[Pikir] Multi Beban atau Multi Peran: Ketidakadilan atau Anugerah?

Tini (33th), adalah seorang perempuan yang telah menikah dan memiliki satu orang anak. Sebagai perempuan muda yang cerdas dan terampil, di tempat kerjanya Tini dipercaya sebagai manajer personalia. Setiap hari ia bangun pukul 04.00, lalu mulai mengerjakan pekerjaan rutinnya: memasak, membuatkan kopi dan jus untuk anak dan suami, menyiapkan pakaian anak dan suaminya, membangunkan dan memandikan anaknya, serta menyiapkan anaknya ke sekolah juga menyiapkan dirinya untuk ke kantor. Pukul 06.00 mereka sekeluarga pergi, suaminya ke kantor, anaknya ke sekolah dan dia sendiri ke kantornya. Pulang dari kantor, Tini langsung ganti pakaian, membersihkan rumah, menyiapkan makan malam, memandikan anak, menemani anak mengerjakan tugas dan belajar, serta menidurkan anaknya.
Rutinitas seperti ini ia jalani dari hari Senin sampai Jumat. Hari Sabtu biasanya ia isi dengan mencuci dan menyetrika, ikut pengajian dan arisan di RT, dan menemani anak bermain di taman kota. Sedangkan hari Minggu biasanya ada pertemuan ibu-ibu Dharma Wanita ataupun kelompok PKK. Tini mesti ikut pertemuan ini walaupun ia malas sebenarnya, karena Tono suaminya adalah pegawai negeri yang sedang dipromosikan jabatannya. Demi menunjang karier sang suami, Tini diminta untuk aktif dalam kegiatan Dharma Wanita dan juga kegiatan-kegiatan lainnya di kantor Tono.
Kisah Tini di atas adalah sebuah kisah ”biasa” yang dialami oleh banyak perempuan di Indonesia.

[Masalah Kita] Satu Episode Sedih Romantisme Aktivis Perempuan

Oleh: Yusmadaniar Hanum - Manager Program LSM PERAK-Pidie
Mungkin semua orang pernah mengalami sedih, namun sedih yang kurasa agak berbeda. Pada saat seorang gadis beranjak dewasa banyak cerita yang ingin dia banggakan: cerita manisnya bersama teman juga sang kekasih. Persoalan-persoalan di masyarakat mungkin akan bisa segera terpecahkan (masyarakat pengungsian), ada berbagai jalan keluar yang bisa ditempuh. Namun, berbeda dengan persoalan yang kuhadapi. Pada saat Aceh ini dinyatakan sebagai daerah konflik, aku menjadi salah satu aktivis perempuan yang siap dengan konsekwensi apapun. Ketika itu, aku tidak pernah resah dengan keamananku, makan, pakaian dan penampilan. Aku hanya resah terhadap keadaan masyarakat / orang-orang yang terjebak diantara dua pilihan; dukung GAM mati, tidak dukung GAM juga mati. Lokasi rumah mereka menjadi ajang pertempuran dan akhirnya mereka mengungsi untuk mencari tempat aman bagi anak dan istri mereka ke sebuah jalan, yang juga merupakan jalan pintas tujuan kampusku. Aku kuliah di salah satu kampus swasta yang ada di Aceh.

[Opini] LELAKI AKTIVIS PEREMPUAN

Oleh Tabrani Yunis
Director Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh
Dalam acara Temu Nasional Aktivis Perempuan Indonesia yang diselenggarakan oleh Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Jakarta, di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, tanggal 28-31 Agustus 2006, terdapat beberapa laki-laki sebagai peserta dan juga panitia. Kehadiran beberapa lelaki di tengah – tengah lebih kurang 300-an peserta aktivis perempuan tersebut, memang seperti mengundang sedikit perhatian bagi beberapa perempuan yang hadir. Namun, bagi para aktivis perempuan kehadiran atau keterlibatan beberapa lelaki sebagai peserta dan panitia dalam acara tersebut, bukanlah hal yang asing. Karena kehadiran laki-laki dalam memperjuangkan nasib kaum perempuan yang termarginalkan oleh berbagai faktor tersebut, sudah lazim ditemukan. Khususnya dalam dunia LSM, kini sudah banyak kaum laki-laki yang secara langsung dan sadar berjuang bersama kaum perempuan untuk mengangkat persoalan-persoalan yang dihadapi oleh kaum perempuan marginal baik yang berada di perkotaan, maupun di pedesaan. Ada yang secara individu aktif di dalam masyarakat dan ada pula yang memperjuangkannya melalui organisasi-organisasi seperti organisasi non pemerintah ( ORNOP). Pendeknya, baik secara individu maupun melalui institusi Ornop, kini banyak laki-laki terlibat langsung memperjuangkan perbaikan nasib kaum perempuan yang terpuruk.

[Media] POTRET: Majalah khusus Perempuan di Aceh

Di dalam konstruksi masyarakat yang patriarki, perempuan ditempatkan sebagai obyek. Sebagai obyek, tentunya perempuan hanya dijadikan sebagai ‘si penderita’, ‘ si pelengkap’ ataupun sasaran. Fenomena ‘pengobyekan’ perempuan ini kita lihat hampir di semua sektor, domestik ataupun publik. Untuk yang terakhir, salah satu contohnya di media.
Hal inilah yang dijadikan dasar pemikiran CCDE (Center for Community Development and Education) Banda Aceh, untuk menerbitkan buletin POTRET. Di dalam sebuah edisi, redaksi POTRET mengungkapkan bahwa Perempuan hanya dieksploitasi untuk kepentingan sebuah media yang menafikan potensi dan akses serta kontrol perempuan terhadap media. Idealnya, perempuan adalah sebagai subyek atau pelaku media yang dapat mengembangkan potensi menulis mereka.
Oleh karena itulah POTRET dijadikan sebagai Media Perempuan Aceh, sebuah media pembelajaran bagi perempuan Aceh untuk mengasah kemampuan dan keterampilan menulis. Perempuan diyakini memiliki potensi menulis yang sangat besar. Selain itu perempuan memiliki banyak problema yang penting dan menarik untuk ditulis.

[Media] Resensi Film: DARI BENCANA MENUJU KREATIVITAS

Judul : From Disaster To Creativity (Dari Bencana Menuju Kreativitas)
Produksi: GROOTs International
Durasi : 15 menit
Bencana! Kita, masyarakat Indonesia tentu sudah sangat akrab dengan kata tersebut. Bahkan untuk masyarakat di beberapa daerah, kata itu menjadi momok yang menakutkan dan juga menimbulkan trauma. Ya, negara kita memang sering sekali terkena bencana, entah itu tsunami, gunung meletus, badai, gempa, banjir, tanah longsor, dll. Walaupun demikian, tentunya kita tidak boleh larut dalam kesedihan, yang hanya akan membuat kita berputus asa menghadapi masa depan.
Kita tidak sendiri. Bukan Indonesia saja yang pernah mengalami bencana. Honduras, Turki dan India adalah contoh negara-negara yang juga pernah terkena bencana. Namun mereka, khususnya para perempuan di sana, tidak tinggal diam, tidak berpangku tangan saja. Para perempuan juga ambil bagian, para perempuan membangun kembali kehidupan mereka paska bencana. Hal tersebut didokumentasikan oleh GROOTs, sebuah LSM internasional yang peduli terhadap permasalahan perempuan akar rumput di seluruh dunia, ke dalam sebuah film pendek yang diberi judul From Disaster To Creativity / Dari Bencana Menuju Kreativitas”.

[Tips] SUKSES DI RUMAH SUKSES DI (BER)KEGIATAN

Dalam pengantar sebuah buku, Karlina Leksono, seorang aktivis perempuan, mengungkapkan bahwa dikotomi perempuan dan laki-laki berlanjut ke pemilahan tajam antara dunia publik laki-laki dan dunia domestik perempuan. Hal ini juga yang ‘mengurung’ perempuan di rumah. Pengurungan ini juga berarti pengurungan terhadap kebutuhan perempuan untuk bersosialisasi/untuk bisa juga mengekspresikan dirinya di masyarakat.

Dengan kata lain, ketika para perempuan / ibu-ibu ingin aktif berkegiatan di luar rumah, sering mereka berhadapan dengan keluarga (terutama) suami yang melarang, dengan alasan pekerjaan rumah tangga yang menumpuk dan juga pakem-pakem lain di masyarakat yang ‘melarang’ perempuan ke luar rumah.

[Jalan-jalan] Balai Perempuan Ala Turki melongok pengalaman FSWW - Turki

Segera setelah gempa bumi di Marmara tahun 1989, FSWW (The Foundation for the Support of Women's Work), sebuah yayasan yang mendukung kerja perempuan, mendirikan “Pusat Kegiatan Perempuan dan Anak”.
Kegiatan awal FSWW adalah pendampingan ibu-ibu untuk mengembangkan tempat penitipan anak, pusat pendidikan anak dan pusat kegiatan perempuan di kota Istambul. FSWW juga bekerja sama dengan perempuan-perempuan di daerah bencana, misal di daerah Marmara, agar komunitas-komunitas perempuan di daerah tersebut bisa menjadi aktor utama di setiap tahap penanganan bencana, mulai dari waktu tanggap darurat sampai pada proses rekonstruksi. Sedangkan di bagian tenggara Turki mereka bekerja sama dengan perempuan-perempuan lokal agar lebih berpartisipasi aktif di dalam program pembangunan daerah dan di dalam proses pengambilan keputusan.

[Wawancara] Ketika Aktivis Perempuan Menjatuhkan Pilihan

Seseorang adalah teman bagi dirinya sendiri dan karena itu ia bertanggung jawab atas dirinya sendiri: dia sendirilah yang menentukan segala sesuatu tentang dirinya.
(Mahabaratha)
Ungkapan di atas, sejalan dengan sikap para aktivis perempuan. Para aktivis perempuan sepertinya sangat paham bahwa setiap langkah / keputusan yang diambil, lahir dari diri mereka sendiri karena memang mereka yang menginginkannya dan siap dengan segala konsekwensinya. Salah satu contohnya, sikap mereka terhadap pernikahan dan memiliki anak.
Para aktivis perempuan menjatuhkan pilihan mereka. Ada sebagian aktivis perempuan yang memilih melajang dan sebagian lagi memilih menikah / berkeluarga. Untuk fenomena yang kedua, terbagi lagi atas tiga kelompok: ada yang memilih menikah dan meninggalkan aktivitas-aktivitas mereka sebelumnya, memilih menikah namun memilih untuk tidak mempunyai anak dan menikah dan memiliki anak.
Tim redaksi berhasil menghubungi beberapa aktivis perempuan dan membicarakan tentang pilihan yang mereka jalani.

[Profil] Putu Oka Sukanta Progresif dengan Kesehatan Alternatif

Profil Proaktif kali ini mengangkat tokoh yang tidak asing lagi. Putu Oka Sukanta, sosok yang lebih terkenal di luar negeri karena karya sastranya daripada di dalam negeri. Terkait dengan kesehatan alternatif, saat ini beliau sedang menyelesaikan buku “Akupresur Tangan yang Aman dan Bermanfaat.”
Sejak kecil beliau terbiasa hidup di antara masyarakat miskin, petani, nelayan dan perempuan pekerja. Ayah dan ibunya, petani yang buta huruf beserta Bude-nya, memberikan contoh keseharian bagaimana menghormati manusia lain, terutama yang lebih miskin. Salah satu hasil dari nilai yang ditanamkan oleh ketiga sosok yang mempunyai pengaruh besar dalam kehidupannya adalah Taman Sringanis. Lelaki kelahiran Singaraja, 29 Juli 1939 ini merupakan penggagas Taman Sringanis yang terletak di Bogor. Dari sebidang tanah yang dibeli berkat uang warisan orang tua, dibentuklah tempat yang dibuka untuk umum. Di sini publik dapat belajar berbagai jenis penguatan diri di berbagai bidang kehidupan yang tidak menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan. Untuk menghormati orang tua beliau yang berasal dari Bali maka diberilah nama kegiatan dan tempat tersebut Taman (nama ibu Ni Ketut Taman) dan Sringanis (nama kakak perempuan ibu yang tidak menikah, Ni Ketut Sringanis).

[Pikir] LIBERALISASI KESEHATAN

Para pendukung neoliberalisme mengajukan teori baru bahwa krisis dan kegagalan pembangunan di sektor kesehatan adalah akibat tidak becusnya pemerintah mengurus sektor kesehatan ini. Ada empat argumen mendasar yang mereka ajukan terkait efisiensi kinerja pemerintah. Pertama, pemerintah memberikan subsidi besar-besaran, sehingga harga yang dibayar masyarakat tidak mencerminkan harga yang sesungguhnya. Kedua, pemerintah tidak mampu memberikan layanan yang komprehensif kepada seluruh masyarakat secara adil dan merata. Ketiga, banyaknya korupsi dan tingginya biaya birokrasi di pemerintahan. Terakhir, rendahnya kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan pemerintah.

[Media] Resensi Buku: Liberalisasi Dan Tantangan Dalam Penyediaan Jasa Kesehatan Kepada Publik

Judul :Liberalisasi Dan Tantangan Dalam Penyediaan Jasa Kesehatan
Kepada Publik
Penulis :Tim Peneliti The Business Watch Indonesia (BWI);
Any Sulistyowati, David Sutasurya dan Navita Kristi Astuti
Tahun : 2004
Penerbit :The Business Watch Indonesia- WIDYA SARI PRESS,
SURAKARTA didukung oleh NOVIB OXFAM NETHERLANDS
Tebal : 214 hlm

Sehat, semua orang ingin selalu sehat. Hanya dalam keadaan sehatlah kita bisa beraktivitas apapun yang kita mau. Namun sejatinya manusia, kita tidak bisa selalu sehat. Terkadang kita jatuh sakit, dari ‘kelas ringan’ sampai ‘kelas berat’. Terutama untuk sakit ‘kelas berat’ yang sering kita rujuk ke pusat-pusat pelayanan kesehatan, kita berhadapan dengan sebuah sistem layanan kesehatan itu sendiri.
Layanan kesehatan adalah sebuah sistem yang jika ditilik lebih jauh lagi, ternyata adalah sebuah sistem yang rumit, panjang, kompleks, penuh intrik dan terkadang terkesan manipulatif. Oleh karena itu, sering kita melihat potret buram dari sistem layanan kesehatan ini. Namun, persoalan buruknya layanan kesehatan jelas bukan akibat dari krisis ekonomi semata. Banyak perkara lain yang terlibat.1