[Pikir] Menikah atau Melajang? Sebuah Refleksi Atas Pilihan Hidup Dalam Mengekspresikan CINTA

"….ternyata sepatu kaca itu sangat cocok dengan kaki Cinderella. Maka, dibawalah Cinderella ke Istana sang Pangeran. Akhirnya, Sang Pangeran dan Cinderella menikah, dan mereka hidup bahagia selama-lamanya."
Tentunya cerita di atas sudah tidak asing lagi di telinga kita, apalagi para gadis dan remaja putri. Ada banyak cerita dan dongeng lainnya yang mirip dengan dongeng Cinderella ini, di mana seorang gadis cantik tapi miskin dan malang, atau gadis dari kalangan rakyat biasa, yang seumur hidupnya menderita (karena ibu tiri dan saudara tiri perempuan yang jahat dan kejam), akhirnya menikah dengan seorang Pangeran yang akan datang padanya. Pada akhir cerita selalu digambarkan sang gadis menikah dengan Pangeran dan mereka hidup bahagia selamanya.

[Masalah Kita] Sebuah Cinta Kasih: Ikatan Suci Etnis Tionghoa dan Etnis Jawa

Saya tidak pernah merencanakan untuk jatuh cinta pada orang dari etnis lain
Saya tidak pernah punya impian untuk menjadi anak tidak berbakti, hanya karena saya mencintai orang dari etnis lain.

Saya seorang anak Tionghoa berusia 27 tahun, yang telah hampir 7 tahun ini berpacaran dengan seorang anak dari etnis Jawa. Kami satu almamater, namun uniknya kami baru berkenalan dengan cukup dekat justru di saat-saat di mana salah satu dari kami sudah hampir lulus kuliah S1nya.

[Opini] BERSIT-BERSIT MAKNA CINTA

Cinta adalah energi yang sangat besar. Karena itu seringkali kita kesulitan melukiskan makna cinta. “Cinta terlalu luas, terlalu dalam untuk dipahami, diukur atau dibatasi dengan sekedar bingkai kata-kata”, kata M. Scott Peck, dalam The Roadless Travelled. Namun definisi cinta tetap penting, setidaknya karena banyak orang bingung memaknai cinta.

Sesuatu yang bukan cinta, dikira cinta. Seorang pria yang tidak pernah mengijinkan pacarnya, untuk pergi sendiri ke suatu tempat tanpa ia dampingi, mengira dirinya sangat mencintai sang pacar. Padahal sesungguhnya pria itu hanya sangat memanjakan sang pacar, dan sangat memanjakan tentu sama sekali tidak sama dengan mencintai. Banyak orang salah memahami cinta, dan perasaan-perasaan tertentu mereka kira sebagai cinta sejati. Sering kita dengar “cinta itu perasaan”, “cinta itu romantika”, “saya akan menemukan tujuan hidup dengan belahan jiwa saya”, “cinta akan menyembuhkan kesepian dan penderitaan”.

[Media] Sebuah Dunia Tanpa Suami


Judul : Sebuah Dunia Tanpa Suami: Perempuan Kepala Keluarga Bercerita
Produksi : PEKKA-PPSW bekerjasama dengan Komnas Perempuan
Tahun : 2004
Pernikahan, yang dalam Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer diartikan sebagai perjanjian resmi antara pria dan wanita untuk membentuk keluarga ini, pada dasarnya sangat terbuka untuk dimaknai oleh siapa saja dan selalu dimungkinkan untuk munculnya counter-hegemoni ataupun hegemoni alternatif.
Pernikahan, yang oleh mainstream masyarakat selalu dikonotasikan sebagai pernikahan heteroseksual, sekaligus juga mengusung pelbagai mitos dan konstruksi sosial. Kontruksi sosial gender telah menempatkan laki-laki sebagai kepala keluarga yang berarti pemimpin dan penentu kebijakan dalam keluarga tersebut serta menjadi pencari nafkah dan tulang punggung bagi keluarganya. Sedangkan perempuan sebagai ibu dan istri dituntut pengorbanannya serta diberi beban sebagai penjaga moral keluarga dan bangsa.

[Tips] TIPS MENCARI PASANGAN VIA INTERNET

Tersedianya fasilitas komunikasi yang canggih ini tidak disia-siakan oleh banyak kawula baik muda atau pun tua untuk mencari teman sebanyak-banyaknya, untuk mencari pasangan, urusan bisnis atau pun keperluan lainnya. Dari sekian banyak pilihan, tampaknya chatting atau komunikasi melalui instant messaging menjadi favorit. Selidik punya selidik, ternyata banyak juga rekan-rekan yang menemukan pasangan hidupnya melalui media ini. Wah, hebat!!! Lalu bagaimana ceritanya?? Kurang lebih inilah yang disharekan oleh salah seorang rekan kita yang kebetulan menemukan belahan jiwanya lewat kecanggihan teknologi ini.
Sebenarnya tidak ada niat khusus untuk mencari pasangan lewat internet. Itu hanyalah satu alternatif untuk memperluas relasi. Chatting melalui internet ini dapat menghubungkan kita ke banyak orang yang ada di berbagai tempat. Namun akan jauh lebih menguntungkan kalau kita bisa bertemu langsung dengan siapa kita berkomunikasi.. Ada banyak kendala ketika kita berkomunikasi melalui dunia virtual seperti internet. Kita sulit untuk mengetahui apakah lawan bicara kita itu mengatakan hal yang sebenarnya atau tidak. Kalau kita berhadapan langsung, kita akan terbantu untuk bisa menilai seseorang dari bahasa tubuhnya.

[Tips] Kiat berinternet untuk komunikasi jarak jauh: Agar Anda dan si Dia Tetap Dekat dan Irit

Siapa bilang internet ‘cuma' media komunikasi yang hanya bisa email dan chatting? Dengan perkembangan internet sekarang ini, bentuk komunikasi manusia perlahan-lahan semakin dimudahkan dan dilengkapi. Hal yang menarik adalah ternyata semua itu makin ekonomis dan terjangkau.

Bagi Anda, pasangan istri-suami atau pacar atau yang terlibat dalam sebuah relasi, yang membutuhkan komunikasi intensif tetapi sementara sedang dalam keadaan terpisah ruang, jarak dan waktu; internet bagai oase di tengah gersangnya media komunikasi murah meriah. Mari kita susuri apa saja aplikasi-aplikasi internet yang bisa ditawarkan untuk membuat hubungan Anda dan si dia yang berjauhan mata tetap dekat di hati. Berikut diantaranya yang populer.

[Jalan-jalan] Cerita dari Bali

Pertengahan desember 2004 lalu saya bersama 5 orang tim fasilitator KaIL mendapat kesempatan terlibat dan memfasilitasi kegiatan Pertemuan Nasional (PeNas) Jaringan Pendidikan Lingkungan (JPL) yang diselenggarakan di tempat salah satu anggotanya di Bali. Lokasinya di daerah wisata Pantai Sanur, sekitar 200 meter dari tepian pantai, cukup beberapa menit saja waktu yang diperlukan untuk mencapainya.

Tema yang diangkat pada pertemuan nasional kali ini adalah Peran Pendidikan Lingkungan Hidup Dalam Realitas Kemiskinan dan Permasalahan Gender. Peserta yang hadir merupakan utusan dari sekitar 40 anggota JPL yang diseleksi dari semua anggota yang ada di seluruh Indonesia, baik atas nama lembaga ataupun perorangan. Selain itu ada banyak juga undangan dalam acara ini, yang memiliki latar belakang kegiatan sesuai dengan tema besar yang di angkat pada PeNas.

Editorial Edisi 4

Kehidupan seorang aktivis selalu menjadi topik yang menarik untuk didiskusikan, baik dalam hal kehidupan pribadinya, kehidupan aktivitasnya, kehidupan sosialnya, maupun dalam hal kebutuhan-kebutuhan dasar hidupnya. Dalam Pro:aktif kali ini kami secara khusus mengangkat tema seputar aktivis dan kebutuhan-kebutuhan dasarnya.

Tulisan-tulisan yang dapat dinikmati dalam edisi kali ini antara lain Bagaimana Melakukan Proses Daur Ulang untuk Penggunaan Popok Sekali Pakai, dapat Anda nikmati dalam rubrik Tips; rubrik MEDIA kali ini menyajikan dua buah film dokumenter. Pertama, sebuah resensi film bertajuk Membunuh Hari (Killing the Days) yakni sebuah film yang menggambarkan dinamika persoalan penggusuran yang dialami oleh warga Teluk Gong di Jakarta. Kedua, anda dapat menikmati sebuah film dokumenter berjudul Roda Rakyat (People’s Wheels) sebuah film yang menggambarkan kerasnya perjuangan kehidupan seorang tukang becak. Sementara dalam rubrik PIKIR kali ini menyajikan Neoliberalisme: Ketika Uang Makin Digdaya dan untuk rubrik masalah kita, dibagikan refleksi hidup seorang aktivis, berjudul Tulang rusuk yang hilang? Rubrik Profil kali ini mengangkat Munawiyah: kisah perjuangan seorang petani perempuan yang mengalami berbagai macam bentuk penindasan, dan itu pula yang kemudian menggerakkannya untuk menjadi salah satu dari sekian aktivis perempuan yang secara konsisten menentang berbagai bentuk penindasan.

[PROFIL] Munawiyah: Sosok Petani Perempuan

Pada pertemuan La Via Campesina (perkumpulan petani) Asia di Padang, 7 Mei 2004, Kail berkesempatan menghadirinya. Dari para tokoh petani se-Asia yang hadir di sana, adalah para mitra dari Indonesia. Satu diantaranya, dan satu-satunya perempuan adalah Munawiyah, seorang perempuan petani dari Pidie, Aceh. Ia adalah seorang petani perempuan yang sekaligus adalah aktivis. Saat ini ia dipercaya menjadi ketua PERMATA (Perhimpunan Masyarakat Tani Aceh).

Sosok dari profil kita kali ini menarik untuk disimak bagaimana perjalanan hidupnya dari seorang petani yang menjadi korban, kemudian malah menjadi aktivis petani dan perempuan. Perjuangan ini tidak mudah karena harus berhadapan budaya, kekuasaan negara dan kapital.
Bahkan nyawa sering kali jadi taruhannya. Bagaimana ia mampu bertahan dalam visi misinya ini? Bagaimana sebagai aktivis ia bertahan hidup dalam kesehariannya? Dalam diri Munawiyah, kita bisa menemukan sebuah semangat radikalisme yang bergabung dengan kesederhanaan.

Berikut adalah cuplikan wawancara kami (H) dengan Munawiyah (M).
H : Sekarang profesi Muna apa?
M : Karena saya sudah sering di lapangan mengorganisir masyarakat, turun ke petani-petani yang korban, tidak mesti petani ya, masyarakat yang menjadi korban, yang menjauh di kita, ya…kita mendampingi mereka sejauh kemampuan saya.

[PIKIR] Neoliberalisme Ketika uang makin digdaya …

“… neo-liberalisme tidaklah alamiah ... bisnis dan pasar memang punya tempat, tetapi tempat itu tidak bisa menjajah seluruh ruang hidup keberadaan manusia…”
—Susan George, dalam A Short History of Neoliberalism
pada Conference on Economic Sovereignty in a Globalising World, Maret, 1999
Alkisah seorang perempuan karir bernama Yuni, asal Bandung, 29 tahun. Karena ingin selalu menjaga penampilannya, ia menuruti apapun kata iklan agar senantiasa tampil cantik, dengan membeli krim kulit yang mengandung vitamin E sebagai anti-ageing atau anti-penuaan karena sifatnya yang anti-oksidan sehingga kulit tetap halus dan shampoo yang juga diperkaya dengan vitamin E agar rambut makin subur. Sepanjang hari dan malam ia oleskan krim itu. Ia juga rajin keramas. Sebulan lebih, kulitnya tetap keriput di sini-sana, tak juga bertambah halus, dan rambutnya tetap kering serta tak subur. Ia pun ke dokter dan terpana mendengar jawaban jujur sang dokter itu: vitamin E, atau d-alfa tokoferol, hanya bisa diserap tubuh lewat pencernaan, bukan kulit, kulit kepala, apalagi rambut[1].
Kasihan Yuni. Demikian juga dengan ribuan atau jutaan Yuni yang lain di muka bumi ini.

[MASALAH KITA] Tulang rusuk yang hilang? Refleksi hidup bersama seorang aktivis

Kami, tidak pernah bercita-cita jadi aktivis, tapi melihat kondisi yang ada di sini, kami terpanggil untuk itu. Pada akhirnya, teman-teman jugalah yang menyandangkan gelar aktivis itu ke bahu kami”.
(Seorang aktivis mahasiswa, Bandung, 1999)
Kami baru menikah bulan Februari yang lalu, pada saat dunia merayakan hari kasih sayang. Sebuah perhelatan sederhana namun meriah di halaman rumah orangtua saya menandai mulainya status saya sebagai seorang istri. Namun tak hanya itu. Istri dari seorang aktivis. Usai hingar-bingar perhelatan, mulailah kami menapaki hidup. Kami tinggal di sebuah rumah kecil di pinggiran kota Solo yang uang mukanya saja (bukan kreditnya) dicicil 13 kali oleh suami saya. Maklum, namanya juga aktivis, walau sudah lulus S1 sejak 1994, mana bisa membayar uang muka sekian belas juta sekaligus. Rumah ini, ketika Bapak saya berkunjung, diberi sebutan mewah-mabur, artinya, mepet sawah, madhep kuburan (dekat sawah dan menghadap kuburan). Geli juga, tapi itu sebutan yang tepat.