[Opini] Absurdnya Ekonomi Uang

Banyak orang sekarang yang menyatakan bahwa kegilaan pada uang adalah hidup yang realistis. Kita sekarang tidak bisa hidup tanpa uang. Betulkah ? Apakah uang dapat kita makan atau mengobati kita dari penyakit ?
Bila anda terperangkap sendirian di sebuah pulau kosong di tengah lautan luas, dengan segudang uang atau emas, apakah uang dapat membantu anda hidup ? Paling-paling uang kertas hanya menjadi kertas tissue, uang logam untuk mainan anak-anak dan emas tidak lebih dari sebuah batu. Kenyataannya yang benar adalah, kita tidak bisa hidup tanpa makanan, tanpa air dan tanpa udara.
Uang, tidak memiliki nilai dalam dirinya sendiri bagi manusia. Uang hanya bernilai pada saat suatu komunitas menyepakatinya sebagai alat tukar. Ya, nilai uang adalah murni hasil konsensus sosial.
Kegilaan pada penumpukan uang membawa kita pada situasi yang absurd.

[Media] Ulasan Buletin “BUJET”

Judul Buletin : Bujet
Penerbit : Bandung Institute of Governance Studies (BIGS) dan Fors Foundation (FF)
Pemimpin Redaksi : Dedi Haryadi
Alamat redaksi : Jl. Kidang Pananjung No. 5C, Bandung, 40135. Telp/Fax (022) 250 1954, (022) 7078 7931
Email : bujet@bdg.centrin.net.id

Persoalan anggaran merupakan persoalan riil di depan mata yang kasat mata. Pada umumnya orang akan cenderung menutup mata, pura-pura tidak tahu, bahkan tidak mau tahu dan menganggap bahwa persoalan anggaran merupakan persoalan yang tabu untuk dibahas secara terbuka. Sebagian kecil orang yang mempunyai keingintahuan yang besar dan mengambil sikap kritis justru seringkali dianggap sebagai “tukang ikut campur”. Sebagai akibat dari pengekangan rasa ingin tahu dan kekritisan terhadap anggaran, kita bisa melihat bagaimana penyelewengan anggaran tumbuh dengan suburnya, mulai dari tingkat yang terendah hingga tingkat yang paling tinggi. Tentunya ada faktor-faktor lain yang turut memupuk suburnya penyelewengan tersebut, seperti belum terbangunnya budaya transparansi, dan sebagainya.

[Tips] TIPS MENGELOLA UANG

Uang merupakan hal yang dirasa sensitif oleh masyarakat sekarang ini. Terlebih lagi oleh para aktifis yang notabene memiliki penghasilan pas-pasan, tentu hal ini bisa menjadi hambatan dalam melakukan aktifitas hariannya. Namun dengan pengelolaan keuangan yang maksimal, aktivitas harian aktifis tidak akan terganggu. Lebih dari itu, aktifis dapat menyisihkan uangnya untuk disimpan dalam tabungan.
Berikut beberapa langkah jitu untuk mengatur keuangan agar lebih efektif dan efisien.
· Buatlah rekening dari transaksi keuangan yang mungkin terjadi.
Rekening ini nantinya berguna untuk mengelompokkan transaksi keuangan sehingga pengguna dapat dengan mudah mengevaluasi pengeluarannya. Pembuatan rekening ini terdiri dari rekening utama dengan beberapa subrekening yang dikelompokkan sesuai dengan kebutuhan.
Berikut ini adalah contoh sebuah rekening pribadi.

[Jalan-jalan] BALAI WARGA MARLINA

Kalau anda mendengar kata Balai Warga jangan membayangkan sebuah bangunan yang kokoh, luas dan lengkap fasilitas. Tempatnya sederhana dengan desain rumah panggung dari bambu, ada papan triplek untuk menulis dan papan informasi, duduk lesehan dan angin segar yang dibiarkan masuk. Balai Warga Marlina adalah salah satu balai yang didirikan oleh masyarakat kampung Muara Baru dan Urban Poor Consorsium (UPC-LSM pendampingan rakyat miskin kota), terletak di salah satu pinggiran kota Jakarta, tepatnya di kampong Muara baru, kelurahan Penjaringan, Jakarta Utara. Untuk menuju kesana sangatlah mudah, dari stasiun Kota bisa naik angkot jurusan Muara Baru atau kalau tidak mau repot bisa langsung naik bajaj. Memasuki jalan Marlina, kita akan melihat sederetan rumah penduduk yang padat dan lalu lalang orang di gang sempit dengan berbagai aktivitasnya. Tanya saja Balai Warga Marlina pasti semua orang tahu dan akan berbaik hati menunjukkan arahnya.

[Profil] La Via Campesina, gerakan global untuk kedaulatan pangan petani kecil

“Beli gula sih gula import aja, harganya lebih murah loh daripada harga gula lokal... lumayan kan ngirit!”
“Bukannya ngga cinta produk dalam negeri, tapi beras Thailand sudah lebih enak harganya juga ngga jauh beda sama beras kita...”
“Mana bisa menanam pada musim tanam sekarang? Harga pupuk dan bibit makin mahal! Harga panen makin murah saja!”

Begitulah komentar yang sering kita dengar terlontar dari masyarakat kita. Keadaan dengan berlimpahnya produk luar negeri di pasaran lokal, kalah bersaingnya produk lokal hingga ketidakberdayaan petani di suatu negara yang katanya negara agraris.

[Pikir] Dari Kedaulatan Pangan Menuju Keberdayaan Pangan

Dari Kedaulatan Pangan Menuju Keberdayaan Pangan[1]

David Sutasurya[2] & Any Sulistyowati[3]
Kedaulatan pangan adalah suatu pengertian yang didasarkan pada paradigma imperialisme, di mana suatu kekuatan secara paksa mengambil kebebasan negera lain. Pengertian kedaulatan muncul sebagai pengakuan atas hak suatu negara untuk mengendalikan negaranya sendiri. Oleh karena itu dalam "Food Sovereignty: A Righ for All", Pernyataan Politik NGO/CSO pada Forum Kedaulatan Pangan di Roma, 8-13 Juni 2002 yang lalu kedaulatan pangan didefinisikan sebagai,
"HAK setiap orang, kelompok-kelompok masyarakat dan setiap negara untuk menentukan sendiri kebijakan-kebijakan pertanian, ketenagakerjaan, perikanan, pangan dan tanah, sesuai dengan kondisi ekologi, sosial ekonomi dan budaya mereka".
Konsep imperialisme ini kemudian diperluas namun masih menyiratkan konflik vertikal antara negara utara dan selatan atau dalam suatu negera antara pemerintah dan rakyat. Hal ini dapat kita lihat antara lain dalam turunan konsep tersebut menjadi aksi. Misalnya La Via Campesina menyatakan bahwa persoalan bukanlah masalah kekurangan pangan tetapi masalah hak atas pangan. Hak atas pangan ini dapat dicapai antara lain dengan mereformasi perdagangan global, memberikan petani kontrol akan alat-alat produksi dan pertanian berkelanjutan.

[Masalah Kita] Seputar Pangan Kita

Kebanyakan dari kita yang tinggal di kota besar tentu tidak pernah kesulitan memperoleh pangan. Tinggal jalan sedikit ke warung, atau jauh sedikit ke pasar, atau mau yang lebih keren mentereng tanpa becek, di mall-mall, di situ menumpuk makanan berlimpah. Berbagai jenis dan ukuran. Semua tersedia. Padahal kalau kita melihat kota kita, apa yang kita lihat di sekeliling kita. Bangunan, mobil, jalan raya! Mungkin ada satu dua pohon, tetapi bukan pohon yang menghasilkan makanan yang kita lihat di pasar atau supermarket itu.

Bagaimana semua makanan itu bisa ada di kota, padahal kota sama sekali bukan penghasil pangan?

[Opini] Membangun Ketahanan Pangan yang Berkelanjutan: Belajar dari pengalaman Kuba

Penulis: Any Sulistyowati
Kuba adalah satu-satunya negara di dunia yang menempatkan pertanian organis sebagai kebijakan pertanian nasional. Di tengah perdebatan internasional apakah pertanian organis mampu memproduksi cukup pangan untuk seluruh umat manusia, pertanian organis justru telah menyelamatkan Kuba dari krisis pangan hebat akibat hancurnya blok komunis Uni Soviet dan diperketatnya embargo Amerika Serikat. Pengalaman mereka ini sangat menarik untuk dipelajari; mungkin tidak cocok untuk diterapkan sepenuhnya di Indonesia, melainkan semoga dapat menjadi inspirasi yang menunjukkan bahwa model dunia yang lain juga mungkin dan masukan untuk membangun sistem ketahanan pangan yang lebih berkelanjutan dalam konteks Indonesia.

[Tips] Mendukung Gerakan Kedaulatan Pangan Petani Kecil

- Kurangilah membeli produk-produk pangan buatan pabrik, apalagi bila pabriknya milik perusahaan-perusahaan multinasional.
- Belilah produk lokal, yang diproduksi di dalam negeri oleh petani-petani kecil. Kalau bisa, pilihlah produk yang diproduksi lebih dekat dengan tempat kita.
- Lebih baik lagi jika, produk tersebut dibeli langsung dari petani produsen. Cara ini akan memotong rantai pemasaran yang panjang. Selain produknya lebih segar, kita akan memberikan lebih banyak keuntungan untuk petani produsen.

[Jalan-jalan] Bina Sarana Bakti

Kalau kita sempat ke Cisarua, tepatnya sebelum Puncak dari arah Jakarta, mampirlah ke Bina Sarana Bakti. Bina Sarana Bakti (BSB) adalah sebuah Yayasan yang sejak didirikan konsisten mengembangkan sikap hidup organis. Sesuai dengan namanya: Bina berarti membangun, membimbing, memelihara; saranan berarti media atau alat; dan bakti yang berarti pelayanan, BSB ingin membantu setiap orang untuk membangun sikap hidup organis.

Yayasan ini berdiri sekitar 20 tahun yang lalu dan memulai karyanya di bidang pertanian organis.

Editorial Edisi 6

Hallooo…. Ketemu lagi di Proaktif edisi ke 6.
Belum hilang dari ingatan kita, bagaimana kita bahu membahu untuk membantu saudara kita di Aceh dan Nias yang tertimpa musibah, tanpa memandang agama, suku, ras, wilayah tempat tinggal, mata pencaharian, maupun kebangsaan. Sisi positif yang dapat kita maknai dari sebuah bencana yakni bahwa bangsa yang beragam ini ternyata masih tergetar hatinya bahkan mau menyisihkan sejenak perbedaan yang ada untuk bisa membantu saudaranya yang menderita.
Demikian pula terbitnya Pro:aktif ini tidak lepas dari upaya bahu membahu dari banyak orang yang bersedia meluangkan sedikit waktunya untuk membagikan ide, pendapat, atau pun pengalamannya. Dimulai dari proses pembuatan hingga isinya, edisi kali ini memang sangat sesuai dengan temanya yakni “Pluralisme”.