. Selama di Bandung, Nirmala memberikan kuliah umum mengenai pembangunan berkelanjutan dan juga menjadi fasilitator pelatihan yoga yang  diselenggarakan oleh KAIL. Sejumlah aktivis ikut serta dalam kegiatan tersebut.

[Pikir] Rahasia Menuju Kebahagiaan Sejati

Percayakah anda bahwa kebahagiaan dapat diraih dan dapat bertahan lama menetap di dalam diri anda? Bagaimana memperoleh kebahagiaan semacam itu? Di dunia yang hiruk pikuk oleh berbagai tuntutan dan tekanan, entah itu dari sekolah, pekerjaan maupun rumah tangga, tentu semakin banyak orang mendambakan kebahagiaan. Siapa yang tidak ingin menjadi bahagia? Semua orang pasti ingin bahagia.

Definisi Kebahagiaan
Apakah kebahagiaan menurut anda? Hmm…pertanyaan yang gampang-gampang sulit menjawabnya. Jika anda menjawabnya dengan, “Saya berbahagia kalau …” atau “Saya berbahagia ketika …”, anda perlu mempertanyakan kembali apa makna sesungguhnya sebuah kebahagiaan bagi diri anda.

[Masalah Kita] Arti Kebahagiaan Untuk Aktivis


” Kebahagiaan adalah makna dan tujuan hidup, tujuan keseluruhan dan akhir dari eksistensi manusia.” – Aristoteles (Filsuf Yunani, 384 – 322 SM)

Begitu pentingnya kebahagiaan sehingga gerak hidup manusia didasari oleh upaya mencari kebahagiaan sebagai suatu tujuan, seperti yang diungkapkan  Aristoteles di atas. Kebahagiaan tidak sekedar tujuan yang kita tentukan, akan tetapi juga bagaimana kita memaknainya sebagai langkah awal sebelum kita sampai kepadanya.

Kita lihat misalnya di hari Kasih Sayang atau biasa juga disebut Valentine Day yang dimana-mana dirayakan dengan pelbagai cara. Mulai dari  memberikan coklat pada seseorang, sampai dengan kencan spesial dengan orang tersayang. Tindakan-tindakan kita dalam mengekspresikan kasih sayang pada hari itu apakah memiliki suatu arti? Rasanya iya. Kita melakukan kesemua itu demi membahagiakan orang-orang tertentu dalam hidup ini. Harapannya dengan melihat orang tersebut berbahagia, kita pun ikut bahagia.

[Opini] Jebakan Kehidupan : Faktor Tersembunyi Penghambat Kebahagiaan


Apakah anda merasa sulit untuk berbahagia?
Apakah anda merasa sulit percaya diri?
Apakah anda merasa selalu terjebak masalah dengan pasangan atau rekan kerja dengan karakter yang mirip?
Apakah anda merasa selalu tertimpa berbagai masalah beruntun yang menghambat anda mencapai keberhasilan yang anda idam-idamkan?
Apakah anda merasa emosi negatif anda berulang kali dengan mudahnya terpicu?
Apakah anda merasa mengalami masalah fisik yang tidak ada habisnya?
Apakah anda sulit keluar dari kebiasaan yang buruk, meskipun anda menginginkannya?
Apakah anda tetap sulit merasa puas dan bahagia, meskipun anda sudah mencapai dan memiliki begitu banyak hal?

Jika anda mengalami satu atau lebih ciri-ciri di atas, hati-hatilah, mungkin anda sedang berada di tengah jebakan kehidupan yang menghambat anda mencapai kebahagiaan.

[Media] Menengok Proyek Kebahagiaan dari Sustainable Seattle

Uang, kapal pesiar, banyak uang, uang dan keamanan di masa tua. Itulah jawaban yang keluar dari lima orang responden Amerika yang diberi pertanyaan, “Apakah yang membuatmu bahagia?”. Wawancara ini dilakukan oleh wartawan televisi King5 News di Seattle, Amerika Serikat. Ketika pertanyaan serupa diberikan oleh wartawan Aljazeera di tempat umum  di Seattle, jawaban yang muncul adalah sehat dan kemampuan untuk memberikan kembali ke masyarakat.
Meskipun kebahagiaan diinginkan secara universal, bentuk dan nuansanya amatlah bervariasi secara budaya, filosofis dan sejarah. Kebahagiaan dapat berupa sesuatu yang dianggap hedonisme budaya barat, kepuasan materi bagi masyarakat miskin Afganistan atau ketenangan bagi para pemeluk Budha misalnya. Dari jawaban responden di Amerika akan pertanyaan apa yang membuatmu bahagia, uang hampir mendominasi jawaban mereka. Seolah uang berbanding lurus dengan kebahagiaan. Di banyak negara maju yang berfokus pada perkembangan ekonomi, begitulah hipotesisnya. Benarkah? Menurut Penncock, seorang pakar kesehatan umum di Vancouver,

[Tips] Menjadi Bahagia Melalui Emotion Freedom Techniques


Ketika kita mampu mengelola emosi kita, maka kita mampu membebaskan emosi-emosi negatif dan dengan demikian menjadi manusia yang cerdas secara emosional. Bagaimana kita bisa menjadi cerdas secara emosional dan membebaskan emosi-emosi negatif kita? 
Dewasa ini terdapat berbagai metode yang ditemukan untuk mengatasi persoalan-persoalan emosi.  Mulai dari metode konseling psikologis dan psikoterapi konvensional, NLP, hypnoterapi, TAT (Tapas Akupresure) sampai ke EFT (Emosional Freedom Technique).  Masing-masing metode memiliki keunikan dan kelebihannya masing-masing.  Empat metode terakhir yang disebutkan biasanya disebut sebagai metode instan, karena memang dampaknya langsung bisa dirasakan segera sesudah terapi dilakukan. 
Pada kesempatan ini kita akan membahas EFT untuk mengatasi persoalan-persoalan yang terkait emosional.  Masalah-masalah itu bisa terwujud dalam berbagai symptom, seperti: kecanduan, eating disorder, mental blok, phobia, trauma, psikosomatis, dll.